News Breaking
Live
update

Breaking News

Turun ke Jalan, Kaum Muda Eropa Marah Akibat Tingginya Biaya Hidup

Turun ke Jalan, Kaum Muda Eropa Marah Akibat Tingginya Biaya Hidup



PARIS, tanjaxNews -- Aksi demonstasi besar-besaran terjadi di sejumlah kota di beberapa negara Eropa dalam sebulan terakhir. Kaum muda di negara-negara seperti Italia, Albania, Spanyol dan Perancis melangsungkan protes atas kondisi ekonomi yang buruk, tingginya biaya hidup dan fasilitas pendidikan yang buruk.

Kerusuhan di seluruh Prancis meningkat pada akhir pekan, di mana pihak berwenang memperkirakan bahwa lebih dari setengah juta orang turun ke jalan karena kondisi sekolah yang buruk dan meningkatnya biaya hidup.

Melansir dari bbc.com yang bernasis di London melaporkan, beberapa aksi protes berubah menjadi kerusuhan, dengan perkiraan 1.500 toko dan bisnis dijarah dan dihancurkan.

Pada pertengahan September, para siswa di Paris mulai melakukan protes terkait standar pendidikan, seperti bangunan sekolah yang bobrok dan kekurangan guru.

Ketidakpuasan itu menyebar ke kota-kota lain di Prancis dan sebagian di antaranya berubah menjadi kekerasan. Pada tanggal 5 Oktober, seorang anak laki-laki berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan saat terjadi bentrokan antara polisi dan demonstran.

Ratusan ribu orang dari berbagai lapisan masyarakat Prancis, termasuk guru, pensiunan, dan serikat pekerja, telah ikut serta dalam demonstrasi, yang sebagian besar berlangsung damai.




Sebelumnya di Milan, Italia juga terjadi demo besar-besaran. bentrokan antara demonstran dan polisi di Milan pada akhir pekan lalu.

Lebih dari 5.000 orang berkumpul untuk memprotes kenaikan biaya hidup.

Lebih dari 200 orang ditahan, 80% di antaranya adalah anak di bawah umur, lapor Ansa.

Kantor kejaksaan kota telah meminta hukuman penjara bagi lima orang dewasa yang ditangkap karena penjarahan, vandalisme, dan melawan penangkapan, menurut kantor berita Italia AGI.

Media Italia melaporkan bahwa sejumlah orang - termasuk petugas polisi - mengalami luka-luka.

Kekerasan antara demonstran dan polisi juga menyebar ke kota-kota lain di utara.

Sementara di Albania, para demonstran turun ke jalan di pusat kota Tirana pada hari Sabtu untuk hari kelima berturut-turut.

Para pengunjuk rasa bermasker, yang sebagian besar adalah siswa sekolah menengah dan universitas, melemparkan batu dan bom molotov ke arah polisi anti huru hara yang berusaha mempertahankan kementerian pendidikan, salah satu titik fokus protes tersebut.

Aksi protes yang dimulai pada musim panas telah berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas , dengan seruan agar perdana menteri mengundurkan diri menyusul tuduhan korupsi yang terkait dengan pemerintahannya.



Penjarahan di Paris

"Beberapa kota di Prancis telah diberi wewenang untuk menerapkan jam malam parsial guna melindungi masyarakat dan toko-toko dari aksi penjarahan efek dari demonstrasi," kata Perdana Menteri Sébastien Lecornu.

Hal ini terjadi setelah akhir pekan yang diwarnai kerusuhan dan penjarahan. Lecornu mengatakan, "Kita tidak akan didikte dan diperintah oleh para perusak , oleh para pencuri, oleh para preman."

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan polisi telah kehilangan kendali. Kepala Kamar Dagang dan Industri Prancis mengatakan 2.000 bisnis terkena dampak langsung dari demonstrasi tersebut.

Nuñez - yang tawaran pengunduran dirinya ditolak oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron - mengatakan, ada kurangnya antisipasi dari para petugas.

Kerusuhan dimulai bulan lalu dengan para siswa yang memprotes kondisi sekolah, tetapi sejak itu meningkat hingga mencakup berbagai masalah yang lebih luas.

Lecornu menuduh gerakan tersebut dipimpin oleh "kelompok radikal ultra-kiri" yang berharap untuk menciptakan kekacauan sebelum pemilihan presiden Prancis 2027.

Lebih dari setengah juta orang turun ke jalan pada Sabtu-Minggu (17-18/10/2026), lebih dari 350 penangkapan dilakukan di Paris saja, dengan setidaknya lima toko dijarah.

Lebih dari 2.000 bisnis terkena dampak langsung dari kekerasan akhir pekan lalu, kata kepala Kamar Dagang dan Industri Prancis (CCI).

Alain Di Crescenzo mengatakan kepada stasiun televisi RTL bahwa kerusakan akibat kerusuhan diperkirakan mencapai ratusan juta euro.

CCI menyebut kekerasan itu tidak dapat diterima dan mengatakan sedang dalam proses menyiapkan dukungan untuk bisnis yang terkena dampak.



Respon Oposisi

Calon presiden Prancis, Jean-Luc Mélenchon, menyerukan agar Perdana Menteri Prancis membuktikan tuduhannya bahwa kelompok radikal ultra-kiri mengatur kerusuhan baru-baru ini di Prancis.

Sébastien Lecornu mengklaim dalam konferensi pers sebelumnya bahwa kelompok-kelompok tersebut ingin menciptakan kekacauan di negara kita hingga pemilihan presiden.

Mélenchon, yang merupakan kandidat presiden dari partai sayap kiri La France Insoumise, menambahkan bahwa jika Lecornu tidak dapat membuktikan tuduhannya. "Maka dia harus meminta maaf, diam, dan berhenti memicu kekacauan, kecamnya.

Dia menambahkan bahwa dia belum pernah mendengar siapa pun membicarakan hal ini, baik secara pribadi maupun di depan umum.

Aksi protes di Prancis berlangsung di tengah suasana politik yang tegang, dengan Mélenchon akan menghadapi Marine Le Pen dari sayap kanan garis keras dalam pemilihan presiden tahun depan. (Oce)

Foto-foto: Reuters, Gretty Image, BBC

Tags

Baca juga
artkel menarik lainnya.
Lainnya
Posting Lama