News Breaking
Live
update

Breaking News

Nauru, Negara Terkecil Ketiga di Dunia Resmi Ganti Nama, Alasannya Gara-Gara Ini

Nauru, Negara Terkecil Ketiga di Dunia Resmi Ganti Nama, Alasannya Gara-Gara Ini



Perubahan nama dari Nauru menjadi Naoero disahkan melalui amendemen konstitusi. Pemerintah menyebut langkah tersebut sebagai upaya menghormati bahasa, warisan, dan identitas nasional.


WELLINGTON, tanjaxNews — Negara kepulauan Nauru resmi mengganti nama negaranya menjadi Republik Naoero. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengembalikan penggunaan nama yang dianggap lebih sesuai dengan bahasa, ejaan, pengucapan, serta identitas budaya masyarakat setempat.

Keputusan perubahan nama negara itu disahkan melalui amendemen konstitusi negara tetangga Papua Nugini tersebut. Amandemen mendapat persetujuan bulat parlemen pada Mei 2026. 

Presiden Naoero, David Adeang, kemudian mengumumkan bahwa nama baru tersebut telah resmi digunakan.

Perubahan ini sekaligus menandai upaya negara kepulauan kecil di Pasifik Selatan tersebut untuk memperkuat kembali identitas nasionalnya setelah puluhan tahun dikenal dunia dengan nama Nauru.

Mengutip Associated Press, Pemerintah Naoero sebelumnya menjelaskan bahwa istilah "Nauru" muncul karena orang asing mengalami kesulitan mengucapkan nama lokal Naoero. Nama yang selama ini digunakan secara internasional itu akhirnya dianggap lebih sebagai pilihan praktis daripada representasi langsung dari bahasa dan identitas masyarakat setempat.

"Perubahan yang diusulkan bertujuan untuk lebih menghormati warisan bangsa kita, bahasa kita, dan identitas kita," kata pemerintah dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial.

Presiden David Adeang juga menyampaikan alasan serupa ketika mengusulkan perubahan tersebut kepada parlemen.
Dari Nauru Menjadi Naoero
Nama baru negara tersebut membawa sejumlah perubahan administratif dan identitas internasional.

Kode negara yang sebelumnya menggunakan NRU akan diubah menjadi NRO. Sementara itu, penduduk negara tersebut akan disebut dei-Naoero, menggantikan istilah Nauruan yang selama ini lebih umum digunakan.

Dalam bahasa Inggris, nama Naoero juga memiliki variasi pengucapan bergantung pada aksen penuturnya. Nama tersebut umumnya diucapkan mendekati "Now-ero", berbeda dari pelafalan Nauru yang selama ini lazim digunakan secara internasional.

Pemerintah Naoero menyatakan perubahan nama tersebut juga telah disampaikan kepada sejumlah negara dan lembaga internasional.

Situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencatat negara tersebut dengan nama Naoero. Australia, Selandia Baru, serta sejumlah perwakilan diplomatik negara lain di kawasan Pasifik juga mulai menggunakan nama baru tersebut dalam sejumlah publikasi resmi mereka.
Perubahan itu nantinya juga akan berdampak pada sejumlah simbol dan identitas nasional, termasuk penyesuaian nama pada pesawat dan kapal milik negara.

Memiliki Sejarah Panjang

Naoero merupakan salah satu negara kepulauan terkecil di dunia. Negara tersebut dihuni sekitar 12.000 penduduk dan menempati posisi sebagai negara dengan jumlah penduduk terkecil ketiga di dunia, setelah Tuvalu dan Vatikan.



Masyarakat telah mendiami pulau tersebut selama ribuan tahun. Namun, pengaruh negara-negara Barat mulai masuk pada abad ke-18.

Dalam perjalanan sejarahnya, Naoero pernah berada di bawah pengaruh dan kekuasaan sejumlah negara, termasuk Jerman, Australia, dan Jepang. Setelah Perang Dunia II, wilayah tersebut berada di bawah administrasi Australia, Selandia Baru, dan Inggris Raya.

Naoero kemudian memperoleh kemerdekaan pada 1968 dan secara resmi menggunakan nama Republic of Nauru dalam bahasa Inggris berdasarkan konstitusinya.

Hampir enam dekade kemudian, negara tersebut memilih mengubah nama resminya menjadi Republic of Naoero.

Pernah Kaya karena Fosfat, Kini Terancam Perubahan Iklim

Di balik ukurannya yang kecil, Naoero memiliki sejarah ekonomi yang penuh gejolak.

Penambangan fosfat pernah menghasilkan kekayaan besar bagi negara tersebut, terutama pada dekade 1970-an. Namun, ketika cadangan dan industri fosfat mengalami kemerosotan, perekonomian Naoero ikut terdampak dan memasuki masa sulit pada dekade 1990-an.

Kini, tantangan lain menghadang. Naoero termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari berbagai sumber pendanaan dan investasi untuk mendukung pembangunan serta mempersiapkan relokasi masyarakat dan infrastruktur dari wilayah yang semakin terancam dampak perubahan iklim.

Bukan Negara Pertama yang Mengganti Nama

Dilansir dari The New York Times, Naoero bukan negara pertama yang mengubah nama resminya untuk menguatkan kembali identitas nasional.

Pada 2018, Swaziland di Afrika bagian selatan secara resmi mengubah namanya menjadi Eswatini, yang dinilai lebih mencerminkan identitas lokal.

Sementara itu, pada 2022, Turki meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa menggunakan nama Türkiye dalam komunikasi internasional, mengikuti ejaan dan penyebutan yang digunakan di dalam negeri.

Dalam sejarah modern, sejumlah negara juga pernah mengganti nama yang sebelumnya dikenal luas di dunia. Persia kini dikenal sebagai Iran, Siam menjadi Thailand, Burma menjadi Myanmar, Ceylon menjadi Sri Lanka, dan Gold Coast berubah menjadi Ghana.

Perubahan nama Nauru menjadi Naoero kini menambah daftar negara yang memilih kembali menggunakan identitas yang lebih dekat dengan bahasa dan sejarah lokalnya. (Oce)

Tags