News Breaking
Live
update

Breaking News

Jurnalis dan Budayawan Riau Edy Ahmad RM Wafat, Ini Jejak Sang Penyair Kritis

Jurnalis dan Budayawan Riau Edy Ahmad RM Wafat, Ini Jejak Sang Penyair Kritis

Edy Ahmad RM. (tncm/generate)


PEKANBARU, tanjaxNews – Dunia kebudayaan dan kesusastraan Riau kehilangan salah seorang penyair yang dikenal lantang menyuarakan kritik sosial. Edy Ahmad RM, jurnalis senior, budayawan, seniman, sekaligus anggota DPRD Provinsi Riau periode 2004–2009, meninggal dunia di Rumah Sakit Awal Bros Panam, Pekanbaru, Senin (12/10/2026) malam, dalam usia 58 tahun.

Penyair yang juga dikenal dengan nama Eddy RM atau Edi RM itu mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 23.40 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, ia meninggal dunia setelah mengalami henti jantung ketika menjalani perawatan medis.

Kepergian Edy meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat, dan kalangan seniman di Riau. Selama perjalanan hidupnya, ia dikenal melalui beragam kiprah, mulai dari kesenian dan kebudayaan, aktivitas sosial, hingga politik praktis.

Namun, di antara berbagai peran tersebut, dunia kepenyairan menjadi salah satu ruang penting yang merekam cara Edy memandang masyarakat, kekuasaan, dan ketimpangan sosial.

Puisi sebagai Ruang Perlawanan

Edy RM bukan penyair yang memilih jalan sunyi untuk sekadar merangkai keindahan kata. Dalam karya-karyanya, ia menghadirkan puisi sebagai medium untuk mempertanyakan keadaan, menyentil penguasa, sekaligus menyuarakan kegelisahan terhadap persoalan sosial.

Salah satu karyanya yang dikenal ialah Penat Tak Sudah Jadi Melayu. Melalui sajak tersebut, Edy menyoroti realitas kehidupan masyarakat Melayu beserta berbagai paradoks yang menyertainya. Identitas dan kebanggaan kultural, dalam pandangan kritis semacam ini, menjadi bahan perenungan ketika berhadapan dengan kenyataan sosial.

Ia juga dikenal melalui karya Di Mana Riau, Kepada Anies Baswedan, yang mengangkat persoalan ketimpangan daerah. Kritik semacam itu memperlihatkan perhatian Edy terhadap posisi Riau dalam hubungan dengan pemerintah pusat, termasuk persoalan keadilan dan distribusi perhatian pembangunan.

Bagi Edy, puisi tidak semata-mata menjadi ekspresi personal penyair. Kata-kata juga dapat menjadi alat untuk mengungkap kegelisahan masyarakat dan mempertanyakan keadaan yang dianggap tidak adil.

Karakter kepenyairan semacam itu membuat karya-karyanya memiliki warna tersendiri dalam lanskap sastra Riau. Ia memilih diksi dan sudut pandang yang provokatif untuk memancing pembaca melihat persoalan dari sisi yang berbeda.

Reformasi Pelacur dan Kritik terhadap Kekuasaan

Salah satu karya penting Edy RM ialah buku kumpulan puisi Reformasi Pelacur, yang terbit pada 2001.

Buku tersebut merekam kritik sosial terhadap praktik kekuasaan dan berbagai persoalan yang mengemuka setelah reformasi. Melalui judul yang sengaja mengundang kontroversi, Edy menggunakan metafora untuk menyampaikan kegelisahan tentang integritas, moralitas, dan keadilan.

Dalam tradisi satire, pemilihan istilah yang provokatif dapat menjadi cara untuk membalikkan sudut pandang pembaca. Sesuatu yang selama ini dianggap berada di pinggir masyarakat justru dihadirkan sebagai cermin untuk melihat perilaku mereka yang berada di pusat kekuasaan.

Kecenderungan itu juga terlihat dalam keberpihakan Edy terhadap kelompok marjinal. Ia menggunakan pendekatan yang tidak selalu nyaman bagi pembaca untuk mengajak masyarakat mempertanyakan batas-batas kepantasan, kemunafikan sosial, dan perilaku elite.

Julukan kontroversial yang melekat pada dirinya, termasuk sebutan "Presiden Pelacur", menjadi bagian dari citra kepenyairannya yang provokatif. Namun, untuk memahami posisi Edy dalam dunia sastra, perhatian perlu diarahkan pada konteks satire, pilihan artistik, dan kritik sosial yang mendasari karya-karyanya.

Julukan "Presiden Pelacur" disematkan kepada Eddy RM) karena gerakan advokasi kemanusiaan yang dipimpinnya serta karya sastra yang ia tulis.

Gelar kontroversial tersebut melekat pada dirinya karena dua alasan utama: Pertama, perlawanannya terhadap penggusuran lokalisasi Taleju (1999–2000).

Pada akhir tahun 1990-an, Pemerintah Kota Pekanbaru berencana menggusur lokalisasi Teleju (Taleju). Edy RM maju sebagai penggerak garis depan untuk menolak penggusuran tersebut.

Perlawanan yang dilakukan Edy RM bukan didasari oleh keinginan untuk melegalkan prostitusi, melainkan bentuk pembelaan hak kemanusiaan dan keadilan bagi para Pekerja Seks Komersial (PSK).

Ia menyoroti inkonsistensi pemerintah daerah yang membangun infrastruktur resmi (seperti RT/RW dan sekolah) serta memungut administrasi kependudukan (KTP) dari warga di sana, namun tiba-thiba ingin menggusurnya tanpa memberikan solusi atau jaminan kesejahteraan yang jelas bagi mereka. Akibat pembelaannya yang begitu vokal terhadap para pekerja seks di sana, ia dijuluki oleh masyarakat sebagai "Presiden Pelacur".

Kedua, Buku Puisi "Reformasi Pelacur".
Di tengah dinamika pergerakan tersebut, Edy RM menuangkan kritik sosialnya ke dalam karya sastra berbentuk buku kumpulan puisi bertajuk Reformasi Pelacur yang diterbitkan oleh Yayasan Riau ke Depan pada tahun 2001. Karya tersebut memperkuat metafora dan identitas kepenyairannya dalam membicarakan realitas kaum marginal di Riau

Puisi-puisi Edy memperlihatkan bahwa kesusastraan dapat menjadi ruang untuk menyampaikan protes. Penyair tidak harus selalu berdiri di luar persoalan masyarakat; ia dapat masuk ke dalamnya, menyuarakan kegelisahan, dan menghadirkan pertanyaan yang mungkin enggan diajukan secara terbuka.

Dari Panggung Sastra ke Gedung DPRD

Lahir di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, pada 12 April 1968, Edy RM menjalani kehidupan dengan beragam peran di tengah masyarakat Riau.

Selain dikenal sebagai budayawan dan seniman, ia pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Riau periode 2004–2009. Ketika itu, ia maju melalui Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) dan berafiliasi dengan Fraksi PBR Plus untuk daerah pemilihan Kabupaten Siak dan Pelalawan.

Pengalaman sebagai legislator menempatkan Edy dalam ruang politik yang selama ini kerap menjadi objek kritik dalam karya-karyanya. Ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan masyarakat melalui kata-kata, tetapi juga pernah terlibat langsung dalam proses politik dan pengambilan keputusan di tingkat daerah.

Sikap kritisnya turut membentuk pengenalannya sebagai tokoh masyarakat. Ia disebut berani menyuarakan aspirasi warga dalam dinamika sosial dan politik Riau.

Pada 2022, Edy juga pernah bergabung dengan Partai Demokrat.

Perjalanan tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupannya. Di satu sisi, ia dikenal sebagai penyair yang menggunakan satire untuk mengkritik kekuasaan. Di sisi lain, ia pernah menjadi bagian dari lembaga politik yang menjalankan fungsi perwakilan rakyat.

Perpaduan pengalaman kesenian dan politik itu menjadi bagian dari perjalanan hidup Edy yang tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat Riau.

Ia juga dikenal sebagai jurnalis senior. Ia adalah mantan wartawan harian Neraca dan Forum News Network (FNN).

Dimakamkan di Pekanbaru

Setelah meninggal dunia pada Senin malam, jenazah Edy RM disemayamkan di kediamannya di Jalan Karyawan, RW 08, RT 03, Pekanbaru.

Jenazah dijadwalkan dimakamkan pada Selasa (13/10/2026), menjelang siang, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Kartama, Pekanbaru.

Edy meninggalkan seorang istri, Emylia Ahmad, serta empat anak yang terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan.

Kepergiannya menutup perjalanan hidup seorang budayawan yang pernah menapaki panggung sastra, ruang sosial, dan lembaga politik. Namun, karya-karyanya tetap menjadi bagian dari jejak yang ditinggalkannya bagi dunia kebudayaan Riau.

Di tengah masyarakat yang terus berubah, puisi-puisi Edy RM mengingatkan bahwa sastra memiliki ruang untuk menyampaikan kegelisahan, menggugat ketimpangan, dan mempertanyakan kekuasaan. Warisan itulah yang membuat kepergiannya turut menjadi kehilangan bagi kehidupan kesusastraan Riau. (Oce)

Tags