News Breaking
Live
update

Breaking News

Mochammad Idjon Djanbi, Komandan Pertama Pasukan Elit Baret Merah

Mochammad Idjon Djanbi, Komandan Pertama Pasukan Elit Baret Merah



NAMANYA, konon amat keramat di kalangan pasukan baret merah Indonesia. Ia seorang bule Belanda. Komandan pertama pasukan elit tersebut.

Nama pemberian ayahnya adalah Rokus Bernardus Visser. Belanda asli. Berkarir di kemiliteran dan pernah menjabat  komandan sekolah terjun payung Belanda. Visser juga anggota pasukan elite Belanda, sebagai prajurit komando Belanda selama Perang Dunia II, perwira Korps Speciale Troepen. 

Tapi segalanya berubah saat dia berada di tanah jajahan negaranya. Ia justru berubah pikiran, bersimpati pada perjuangan Indonesia hingga akhirnya mengganti kewarganegaraan menjadi WNI. Ia bahkan mengganti namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi, masuk Islam, dan menikahi gadis asal Yogyakarta.  

Sejarah mencatat dia sebagai Letnan Kolonel (Purn.) Mochammad Idjon Djanbi (lahir di Boskoop, Belanda 13 Mei 1914 –  wafat di Yogyakarta 1 April 1977).

Bagaimana ceritanya Idjon Djanbi menjadi WNI dan bisa menjadi pelatih utama sekaligus komandan pertama pasukan elite TNI-AD yang kini bernama #Kopassus? 

Awalnya, anak petani bunga tulip ini selepas menyelesaikan kuliahnya, Visser membantu ayahnya yang beralih berjualan bola lampu di London. Ketika itu perang dunia kedua dimulai dan karena tidak bisa pulang ke Belanda yang dikuasai oleh Jerman, Visser mendaftar pada dinas ketentaraan Belanda yang mengungsi ke Britania. Setelah itu dia ditugaskan menjadi sopir Ratu Wilhelmina.

Visser lalu digabungkan dengan pasukan Sekutu yang lain dan melakukan operasi pendaratan amfibi di Walcheren, sebuah kawasan pantai di Belanda bagian selatan.

Karena dianggap berprestasi maka dia disekolahkan di Sekolah Perwira sebelum dikirim ke Asia. Selanjutnya Viser dikirimkan ke Sekolah Pasukan Para di India sebagai persiapan bergabung dengan pasukan untuk memukul kekuatan Jepang di Indonesia.

Ia pernah ditugaskan membangun sekolah pasukan terjun payung di Jakarta dan di Papua 1946.

Dengan segala kondisi yang ada Visser ternyata menyukai hidup di Asia sehingga dia meminta istrinya (wanita Inggris yang dinikahinya semasa perang dunia II) dan keempat anaknya untuk ikut dengannya ke Indonesia. Ketika istrinya menolak, Visser memilih untuk bercerai. Saat kembali ke Indonesia pada 1947,

Ketika kekuasaan Belanda di Indonesia berakhir, Visser memutuskan berhenti dari dinas militer dan menjadi orang sipil. 

Akhirnya dia menetapkan keputusannya untuk tinggal di Indonesia dan menjadi WNI, pindah ke Bandung, bertani bunga di Pacet, Lembang, memeluk agama Islam, menikahi kekasihnya dan mengubah namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi.

Kembali ke cerita awal mula didirikannya Kopassus (awalnya Kopassus masih bernama Kesko TT) pasukan elit #TNI.
Ide membangun pasukan khusus awalnya datang dari Kolonel Alexander Evert (AE) Kawilarang bersama almarhum Brigjen Anumerta Slamet Riyadi. Indonesia, menurut Kawilarang, harus punya pasukan khusus.

Apalagi saat itu, di Jawa Barat muncul gangguan kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bergerilya dan menjadi masalah besar. Kawilarang yang menjadi Panglima Siliwangi ketika itu, teringat idenya bersama Slamet Riyadi.

Dalam autobiografinya, "AE Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih" (1989), Kawilarang menulis: “Untuk melawan gerakan-gerakan gerombolan yang mobile itu, saya perhitungkan, perlu dibentuk suatu kesatuan yang terlatih bertempur, secara kesatuan kecil sampai dengan dua orang saja dan all round. Dan itu harus diciptakan, diadakan."

Untuk membentuk pasukan elit itu harus ada pelatih yang mumpuni. Maka pilihan Kolonel AE Kawilarang jatuh pada Mochammad Idjon Djanbi yang saat itu tinggal di Lembang, dekat dengan markas Divisi Siliwangi. 

Sekitar 1952, AE Kawilarang memanggil laki-laki yang usianya lima tahun lebih tua darinya itu. Laki-laki bule tersebut datang dengan pakaian khaki drill ala tentara pula. Kawilarang menjelaskan niatnya untuk membentuk satu kompi pasukan komando.

Kawilarang meminta Idjon Djanbi untuk membentuk pasukan komando. Pasukan kecil yang tangguh, tangkas dan mampu bertempur di segala medan.
Kawilarang meminta Idjon sudi untuk menjadi pelatih. 

Permintaan itu disambut dengan jawaban "iya". Idjon pun aktif menjadi TNI dengan menyandang pangkat Mayor.

Ketika diminta memimpin dan membentuk Kesatuan Komando tahun 1952, bukan perkara yang mudah. Tak ada sumber daya manusia, peralatan dan dukungan dana. Tetapi pelan-pelan Idjon Djanbi mampu mewujudkan sebuah pasukan komando yang handal dengan cucuran keringat dan tetesan darah.

Mantan prajurit komando Belanda inilah yang pertama kali mengasah mental dan fisik anggota TNI-AD terpilih untuk  dilatih menjadi prajurit tangguh berkualifikasi komando. 

Ternyata tak semua suka kepadanya. Walau sudah masuk Islam, menjadi Warga Negara Indonesia dan menjadi perwira TNI, tetap saja Idjon dianggap sebagai orang Belanda. 

Periode 1950an, sentimen itu memang tinggi. Apalagi Idjon Djanbi diangkat menjadi Mayor (Pangkat yang cukup tinggi kala itu). Desas-desus Idjon Djanbi adalah mata-mata Belanda kerap dihembuskan sejumlah perwira yang iri. Inisial MID, Mochammad Idjon Djanbi sering dicap sebagai singkatan dari dengan Militaire Inlichtingendienst, dinas intelijen militer Belanda.

"MID, itu katanya singkatan dari intelijen Belanda. Sering ada bisik-bisik itu dulu. Tapi saya tak percaya, banyak teman-teman juga tak percaya. Kalau yang muda-muda memang banyak yang percaya lalu jadi berbeda terhadap Pak Idjon," kata Pak Nadi, seorang pensiunan pasukan elite didikan Idjon seperti dikutip merdekadotcom.

Soal tudingan mata-mata ini juga digambarkan dalam Dalam buku Inside Indonesia's Special Forces yang ditulis Ken Conboy. Salah satu perwira muda yang tak menyukai Idjon Djanbi adalah Letnan LB Moerdani (kelak Panglima ABRI), yang baru lulus sekolah jadi instruktur. Benny mencurigai komandannya itu sebagai mata-mata. Tuduhan itupun tentu saja tidak bisa di buktikan.

Saat itu sejumlah pemimpin militer setuju melucuti kewenangan Idjon Djanbi, termasuk mengurangi porsi dalam melatih Kopassus. Namun, rencana tersebut tak dapat terlaksana karena belum ada calon yang kuat untuk menggantikan Idjon Djanbi sebagai Komandan Kopassus.

Setelah beberapa lama Idjon Djanbi melatih di Kopassus, sebanyak 44 siswa dari 80 orang dinyatakan lulus, Benny Moerdani salah satu di antaranya. Meski dinyatakan lulus, bukan berarti penolakan mereka terhadap Idjon Djanbi telah padam.

Pada 25 Juli 1955, KKAD berganti nama menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat atau RPKAD. Setahun kemudian, kekuatan RPKAD meningkat berkali lipat. RPKAD menerima 126 siswa sebagai tambahan kekuatan.

Saat itulah kader senior #RPKAD mengusulkan agar komandan diganti menjadi pribumi. Para petinggi militer di Jakarta setuju dengan usulan tersebut.

Singkat cerita, pada tahun 1956, setelah hal ini dilaporkan ke pimpinan TNI, untuk meredam situasi, Mayor Mochammad Idjon Djanbi ditarik oleh Kolonel Sukanda Bratamenggala menjadi staf Inspektorat Infanteri, dan posisinya digantikan oleh Wakilnya Mayor RE Djailani. 

Idjon Djanbi ditawari jabatan yang jauh dari pelatihan komando, Ia tersinggung dan memilih untuk pensiun. Idjon Djanbi yang tidak betah dalam posisi administrasi memutuskan "berhenti", dan lalu bekerja di bidang perkebunan dalam status anggota TNI yang dikaryakan. 

Dia tahu dirinya disingkirkan, Idjon Djanbi marah. Harga dirinya sebagai perwira terusik. Dia keluar dari TNI dan dari kesatuan yang sangat dicintainya. Padahal sudah susah payah membangun pasukan komando kebanggaan Siliwangi itu benar-benar dari nol.

"Saya pribadi yakin Pak Idjon bukan mata-mata Belanda. Dulu dia sudah memilih keluar dari tentara Belanda dan memihak TNI. Dia juga sudah jadi petani bunga di lembang ketika bertemu Pak Kawilarang," kata Pak Nadi.

Pada tahun 1969 pada saat ulang tahun RPKAD, Mayor Inf. Mochammad Idjon Djanbi diberi kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel. Ia wafat pada tanggal 1 April 1977 pada usia 62 tahun dan di makamkan di TPU Pracimalaya, Kuncen, #Yogyakarta.

Kariernya sebagai tentara dengan sederet prestasi berakhir tidak mengenakan. Akhir kariernya tak secemerlang pasukan yang kini dikenal sebagai salah satu pasukan elite terbaik dunia. (Oce Satria)

#militer 
#sejarahtni
Sumber: 
Sepgio Ramos Garcia, Merdekacom, Wikipedia, Museum Kopassus, dll.

Tags