Pertempuran Persepsi
Oleh: All Amin
Perang sudah bak pertandingan sepak bola. Dijadikan objek taruhan. Ada platform yang menyediakan bursa taruhannya.
Kemarin, ketika Amerika mengebom Iran, ada yang menang taruhan. Nilainya mencapai 27 miliar rupiah.
Kini nilai taruhan untuk topik: Ledakan nuklir pada 2027 telah hampir senilai 100 ribu dolar Amerika.
Begitulah realitas zaman. Perang tak lagi dilihat sebagai tragedi kemanusiaan. Perang juga dipandang sebagai komoditas.
Jua pemberitaan tentang perang, ia merupakan bagian dari perang itu sendiri. Dalam sepanjang sejarah, perang dan propaganda memang tak terpisah.
Dulu, informasi tentang perang datang terlambat. Peristiwa di satu kawasan, jauh dari pengamatan publik. Dunia seringkali hanya bisa mengetahui hasil akhir. Setelah semuanya usai.
Kini di era media modern, perang hadir secara real-time di depan mata warga dunia. Media menyajikan perang seperti setingan drama. Setiap serangan, setiap pidato pemimpin, dan setiap perkembangan di medan tempur langsung disiarkan, dianalisis, dan diperdebatkan. Publik mengikuti pertempuran seperti mengikuti rangkaian serial cerita.
Karena itu, perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata. Ia juga ditentukan oleh siapa yang mampu membentuk persepsi publik: siapa yang dianggap benar, siapa yang dilabeli sebagai agresor, dan siapa yang layak mendapat dukungan.
Perang berlangsung di dua medan sekaligus: medan tempur fisik dan medan persepsi. Senjata menentukan apa yang terjadi di lapangan. Sedangkan narasi menentukan bagaimana dunia menafsirkannya.
Pemberitaan tentang perang telah menjadi raksasa industri. Konflik yang berlangsung, mendatangkan keuntungan besar, yang dinikmati oleh para produsen narasi dan pemilik mesin propaganda.
Sementara itu, korban perang kerap kalah dua kali. Pertama, mereka menjadi korban dari peperangan yang nyata. Kedua, mereka menjadi korban dari eksploitasi pemberitaan.
Dalam perang, peluru menghancurkan fisik, dan narasi dapat menghancurkan kebenaran, pun membangun kebenaran baru.
Menelaah propaganda seringkali tidak tepat jika menggunakan kacamata kuda. Ia harus dilihat dari beragam perspektif, dengan mengaktifkan mode critical thinking.
Perang, sejatinya harus dipandang sebagai tragedi kemanusiaan, yang mengangakan luka dan menyuburkan embrio dendam.
Para pemimpin negara-negara besar yang hari ini menentukan arah pergerakan dunia rata-rata telah berusia sekitar 70 tahun. Bayang-bayang tragedi besar Perang Dunia kedua dekat dengan mereka. Generasi yang tumbuh dalam atmosfer Perang Dingin, ketika dunia dibelah oleh rivalitas ideologi dan kekuatan militer.
Residu sejarah itu mengendap dalam cara pandang mereka terhadap dunia: bagaimana memaknai ancaman, membaca kekuatan, dan bagaimana menyikapi konflik.
Jika menengok perjalanan panjang peradaban, hampir semua peperangan pada akhirnya bermuara pada dua hal: politik dan perebutan kekuasaan. Selebihnya hanyalah tambahan cita rasa.
Pun agama kerap dibawa-bawa, agar perang tampak mulia. Padahal Islam datang membawa ajaran rahmatan lil ‘alamin. Rahmat bagi seluruh alam.
Agama bukan untuk menyuburkan permusuhan, melainkan untuk menumbuhkan kemaslahatan bagi semesta. Selamat menunaikan ibadah puasa. (All Amin)


