Pakiah Sutan
Oleh: All Amin
Saya pas kebagian jaga stan pameran. Aplusan dengan istri. Tampak seorang pria setengah tua berdiri di dekat rak brosur.
Raut wajahnya tenang, sederhana, jauh dari kesan wah, menyandang tas dari bahan kain, dan pakai sendal. Dalam pameran megah, wajar orang acuh dengan pengunjung begitu.
Intuisi sales saya melihatnya beda. Roman seperti ini, jamak bersua di ruangan nasabah prioritas bank. Biasa tiba bercelana pendek, sendal jepit, dan menenteng kresek. Sekresek penuh uang.
Ia menoleh ketika saya menyamperi. Mungkin sebab pernah belajar cara membuka komunikasi dengan orang baru, saya berhasil menyilakan pria tua itu duduk di dalam stan.
Memang di pameran itu dagangan saya beda sendiri. Seluruh stan memamerkan kopi. Saya bawa daunnya. Tak lazim.
Sebab tak lazim itulah, Atase Perdagangan yang jadi penanggung jawab dan penyortir peserta sampai datang khusus mengecek.
Setelah bersua dan bercerita di warung nasi padang, sebab sesama orang Minangkabau dengan Pak Atdag, selesailah urusan. Teh daun kopi jadi diajak ikut pameran ke mana-mana.
Bahkan menjadi produk hibrid. Pameran kopi ikut. Acara komunitas teh pun diterima. Bisa main dua kaki.
Kembali ke Pak Tua, ketika disuguhi secangkir teh daun kopi hangat ia manggut-manggut. Namun, rasa penasaran saya belum terobati, sebab belum tahu siapa gerangan.
Lalu saya ambil kartu nama, sebagai cara halus bertanya identitas. Pak Tua pun mengeluarkan kartu nama.
Kali ini naluri salesman saya tepat, saya berusaha agar tak tampak kaget ketika membaca namanya: Soedomo Mergonoto.
Jadinya cukup lama kami mengobrol, topik yang paling panjang adalah ketika Pak Tua bercerita bagaimana ia dulu menjual kopi ke pelabuhan dengan sepeda ontel, dan berkisah mengapa kopinya diberi nama Kapal Api.
Selama mengobrol saya sedikit pun tak merasa sedang berhadapan dengan pemilik pabrik kopi terbesar di Asia Tenggara.
Begitulah, di antara filosofi kopi, berkelindan antara nikmat kopi dan memori yang mengelilinginya.
Sejak dulu, kopi identik dengan cerita. Tentang mereka yang memetik dan mengolahnya, para pedagang yang membawanya melintasi benua, hingga mereka yang menikmatinya dengan canda dan tawa.
Secangkir kopi tak pernah benar-benar hanya berisi kopi. Ada kisah di dalamnya, juga ada getir yang nyaris terlupakan.
Kolonialisme di Nusantara menjadikan kopi sebagai mesin pencetak uang, untuk membiayai perang dan membayar utang kerajaan.
Kerajaan Belanda sudah nyaris bangkrut karena menghadapi dua perang besar secara bersamaan: Perang Jawa dan Perang Padri.
Untuk mengisi kekosongan kas kerajaan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Johannes van den Bosch, melaksanakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa).
Penduduk pribumi dipaksa menanam sejumlah komoditas bernilai tinggi di pasar internasional, sementara hasil panen mereka dibeli dengan harga sangat murah. Komoditas utamanya adalah kopi.
Kerajaan Pagaruyung runtuh, Perang Padri usai, Ranah Minangkabau dikuasai oleh Pemerintah Kolonial. Pemerintahan yang dinaturalisasi.
Bumi Minangkabau berganti nama menjadi Padangsche Bovenlanden, lalu berubah menjadi Sumatra's Westkust. Intinya, menjadi bagian dari wilayah administratif Batavia. Secara alur, mirip Jakarta sekaranglah.
Minangkabau pun tak luput dari politik tanam paksa. Kopi ditanam penduduk lokal, bijinya diambil Pemerintah Kolonial, diekspor atas nama mereka, keuntungan yang sangat besar dipakai untuk membangun negeri mereka.
Sampai utangnya lunas, bahkan menghasilkan surplus kisaran 30 kali lipat dari total utang kerajaan kala itu.
Politik tanam paksa berlangsung sekitar 30 tahun. Itu artinya, pada tahun-tahun awal saja mereka sudah mencapai target; sisa tahun berikutnya memeras daerah jajahan untuk menyejahterakan yang menjajah.
Ilustrasi itulah yang ditulis Multatuli dalam novelnya, Max Havelaar. Sebuah novel yang mengguncang Eropa dan menjadi salah satu jalan menuju berhentinya tanam paksa.
Selama tanam paksa, penduduk pribumi dapat apa?
Itulah: teh daun kopi.
Tak rotan, akar pun jadi. Tak kopi, daun pun jadi.
Saling bertukar kisah getir yang menjadikan obrolan lama dengan Soedomo Mergonoto.
Pakiah Sutan, sisi anomali realitas pada masa tanam paksa di Ranah Minangkabau.
Bagian dari langkah pemerintah kolonial untuk mendapatkan hasil kopi yang berkualitas agar bisa terjual mahal, maka ekosistemnya mereka tata dengan baik.
Mulai dari proses tanam sampai kirim. Salah satu gudang tempat pengepul kopi (Koffiepakhuis) berada di Nagari Alahan Panjang, guna menampung kopi yang berasal dari dataran tinggi di sekitarnya sebelum dibawa ke Pelabuhan Teluk Bayur sekarang.
Di setiap koffiepakhuis ditunjuk seorang mantri kopi (Koffiemantri) atau, kalau sekarang, seorang QC. Mungkin setara Q Grader bersertifikat.
Koffiemantri merupakan profesi bergengsi saat itu, diambil dari orang pribumi dan mendapatkan gaji yang besar.
Pakiah Sutan seorang Koffiemantri di Koffiepakhuis Alahan Panjang yang tercatat dalam ekspedisi Belanda, Ekspedisi Midden-Sumatra.
Pakiah Sutan merupakan satu dari sedikit penduduk pribumi yang beruntung kala itu, yang berkesempatan menyeruput kopi enak. Orang pribumi yang tahu rasa minuman Eropa. (All Amin)
