News Breaking
Live
update

Breaking News

Sambal Botol

Sambal Botol



Oleh: All Amin

Sempat jua saya diliputi kegundahan. Namun semangat empat lima kembali menyala, terbawa uap nasi putih panas, berlimpah sambal di atasnya. Saat makan siang bercorak nusantara. Menatap (hanya) merah putih tersaji di piring.

Merujuk sejarah, peradaban selalu digerakkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Penemuan teknologi baru. Masyur istilah revolusi industri, mulai dari yang pertama, kini sudah yang keempat. Mungkin jua kelima.

Tiap kali tiba yang baru, akan menyisihkan yang ada. Relevansi langsung bertukar, yang ada tetiba terasa usang.

Ketika penemuan mesin uap mengawali era industrialisasi, ia mengubah banyak hal; cara barang diproduksi, tatanan sosial masyarakat, bahkan negara, sampai peradaban global. Politik dan ekonomi. Evolusi sosial itu akan terus bergerak dari masa ke masa. Tak berhenti.

Kegundahan menyusup, ketika teringat bagaimana dulu berkeringatnya belajar supaya bisa menulis. Sungguh-sungguh belajar.

Berguru pada dosen bahasa, mulai dari teknik dasar: struktur kalimat, kata baku, dan segala macam.

Di antara yang masih terang dalam pikiran ketika Sang Guru menerangkan di papan tulis tentang kata "keluar" sebagai lawan kata masuk, dan "ke luar" sebagai lawan kata ke dalam.



Kini, setiap kali terasa mau keluar, saya diam dulu sejenak. Sembari berpikir, ini lawan; masuk atau ke dalam.

Jua diajarkan bagaimana menempatkan “di”. Dipeluk, dicium, dan ditampar sama-sama mesti digabung. Namun, bila di tempat umum atau di antara orang banyak, harus dipisah.

Ketika merajut kata demi kata, teringat satire Rosihan Anwar: “Jangan menulis seperti ketiak ular.”

Rutin menelaah rangkaian kalimat para maestro penyaji narasi dengan cita rasa kata yang menggugah: Jakob Oetama, Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer, Dahlan Iskan, dan Tere Liye.

Pemantik kegundahan itu adalah kecanggihan yang disediakan zaman: mesin telah bisa berpikir. Kini siapa pun dapat menulis dalam hitungan kurang dari semenit. Rasa sia-sia waktu yang berlalu beberapa musim.

Begitulah perubahan, ia melahap apa saja tanpa ampun.

Sekarang, para Gen-Z hanya tinggal mendengar cerita, bahwa papa mereka dulu, mendekati mamanya sering harus antre di depan telepon umum dengan mengantongi beberapa koin seratusan.

Tempat paling favorit adalah ruangan wartel seukuran toilet. Berjam-jam duduk di situ, sambil menikmati angin surga yang mengalir dari putaran kipas di loteng.

Lalu tiba tsunami ponsel, hingga tak tersisa lagi dari wartel, kecuali nostalgia yang tertinggal di dalamnya.

Namun, tak sampai dua dasawarsa, ponsel pun dikalahkan oleh yang lebih cerdas. Stephen Elop, CEO Nokia, pernah berkata: “Kami tidak melakukan kesalahan, tapi entah bagaimana, kami kalah.”

Kecerdasan buatan menjadi teknologi yang akan mengubah arus sejarah peradaban berikutnya. Entah ke arah mana.

Kemarin saya dikirimi artikel dari New York Times yang telah disulihbahasakan, tentang runtuhnya karier Generasi X di Amerika. Mereka yang berada hampir di puncak karier, tiba-tiba ilmunya menjadi usang, tak lagi relevan dengan zaman.

Ketika nasi putih hangat dan sambal menyentuh indera pengecap, ia menyalakan sinyal di kepala. Ops, personalisasi (sementara) belum tergantikan.

Terbayang deskripsi detail cita rasa kopi spesialti yang dijelaskan oleh seorang pencicip bersertifikat. Untuk menjelaskan sambal serupa itu, saya tak mampu.

Menulis seumpama kopi itu. Ada sentuhan rasa yang mesin sepertinya belum tiba di sana.

Sambal bikinan tangan itu personal. Olahan mesin itu produk massal: Sambal botol. (All Amin)

Tags