Lamang Saujuang Jari
Oleh: All Amin
Disengaja. Judulnya menggunakan bahasa Minang. Sebab arahnya memang mau bercerita tentang potongan penganan menarik dari Minangkabau. Lemang Seujung Jari.
Beberapa hari lalu dapat telfon dari tetua di kampung. Disuruh datang ke rumah.
Sebab kami tinggal tak berjauhan, selesai Isya saya langsung meluncur. Naik sepeda motor.
Sampai di sana disuguhi lemang hangat. Nah, ini dia. Makanan pelepas rindu. Tak menanti lama, potongan-potongan lemang itu lenyap dari atas piring. Ludes.
Sudah kali kedua saya dapat menikmati lemang khas Nagari Alahan Panjang di perantauan. Dalam jeda waktu yang tak terlalu lama.
Kisaran enam bulan silam pun demikian. Pas ada keperluan kontak-kontakan dengan saudara di kampung. Lalu cerita kian kemari, tak sengaja sampai ke topik lemang. Tak berselang sepekan setelah itu: pucuk dicinta lemang tiba. Rupanya kini, lemang telah tersedia walau tak dalam suasana lebaran.
Malamang. Proses memasak lemang merupakan bagian dari warisan tradisi di Minangkabau.
Kebersamaan, bergotong royong, saling berbagi, dan simbol kemapanan ekonomi saling berkelindan dalam proses itu. Tradisi malamang biasanya dilaksanakan ketika akan menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Bagi anak minang nan gedang di rantau seperti saya, dapat menikmati lemang dari kampung, rasanya sesuatu banget. Momen itu seketika dapat menghidupkan memori masa lalu.
Ketika menerima paket enam bulan silam, lemangnya sudah tak lagi dikirim pakai bambu.
Tapi sudah dalam plastik transparan divakum yang tertera tanggal kedaluwarsanya. Lemang tradisional yang sudah dalam sentuhan modernitas.
Ketika menghangatkannya kembali di atas panci pengukus nasi, suasana dapur seperti berubah ke akhir tahun 80-an.
Jejeran kitchen set tetiba membayang serupa selayan kayu api yang menghitam sebab kepulan asap dari tungku di bawahnya.
Tampak tergeletak potongan bambu kecil yang biasa digunakan untuk saluang, pengembus bara bila api padam.
Dalam ruangan berdinding papan duduk bersila beberapa orang dengan topi sebo dan berkelumun kain sarung. Di depan mereka ada gelas-gelas kopi yang belum diseduh.
Sebab menanti air mendidih yang sejalan dengan lemang yang sedang dihangatkan.
Residu suasana nostalgia seperti itulah yang menjadikan lemang lebih dari sekadar penganan. Pada lemang itu melekat cerita yang tak pernah bisa dihapus.
Kini memori itu berpeluang bisa dihidupkan setiap saat. Sebab lemang so dekat.
Lamang Alahan Panjang itu khas. Beda. Saya belum bersua yang serupa, baik di Sumatra Barat, pun di luarnya. Mungkin sebab saya mainnya belum jauh. Boleh jadi di tempat lain jua ada.
Paling lazim lemang itu dibuat dari beras ketan. Ada yang polos, biasa dimakan dengan campuran tapai ketan hitam, pun yang diisi pisang, dsb. Lemang model itu sudah mendunialah, mudah didapatkan di mana saja. Lezat memang. Lamang tapai pun biasanya jadi makanan pengobat rindu.
Lamang Alahan Panjang bahan baku utamanya tepung beras hitam. Beras, bukan ketan hitam. Dalam bahasa lokal dinamakan beras siarang. Mungkin sebab ia hitam, mirip arang, maka disebut siarang. Sekadar tebakan saya saja.
Sebenarnya beras dengan ketan itu saudara kembar, yang sedikit beda sifat. Sebab komposisi kandungan pati, amilosa dan amilopektinnya beda.
Beras tidak selengket ketan, pun indek glikemiknya lebih rendah. Makanya beras enak dan aman dimakan dalam jumlah yang banyak. Setelah jadi nasi tentunya.
Pun lamang siarang boleh dimakan banyak. Ups, ini kata saya saja. Jangan terlalu percaya, kecuali kalau memang suka.
Tepung beras siarang dicampur dengan santan kelapa dan gula merah. Adonan cair itu dimasukkan ke dalam buluh bambu yang sudah dibersihkan. Lalu dibakar dengan api kayu sampai lemang matang.
Secara proses dan komposisi mirip dengan membuat bika. Tapi bika dari tepung beras putih dan dibakar bukan dalam buluh bambu. Secara tekstur ada kemiripan.
Dulu, ketika mengamati orang di Garut mengolah dodol, atau di Kudus mengolah jenang. Melihat hitamnya saya ingat lamang siarang. Tapi beda. Dodol dan jenang lebih mirip gelamai kalau di Sumatra Barat. Sebab sama-sama dari beras ketan.
Memang agak susah mencari persamaannya. Begitulah kekayaan penganan khas di nusantara ini. Semua memiliki keunikan masing-masing. Punya cita rasa, filosofi, dan cerita sendiri-sendiri.
Lamang siarang tetap akan menjadi produk kebudayaan yang tak akan lekang oleh waktu. Sebab tradisinya terus berjalan turun temurun.
Bahkan, kini dengan dunia yang semakin mengecil oleh kemajuan teknologi, di mana jarak dan waktu menjadi menjadi semakin dekat dan singkat. Lamang siarang berpotensi makin dikenal dunia. Bisa dicicipi oleh semua orang, di mana saja, dan kapan pun.
Ketika membaca berita tentang orderan lamang siarang secara online meningkat pesat dalam momen lebaran kemarin, saya turut senang.
Terlintas dalam pikiran apakah yang memesan daring itu mereka yang punya memori masa lalu dengan lamang siarang, atau yang pernah mencoba lalu kangen, atau yang penasaran ingin tahu seperti apa rasanya. Entahlah.
Satu hal yang berarti buat saya saat ini, jarak dengan memori masa lalu dan lamang siarang Alahan Panjang kini hanya seujung jari. Tinggal klik. (All Amin)


