News Breaking
Live
update

Breaking News

Sentot Alibasyah Prawirodirdjo: Pahlawan atau Pengkhianat?

Sentot Alibasyah Prawirodirdjo: Pahlawan atau Pengkhianat?



SENTOT Alibasyah namanya sering disebut bersama Pangeran Diponegoro tapi kisahnya hampir selalu berhenti di satu titik yang sama  "ia menyerah kepada Belanda". 
Dan dari situ, ia diberi label : Pengkhianat, Oportunis dan Pahlawan yang jatuh.

Tapi benarkah demikian?

Historiografi Sentot Alibasyah Prawirodirdjo pasca Perang Jawa tidak bisa dibaca secara linear. Ia bukan sekadar pengkhianat, seperti yang sering dibisikkan dalam narasi populer, juga bukan sekadar patriot murni tanpa cela. Ia adalah seorang pragmatis revolusioner yang sadar bahwa kekalahan bukan akhir perjuangan, dan bahwa kadang strategi untuk bertahan menuntut pengorbanan martabat jangka pendek demi ruang gerak masa depan.
Inilah kisah seorang pemuda yang pada usia 17 tahun sudah memimpin ribuan prajurit berkuda, membuat Belanda ketakutan selama bertahun-tahun, dan bahkan setelah "menyerah" pun tetap tidak pernah benar-benar berhenti berjuang.

LAHIR DARI DARAH DAN DENDAM
Anak dari Seorang Ayah yang Gugur Melawan Belanda

Sentot lahir dengan nama Raden Bagus Sentot di Istana Maospati, Madiun, pada tahun 1808. Ia adalah putra dari Raden Ronggo Prawirodirdjo III, wedana bupati Madiun, dan Nyimas Ageng Genosari.
Sejak sebelum ia bisa berjalan, nasib telah mengukir luka dalam jiwanya. Ayahnya, Raden Ronggo Prawirodirdjo III, adalah seorang pejuang yang bernyali besar dan karena nyalinya itulah ia harus membayar mahal. Ronggo dibunuh setelah ia melakukan pemberontakan pada tahun 1810 melawan pemerintahan kolonial Herman Willem Daendels.

Sentot kehilangan ayahnya ketika ia masih bayi. Namun warisan sang ayah bara perlawanan terhadap penjajahan tidak ikut padam. Ia tumbuh dan membara dalam darah seorang anak yang tahu: ayahnya gugur bukan karena pengecut, tapi karena terlalu berani.

Garis Darah yang Menyambung dengan Diponegoro

Sentot Alibasah Abdul Mustofa Prawirodirdjo merupakan putra dari Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati-Wadono Montjonegoro Timur dengan salah seorang selir. Ibu dari Raden Ronggo Prawirodirdjo adalah puteri Hamengku Buwono I. Jadi, sama seperti Pangeran Diponegoro, Sentot adalah buyut dari Sultan Hamengku Buwono I. Dalam istilah Jawa, hubungan Sentot dengan Diponegoro disebut dua misan. 

Dua orang misan. Dua buyut yang sama. Dua jiwa yang lahir dari akar yang sama dan kelak berjuang bersama dalam perang yang sama.

Bukan Santri, tapi Jenius Perang

Yang membuat kisah Sentot begitu luar biasa adalah kenyataan yang hampir paradoks: Awalnya, Diponegoro hendak mendidik Sentot menjadi santri. Namun, Sentot tampaknya memang tidak berminat. Ia juga tidak bisa membaca dan menulis. "Sentot tidak bisa membaca maupun menulis dan sejak kecil telah menunjukan rasa malas yang sengit terhadap maksud Diponegoro untuk mendidik Basah ini agar menjadi 'ulama'," tulis Justus Heinrich Knoerle dalam jurnalnya seperti dikutip Peter Carey.
Ia buta huruf. Ia bukan santri. Ia tidak bisa membaca surat perintah, apalagi menulis strategi di atas kertas.

Namun apa yang dimiliki Sentot jauh melampaui kemampuan membaca dan menulis : kecerdasan medan tempur yang hampir seperti naluri binatang buas,  tahu kapan menyerang, kapan mundur, kapan menghilang, dan kapan muncul kembali untuk mematikan.

PANGLIMA TERMUDA YANG MENGGUNCANG BELANDA

Ketika pemberontakan Diponegoro meletus pada 1825, Prawirodirdjo yang baru berusia 17 tahun langsung bergabung dengan pasukan pemberontak. Dalam Perang Jawa yang menyusul, ia awalnya menjadi komandan kavaleri, dan mendapat nama samaran "Sentot" dari bahasa Jawa yang berarti "melesat" atau "terbang".

Gelar Ali Basya atau Alibasyah yang diambil dari struktur tentara Turki Utsmani diberikan oleh Pangeran Diponegoro untuk menggambarkan pangkat panglima komandan. Pada usia yang seharusnya masih belajar di pesantren, Sentot sudah menyandang gelar tertinggi dalam hierarki militer Diponegoro.

Memimpin Seribu Pasukan Gerilya Berkuda

Inilah gambaran pasukan Sentot yang membuat Belanda bergidik : Sentot memiliki pasukan khusus gerilya berkuda sejumlah 1.000 orang yang semuanya bersorban. Pasukan Sentot tak ada yang infantri. Semua kavaleri berkuda dengan keutamaan serangan kilat, cepat, dan mematikan.

Bayangkan pemandangan itu : seribu penunggang kuda bersorban putih, menyerbu dari balik hutan Jawa dengan kecepatan badai. Tidak ada formasi kaku. Tidak ada perhitungan birokrasi militer. Yang ada hanya kecepatan, keberanian, dan kecerdikan pemimpin muda mereka.
Ia mengembangkan taktik menyamarkan pasukan berkudanya di balik pagar bambu untuk mengepung kolom-kolom pasukan Belanda. Sebuah inovasi perang gerilya yang brilian dengan menggunakan lanskap agraris Jawa sendiri sebagai senjata.

Kemenangan demi Kemenangan

Sepanjang awal dan pertengahan 1826, Sentot dan Diponegoro meraih serangkaian kemenangan atas Belanda, termasuk di Lengkong, Kejiwan, dan Delanggu.

Kemudian babak paling gemilang tiba : Sentot menghancurkan Pasukan Gerak Cepat ke-8 pimpinan Mayor H.P. Buschkens di Kroya, Bagelen Timur, pada awal Oktober 1828.
Sebuah kolom pasukan Belanda dengan senjata modern, logistik terorganisir, dan pelatihan profesional dihancurkan total oleh pemuda 20 tahun yang tidak bisa membaca dan menulis.

Ditakuti Bahkan oleh Lawan

Musuh terbesar seorang pahlawan sejati adalah pengakuan dari musuhnya sendiri. Dan Sentot mendapatkannya.
Kepandaiannya dalam perang gerilya membuat Sentot tak hanya dihormati oleh pasukannya melainkan juga oleh pasukan Belanda. Ia diakui sebagai musuh yang tangguh.

Komandan Belanda yang mengalami serangan-serangannya memuji kemampuan komando tempur Sentot, dengan H.J.J.L. de Stuers menggambarkannya sebagai "pemuda yang berapi-api dan dalam segala hal seorang Jawa yang brilian... yang tahu bagaimana membuka jalannya sendiri berkat energi dan kecerdasannya".
Dan dari catatan militer Belanda sendiri: "Jika Sentot mundur, kemunduran ini terjadi dengan teratur dan kebijaksanaan; tentaranya disebar, sehingga susah menyusulnya dan kerap kali berbahaya, oleh karena tak dapat dipastikan apakah pelarian itu tipu atau tidak; tentara yang memburunya yang formasinya tak tertutup lagi, bisalah menjadi korban!"

DILEMA YANG MEMECAH HATI

Diangkat Menjadi Panglima Tertinggi

Pada Agustus 1828, Gusti Basah, salah satu panglima Diponegoro, gugur dalam peperangan. Sebelum meninggal, ia meminta kepada Diponegoro agar yang menggantikannya adalah Sentot. Diponegoro menyetujuinya.
Namun justru di sinilah masalah mulai muncul. Sentot yang buta huruf itu kewalahan dengan keuangan pasukan dan laporan-laporan yang mengalir, serta menjadi lambat dalam bereaksi terhadap gerakan Belanda. Dalam satu kasus, hal ini menyebabkan kekalahan pasukan di Pertempuran Nanggulon.

Seorang jenius medan perang belum tentu jenius administrasi. Sentot adalah contoh sempurna dari paradoks itu.

Kelaparan dan Keruntuhan Logistik

Satu-satunya panglima perang Pangeran Diponegoro yang tak terkalahkan hanyalah Sentot. Tetapi sebenarnya kondisi pasukan Sentot sendiri mengkhawatirkan — kekurangan bahan makanan dan logistik perang.

Sebuah pasukan yang tidak pernah kalah di medan tempur, perlahan dikalahkan oleh kelaparan.

Menyerah Tapi dengan Syarat Bermartabat

Pada 16 Oktober 1829, setelah kekalahan besar di Pertempuran Siluk, Sentot akhirnya menyerahkan diri kepada Belanda. Namun cara ia menyerah mencerminkan siapa dirinya:

Hasil dari perundingan: Sentot dan pasukannya dipersenjatai dengan 500 pucuk senapan. Sentot dan pasukannya tetap memeluk Agama Islam dengan tetap menggunakan sorban serta diizinkan tidak minum minuman memabukkan dalam acara perjamuan yang diselenggarakan oleh Belanda. 

Ia menyerah  tapi tidak menjual iman dan identitasnya. Bahkan dalam posisi kalah sekalipun, ia menetapkan syarat yang memproteksi nilai-nilai yang selama ini ia perjuangkan.

PERANG DI DALAM PERANG — SIASAT TERSEMBUNYI DI MINANGKABAU

Setelah menyerah, Belanda tidak memenjarakannya  justru mereka mempekerjakan Sentot. Mantan Panglima Perang Diponegoro itu diangkat menjadi Letnan Kolonel tentara kolonial Belanda, sebuah fakta sejarah yang menjadi kontroversi hingga hari ini, sebagian mencatat namanya sebagai pengkhianat namun sebagian yang lain lebih memilih menjulukinya sebagai seorang pragmatis revolusioner.

Di tahun 1830 saat Perang Jawa berakhir, Belanda melakukan serangan kepada kaum Padri. Adapun salah satu strategi Belanda memenangi Perang Padri adalah mengajak serta Sentot Ali bersama dengan prajuritnya. Belanda mengira mereka mendapat seorang alat. Tapi yang mereka dapat adalah seorang ahli siasat yang tengah menjalankan strateginya.

Bersekutu Diam-diam dengan Imam Bonjol

Di Minangkabau, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dalam Verslag van den Luitenant Kolonel Elout (1833), terungkap bahwa Sentot, yang saat itu menyandang nama Islam Mohamad Ali Bassa, menjalin komunikasi intensif dengan para ulama Minangkabau. Ia bahkan berjanji akan membantu mereka mendirikan kekuasaan Islam jika kemerdekaan tidak tercapai dalam dua tahun.

Sentot malah melakukan siasat kerja sama dengan Imam Bonjol dan pasukannya, dengan cara mensuplai kebutuhan logistik serta mengajak pasukan yang dibawa dari Jawa untuk bersatu.
Dalam berbagai pengakuan tokoh lokal, Sentot mulai disebut sebagai "Radja Djawa, Sultan Alam" judul yang menunjukkan niatnya membentuk pusat kekuasaan baru. Ia mengambil baiat dari para pemimpin penghulu dan ulama tarekat di Minangkabau, menyusun skenario perlawanan baru, dan menyimpan bara jihad yang belum padam.

Seorang "tawanan" yang dikirim untuk menumpas perlawanan diam-diam justru bergabung dengan perlawanan itu. Inilah Sentot yang sesungguhnya.

Ketahuan dan Kembali Diasingkan

Rupanya siasat Sentot ini diketahui Belanda melalui anak buahnya yang tidak ikut berkhianat. Bahkan Belanda mengetahui perjanjian Sentot dengan para Imam yang isinya akan membantu mengusir penjajah dari tanah Melayu.

Karena kecurigaan tersebut, pada Maret 1833, Sentot ditarik kembali ke Batavia dan kemudian diasingkan ke Bengkulu pada Agustus 1833. Sebelum menjalani pengasingan, ia diizinkan menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Sebelum menuju tanah pengasingan terakhirnya, ia pergi dulu ke Baitullah. Ke hadapan Allah. Mungkin untuk bersujud, berdoa, dan memohon kekuatan menghadapi apa yang menanti.

BENGKULU — PENGASINGAN YANG MENJADI WARISAN

Dalam pembuangan di Bengkulu, Sentot banyak mengajarkan ilmu dan kaidah-kaidah agama kepada masyarakat Bengkulu. 
Seperti Kyai Mojo yang membangun peradaban di Tondano, Sentot pun tidak berdiam diri di tanah pembuangannya. Ia mengajar. Ia berdakwah. Ia terus menanam benih bukan lagi benih perang, tapi benih ilmu.

Wafat di Tanah Pembuangan

Ia wafat dalam pengasingan pada 17 April 1855, dalam usia 47 tahun. Sejarah mencatat, ia tidak kembali mengangkat senjata, namun juga tak pernah sepenuhnya tunduk. Dalam diam, ia tetap menyimpan dendam dan harapan tentang kebangkitan bangsanya. 

Makam Sentot Alibasyah dibangun secara istimewa disebabkan beliau termasuk tokoh yang disegani oleh masyarakat Bengkulu. Bangunan Makam Sentot Alibasyah terletak di kompleks pemakaman umum yang dikelilingi pagar tembok dan berpintu besi.

Ia tidak dimakamkan di Madiun, tanah kelahirannya. Tidak di Yogyakarta, tempat ia pernah berjaya. Tapi di Bengkulu jauh dari semua yang pernah ia kenal. Persis seperti Diponegoro yang dimakamkan di Makassar.

Dua misan. Dua pangeran perlawanan. Dua pengasingan. Dua makam di tanah asing. Satu akhir perjuangan yang sama.

MEMBACA SENTOT DENGAN LENSA YANG LEBIH BIJAK

Sentot Alibasyah Prawirodirdjo adalah tokoh yang mustahil dipahami dalam dikotomi hitam-putih antara "pejuang" dan "pengkhianat". Ia adalah produk dari zaman yang kacau, dunia yang dipenuhi ambiguitas moral, serta medan pertempuran yang terus bergeser.

Ia mengajarkan kita bahwa sejarah tidak selalu dramatis dan jernih. Kadang pahlawan terpaksa mengenakan seragam musuh untuk tetap bertahan hidup. Kadang perlawanan harus bergerak dalam senyap, bukan dalam teriakan. Kadang keberanian bukan tentang mati di medan perang tapi tentang tetap menjaga nyala api di dalam dada, bahkan ketika tubuh sudah berada di dalam penjara.

Ia bukan penghianat. Ia bukan pula pahlawan murni. Ia adalah manusia sejarah dengan segala kompleksitas, luka, dan keagungan yang tak bisa diringkas dalam satu kata.

FAKTA-FAKTA PENTING SENTOT ALIBASYAH

✦ Lahir tahun 1808 di Maospati, Madiun — putra Raden Ronggo Prawirodirdjo III yang gugur melawan Belanda.

✦ Bergabung dengan pasukan Diponegoro di usia 17 tahun; memiliki hubungan darah misan dengan sang pangeran.

✦ Tidak bisa membaca dan menulis — namun menjadi salah satu ahli strategi gerilya paling brilian dalam sejarah Nusantara.
✦ Memimpin pasukan khusus kavaleri 1.000 orang bersorban satu-satunya pasukan Diponegoro yang seluruhnya berkuda. 
✦ Satu-satunya panglima perang Pangeran Diponegoro yang tak pernah terkalahkan di medan pertempuran.
✦ Menghancurkan total kolom pasukan Belanda di bawah Mayor Buschkens di Kroya, Oktober 1828.
✦ Selama perang, delapan kuda yang ditungganginya tewas tertembak — membuktikan betapa kerasnya pertempuran yang ia hadapi.
✦ Menyerah kepada Belanda pada 16 Oktober 1829 dengan syarat pasukannya tetap mengenakan sorban dan memeluk Islam.
✦ Di Minangkabau, diam-diam bersekutu dengan Imam Bonjol untuk melawan Belanda dibuktikan dalam dokumen *Verslag van den Luitenant Kolonel Elout* (1833).
✦ Diasingkan ke Bengkulu tahun 1833; menunaikan haji sebelum berangkat ke pengasingan.
✦ Mengajarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat Bengkulu selama pengasingan.
✦ Wafat 17 April 1855 di Bengkulu dimakamkan di sana, kini menjadi Cagar Budaya Nasional.

AFIRMASI POSITIF

-  Kecerdasan bukan hanya soal bisa membaca dan menulis. Ada kecerdasan yang tidak diajarkan di sekolah manapun dan itulah yang mengubah sejarah.
-  Ketika terpaksa berdiri di sisi musuh, yang menentukan siapa kamu sebenarnya bukan seragam yang kamu kenakan melainkan bara yang kamu jaga di dalam dadamu.
-  Menyerah secara taktis bukan berarti menyerah secara prinsip. Kadang mundur adalah langkah paling berani yang bisa diambil seorang pejuang.
-  Tidak semua pahlawan dimakamkan di tanah kelahirannya. Tapi semua pahlawan sejati dimakamkan dalam kenangan abadi mereka yang memahami sejarah.
-  Jangan hakimi seseorang dari satu keputusannya saja. Baca seluruh hidupnya — baru kamu akan mengerti siapa dia sesungguhnya.

#PerangJawa #SentotAlibasya #PanglimaMuda #PangeranDiponegoro #SejarahNusantara

REFERENSI PUSTAKA

-  Carey, Peter. "Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785–1855." Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014. (Sumber primer biografi Diponegoro dan kisah Sentot, termasuk catatan Knoerle)
-  Soekanto. "Sentot Alibasyah Prawirodirdjo." (Biografi khusus Sentot; dikutip dalam Historia.id sebagai sumber primer).
-   De Klerck, E.S. "De Java-oorlog van 1825–1830." (Catatan militer Belanda; sumber pujian atas kemampuan gerilya Sentot)
-  Kirana, Adora. "Sejarah Ringkas Perang Jawa: Kisah Kepahlawanan Pangeran Diponegoro." (Sumber nama dan identitas Sentot)
-  Indiana Malia. "Sejarah Ringkas Perang Padri: Kisah Kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol." (Sumber keterlibatan Sentot dalam Perang Padri)


Dikutip sepenuhnya dari tulisan di akun FB Tamam Gaffas berjudul: 
Sentot Alibasyah Prawirodirdjo
Panglima Termuda Perang Jawa Yang Tak Pernah Benar-benar Kalah

Tags