Maulid dalam Sejarah
Oleh: All Amin
Hari ini 25 Agustus 2026. Bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Rasul yang menjadi uswatun hasanahnya umat muslim.
Perlukah maulid nabi diperingati, praktik bid'ahkah itu?
Saya enggan masuk ke ranah sensitif itu. Berisiko.
Namun, saya memilih bersepakat dengan pendapat bahwa belajar sejarah itu amatlah penting.
Sejarah tak semata tentang mengetahui masa lalu. Tapi, terkait dengan pemahaman tentang hari ini, dan melihat gambaran masa depan.
Ketiganya merupakan satu rangkaian. Bila satu tak ada, atau mendekati nol, maka yang dua pun demikian, akan mendekati nol. Begitu logikanya.
Sejarah Rasulullah bila diklaster, secara garis besar dapat dibagi dua. Masa prakenabian dan setelah beliau diangkat menjadi Rasul.
Pecahan dari masa prakenabian: nasab, kanak-kanak ke remaja, dan masa jadi pengusaha.
Setelah menjadi Rasul terbagi dalam dua fase: Makkah 13 tahun dan Madinah 10 tahun.
Seluruh rangkaian sejarah itu terhimpun dalam sebuah judul: Sirah Nabawiah. Kini, dengan kemajuan teknologi telah banyak sumber bisa diakses untuk mempelajarinya, tak lagi mesti berlelah lelah membaca buku-bukunya yang setebal bantal.
Di antara hikmah mempelajari sirah nabawiah guna memahami bagaimana proses perubahan peradaban di Jazirah Arab sebelum kelahiran Rasulullah, hingga bertransformasi menjadi peradaban Islam yang, setelah terbentuknya Madinah, berkembang menjadi salah satu peradaban terbesar dan paling berpengaruh di dunia selama lebih dari seribu tiga ratus tahun.
Perubahan peradaban yang kokoh bukanlah perubahan yang memutus sejarah, melainkan transformasi yang berakar pada sejarah dan mengembangkannya dalam bentuk baru.
____________
Jakarta merupakan salah satu contoh kota yang berpijak pada sejarah panjang.
Jauh sebelum kedatangan Portugis pada tahun 1522, Sunda Kelapa telah menjadi pelabuhan penting Kerajaan Sunda. Letaknya yang strategis menjadikannya pusat perdagangan internasional.
Pada tahun 1527, Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari pengaruh Portugis dan mengubah namanya menjadi Jayakarta.
Pergantian itu menandai perubahan kekuasaan dan identitas, tapi tidak menghapus fungsi strategis kawasannya sebagai pusat perdagangan.
Beberapa dekade kemudian, pada tahun 1619, VOC merebut Jayakarta lalu mengubah namanya menjadi Batavia. Fungsinya tetap sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan kolonial Belanda di Nusantara.
Setelah Indonesia merdeka, Batavia berubah menjadi Jakarta. Jika sebelumnya menjadi pusat kekuasaan kolonial, Jakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia, sekaligus berkembang sebagai pusat ekonomi, politik, dan kebudayaan nasional.
Sejak Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia hingga Jakarta, terlihat bahwa setiap peradaban bertransformasi bukan dengan memutus masa lalu, ia tetap mengakar pada rangkaian sejarah.
Saya sama sekali belum tahu tentang bagaimana pijakan sejarah pendirian Ibu Kota Nusantara (IKN). Belum kebeli bukunya.
___________
Saat ini, jargon perubahan seolah menjadi komoditas unggulan dalam perdagangan persepsi.
Sayangnya, gagasan perubahan yang dimaksud sering kali tak diurai secara rinci: mana yang diubah, dan mana yang tetap. Mana yang fitur, mana yang esensial. Jangan sampai mengubah fondasi.
Perubahan tanpa pijakan sejarah yang kokoh, selain mustahal dikerjakan, biasanya juga ringkih. Banyak fakta sejarah yang membuktikannya.
Pun logika pertumbuhan di alam mengisyaratkan demikian. Bahasa matematika menggambarkannya, antara lain, melalui Deret Fibonacci: angka sesudahnya merupakan penjumlahan dari dua angka sebelumnya. Terus demikian. Runtut dan alamiah.
Sejarah peradaban Islam yang bermula dari kelahiran Muhammad Saw, hingga beliau wafat pada usia 63 tahun, dan pencerahan itu sampai kepada kita saat ini, pun memiliki persamaan model: runtut dan alamiah.
Bila saat ini ada yang tetiba membawa gagasan perubahan namun ia tak berpijak pada sejarah yang kokoh, saya agak sungkan untuk berkomentar.
________________

