Gravitasi Sosial
Oleh: All Amin
KISAH buah jatuh ke tanah, tak ada yang seterkenal jatuhnya apel dekat Isaac Newton. Peristiwa muasal lahirnya hukum gravitasi. Fondasi fisika klasik yang mendalilkan adanya gaya tarik-menarik di antara benda bermassa.
Menurut Newton, alam semesta bekerja seperti mekanisme mesin raksasa. Tiap benda bermassa memiliki gaya tarik. Makin besar massa benda itu, makin besar pula gaya tariknya. Gaya tarik menarik itu bekerja melintasi ruang yang kosong.
Kisaran dua abad setelah peristiwa apel jatuh Newton, terjadi pergeseran besar dalam cara manusia memandang alam semesta. Dari yang semula dilihat sebagai mesin yang tertib dan mekanistik, beralih menjadi semesta sebagai medan yang lentur dan dapat melengkung. Sebuah lompatan konseptual yang mengubah persepsi tentang gravitasi, dari yang sebelumnya dikira serupa magnet yang saling tarik, menjadi dimensi ruang dan waktu. Konseptor pengubah persepsi itu bernama Albert Einstein.
Newton mendefinisikan gravitasi sebagai tarik-menarik, sedangkan Einstein berteori akibat kelengkungan ruang-waktu. Newton berbicara tentang gaya. Einstein berbicara tentang geometri.
Meskipun kedua ilmuwan paling berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada abad modern itu berbeda pandangan tentang gravitasi, namun perbedaan tersebut tak mengubah satu fakta: benda bermassa kecil tetap mengorbit mengelilingi benda bermassa besar. Hukum alam ini tak hanya berlaku dalam fisika, tetapi juga dalam realitas sosiologi. Gravitasi sosial.
Polanya serupa: mengorbit pada individu yang bermassa besar. Berputar pada episentrum personal tersebut. Hukum Newton dan teori Einstein pun berlaku di sini.
Massa pada gravitasi sosial bukanlah kepadatan materi dalam satu benda, tapi banyaknya digit dalam rekening. Makin besar angkanya, makin besar pula daya tariknya.
Jua besaran kemampuan sosok tersebut melengkungkan dimensi aturan main. Semakin besar kelengkungan yang tercipta maka kemampuan gravitasinya pun makin dahsyat. Kemampuan sedotnya makin jauh. Serupa teori black hole. Lubang hitam; sebuah objek kosmik dengan gravitasi yang sangat luar biasa kuat sehingga apa pun tak bisa lepas darinya, bahkan cahaya sekalipun.
Tapi, keduanya tak sama, setidaknya dalam dua hal.
Tak sama dalam keteraturan.
Gravitasi dalam fisika bersifat konstan. Ia bekerja dalam keteraturan tingkat tinggi. Semuanya bisa diukur, dihitung, dan diprediksi. Keadaan itulah yang melahirkan beragam teknologi yang makin memudahkan hidup manusia: pesawat terbang, GPS, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, gravitasi sosial bersifat dinamis. Polanya terus berubah. Titik episentrumnya berpindah-pindah dengan cepat. Kadang bergerak liar, seringkali mengejutkan.
Tak sama dalam rentang waktu
Perubahan dalam gravitasi sosial cepatnya pakai amat, berbanding terbalik dengan hukum fisika bersifat kekal. Pergantian siang dan malam tak akan berubah, sampai datang hari kiamat.
Sedangkan pertukaran gaya tarik personal bisa berubah dalam satu malam. Hari ini boleh jadi seseorang sedang dikerubungi banyak orang. Sebab daya tarik, pun kelengkungan yang ia ciptakan besar. Namun, besok pagi ia temukan orang-orang yang mengelilinginya telah lenyap seketika. Itu lazim terjadi.
Daya tariknya tetiba hilang. Seringkali disebabkan oleh hal-hal kecil yang tak diperkirakan.
Atau semut-semutnya sudah berpindah pada tumpukan gula yang lebih banyak. Demikian realitas dalam gravitasi sosial. Unpredictable.
Dalam fisika, matahari tetap akan menjadi matahari selamanya. Bumi dan planet lain akan terus mengelilinginya. Sampai kapan pun.
Aturan ketetapan itu sama sekali tak berlaku dalam gravitasi sosial. Bisa saja tiba-tiba datang matahari baru yang memiliki daya tarik jauh lebih besar. Mengubah semuanya seketika.
Juga biasa terjadi balik arah, matahari dipaksa harus menjadi orbit bumi. Matahari mesti tawaf mengelilingi bumi. Pun planet lainnya. Pertukaran cepat itu sangat lazim. Waktu pindahnya bisa lebih pendek dari umur jagung.
Tak perlu teropong bintang canggih untuk menememukan fenoma alam seperti itu. Cukup sedikit melirik kiri kanan. Akan langsung bersua.
Bila untuk memahami gravitasi dalam fisika perlu pendefinisian dari ilmuwan sekaliber Isaac Newton dan Albert Einstein.
Tak perlu demikian untuk menafsirkan gravitasi sosial. Cukup dengan membandingkan kisah-kisah sejarah dengan pengamatan kondisi saat ini. Lalu tinggal bagimana memaknainya. Alam takambang jadi guru. (All Amin)
