Pendar Desentralisasi
Oleh: All Amin
Sedari dulu, di antara upaya melepas dahaga pengetahuan, selain membaca, saya hobi mendengar seminar. Berbayar, pun gratisan. Khidmat menyimak tuturan orang-orang pintar.
Pernah, Prof. Rhenald Kasali dalam kata pengantar di sebuah seminar bisnis mengungkapkan, "Orang yang tinggal di Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota besar di Pulau Jawa akan berbeda pandangannya melihat Indonesia, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di luar Pulau Jawa."
Seketika, terlintas padanan kalimat dari guru dan mentor bisnis beberapa tahun sebelumnya.
"All, ikuik jo Ambo ka Jakarta. Kalau kita sukses di Padang, jangkauan kita hanya seputaran Sumatra Barat. Ketika kita bisa sukses di Jakarta, berarti kita bisa sukses di seluruh Indonesia. Kalau kita bisa hidup di Singapura, berarti kita bisa hidup di Asia Tenggara. Bila hendak menaklukkan dunia, maka kita harus pindah ke Amerika."
Belum sempurna mulut beliau mengatup, saya merespons setengah kecepatan kilat, "Siap, Pak!"
Kekira begitu dan dialog aslinya semua dalam bahasa Minang.
Namun, teori kerap bersua dengan masa kedaluwarsanya, ketika realitas berubah, teori pun mesti kembali diuji.
Sekira dua dasawarsa silam saya mengamini teori yang dipaparkan oleh Prof. Rhenald dan petuah Sang Guru seraya menjadikannya sebagai pedoman.
Tanpa bermaksud mengontraskan pemikiran dengan Sang Guru. Saat ini saya mencermati sepertinya teori terkait episentrum aktivitas perekonomian itu mulai meluruh dimakan waktu.
Perkembangan pengetahuan selalu menjadi pemantik lompatan peradaban.
Mulai dari apa yang dikenal dengan Revolusi Industri pertama. Dipicu oleh penemuan mesin uap, lalu mampu mengubah satu negara dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Kereta kuda menjadi kereta api.
Perubahannya terus mengalir jauh, lebih jauh dari aliran Bengawan Solo. Muncul kelas buruh, lahir kapitalisme, pun antitesisnya: sosialisme dan komunisme.
Kini sudah Revolusi Industri generasi keempat. Eranya internet dan kecerdasan buatan. Salah satu model perubahan yang dibawa era ini adalah desentralisasi ekonomi. Dampak dari konektivitas. Ketika satu tempat sudah saling terhubung dengan tempat lainnya, peta jalur konvensional yang telah berlangsung lama pun berubah.
Desentralisasi itulah yang meluruhkan separuh relevansi teori tadi. Bahwa harus berada pada pusaran aktivitas ekonomi, iya. Tapi kini titik-titik pusaran itu telah berpendar. Pecah, berderai ke mana-mana, menciptakan simpul-simpul baru.
Analoginya serupa kita membuka talang air di ujung atap rumah. Ketika ada talang, air hujan dialirkan ke satu titik, hingga volumenya terpusat. Bila ingin menampung air, tinggal menaruh ember di ujung alirannya.
Kini, talang itu telah lepas. Maka air hujan mengalir di sepanjang atap. Pecah di banyak tempat.
Pada masa ke depan, sepertinya tak mesti lagi Jakarta, atau Pulau Jawa. Akan bermunculan titik-titik baru. Muncul, tumbuh, dan membesar.
Pun Singapura.
Dalam model seperti itu, bisnis di tengah; broker, perantara, dan mereka yang mempertemukan sumber barang dengan pengguna akhir, akan semakin tergilas oleh koneksi langsung.
Dalam bentuk mikro, bisnis percaloan sudah termakan teknologi. Pemilik barang tak butuh lagi perantara.
Pun dalam rupa negara.
Agar terdengar seperti orang pintar, saya berhipotesis bahwa di antara profesi yang akan tergilas oleh revolusi industri 4.0 adalah: tukang kantau.
Moga-moga tulisan ini tak sampai terbaca oleh guru dan mentor bisnis saya. Agar beliau tak tahu, bahwa saya mulai berani berpendapat: ada teorinya yang mungkin sudah termakan zaman.
Sebab, walau kerap berada dalam klaster murid yang rada bangor, saya tetap tak pernah benar-benar berani menyanggah guru.
Eh, ada deng. Sekali saja.
Waktu sekolah dulu, saya pernah melihat nilai matematika di rapor. Angkanya mencurigakan.
Saya langsung mencari guru matematikanya. Dengan pede setengah dewa, saya sampaikan: pasti nilainya tertukar. Tertukar dengan abjad nama yang berdekatan.
Nama saya: ALL. Bersebelahan dengan: ALI. Rupanya benar.
Buah dari salah input nilai itu, saya jadi sering dijajanin oleh Bu Guru matematika itu.
Selain pernah dijajanin guru, saya pernah juga. Tapi sstt... ini cerita kita-kita saja, ya.
Saya dulu tuh juga sering berbagi rokok dengan guru.
Waktu STM, ada Pak Guru saya yang nyambi jadi sopir angkot, dan saya, sambil sekolah, nyambi jadi kenek bis kota. Jadi, kami sering satu tongkrongan.
Penganalogian desentralisasi ekonomi dengan talang air mungkin sekenanya. Kurang pas. Sebab saya tak begitu pandai merangkai perumpamaan.
Pun pada mulanya saya tak begitu yakin dengan teori desentralisasi ekonomi itu. Serupa ketika membaca prediksi bahwa koran cetak akan hilang, belasan tahun silam.
Selaku pelanggan koran, saya merasa itu hil yang mustahal.
Pikiran saya kala itu: bila koran sudah tak ada, apa lagi yang akan dikerjakan para pegawai kantor pemerintahan?
Biasanya, tiap datang mengurus sesuatu pagi-pagi, selalu saya temukan pegawai yang sedang santai membaca koran.
Ternyata benar. Hari ini, nyaris tak ada lagi koran cetak.
Nasi Padang berbungkus daun pisang, berlapis koran, tinggal kenangan.
Sepertinya, untuk mencermati bagaimana desentralisasi berproses, kita bisa melihatnya dari transformasi industri media komunikasi.
Pada 1980-an, TVRI merupakan episentrum tunggal.
Satu stasiun televisi. Satu sumber informasi. Satu pusat produksi dan distribusi tontonan, dipancarkan ke berbagai penjuru Indonesia dari Jakarta.
Acara serupa ditonton jutaan orang pada waktu bersamaan.
Awal 1990-an, televisi swasta mulai bermunculan. RCTI, SCTV, TPI, dan lainnya. Monopoli pecah.
Dari satu episentrum menjadi beberapa. Penonton mulai punya pilihan. Stasiun televisi mulai berebut perhatian. Pusatnya mulai berpendar.
Kemudian datang internet.
Media masuk ke dunia maya. Mula-mula sekadar memindahkan isi koran ke internet. Tetapi teknologi selalu bergerak melampaui bentuk awalnya.
Internet kemudian mengubah cara orang memproduksi, mendistribusikan, dan mengonsumsi informasi.
Lalu datang media sosial.
Facebook. YouTube. Twitter. Instagram. Kemudian TikTok.
Perubahannya semakin jauh. Dulu, untuk menjadi penyiar, membutuhkan stasiun televisi. Untuk menjadi penerbit, membutuhkan mesin cetak. Untuk menjadi media, membutuhkan organisasi.
Sekarang?
Cukup sebuah telepon genggam.
Bisa merekam. Bisa menulis. Bisa menyiarkan. Bisa membangun audiens. Bahkan bisa menjual.
Episentrum tidak lagi sekadar berpindah dari TVRI ke televisi swasta, atau dari koran ke portal berita.
Telah pecah menjadi jutaan titik.
Setiap akun bisa menjadi titik distribusi, bisa memiliki audiens sendiri. Audiensnya lintas wilayah, bahkan lintas negara.
Pembuat konten bisa berada di sebuah pelosok kampung, tetapi ia bisa mengakses dunia.
Konektivitas mengubah makna jarak.
Dulu, untuk menjangkau pasar, perlu mendekati pusat. Kini, yang diperlukan adalah kemampuan untuk terhubung.
Teknologi telah mengubah peta geografi ekonomi.
Siapa pun yang mampu membangun koneksi dapat menciptakan pusatnya sendiri.
Pola serupa juga sedang terjadi di ranah lain. Konektivitas membentuk desentralisasi.
Sekarang, bila ada sebuah kawasan yang memiliki sumber daya yang bisa diaktivasi menjadi mesin penggerak ekonomi, ia berpotensi menjadi episentrum baru.
Pusat aktivitas ekonomi baru.
Polanya seperti membangun kanal YouTube. Bisa menciptakan subscriber-nya dan pasarnya sendiri. (All Amin)

