News Breaking
Live
update

Breaking News

Kausalitas Kebencian

Kausalitas Kebencian




Oleh: All Amin

AKAN banyak yang tak bersepakat. Jua menyanggah. Tak mengapa. Namun, tulisan ini tidak untuk kontra pendapat dengan yang berseberangan pandangan.

Sekadar mengajak mencermati pola. Bagaimana realitas bergerak, berdampak, dan sebab–akibat yang saling mengikat. Sebab pola seringkali tak mengenal tempat dan waktu.
Ia dapat terjadi di mana saja. Kapan pun.

Merujuk pada kisah sejarah, Israel adalah sebuah negara yang embrionya terbentuk dari perihnya luka dari tekanan kebencian, lalu tumbuh dari sisa-sisa pembunuhan massal.

Semasa Eropa menggema oleh semangat humanisme dan kesetaraan pasca Revolusi Prancis, justru ketika itu muncul sebuah paradoks: kebencian kolektif terhadap kaum Yahudi.

Gerakan antisemitisme menjadikan etnik Yahudi musuh bersama. Pandangan stereotip, menjelma dalam persekusi, dan pengucilan yang sistematis.

Dari ironi terakumulasi itulah lahir sebuah gagasan. Seorang jurnalis Yahudi bernama Theodor Herzl menuliskan Der Judenstaat. Sebuah manifesto yang kemudian menjadi fondasi gerakan Zionisme.

Kristalisasi keyakinan yang terbentuk bahwa untuk keluar dari tekanan dan intimidasi, bangsa Yahudi harus hidup dalam negara sendiri.




Dorongan ingin keluar dari tekanan itu lalu menemukan pintunya, di tengah arus kolonialisme yang sedang membutuhkan dukungan finansial dalam pusaran perang.

Bersualah dua arah berbeda yang saling membutuhkan. Lord Rothschild, seorang konglomerat  komunitas Yahudi mendapatkan surat dari Pemerintah Inggris yang ditanda tangani oleh Arthur Jamel Balfour. Transaksi berbuah deklarasi.

Deklarasi Balfour menjadi model pertukaran nilai: antara kavling tanah jajahan dan kebutuhan logistik perang.

Secarik surat, dengan satu kalimat di dalamnya “Rumah bagi bangsa Yahudi” seolah menjadi penunjuk arah untuk perjalanan pulang.

Surat itulah yang menjadi dasar legitimasi tanah Palestina dapat menjadi rumah bagi bangsa Yahudi. Model warisan kolonialisme yang kemudian menjadi akar dari beragam persoalan panjang antarbangsa di kemudian hari.

Pintu politik dan psikologis yang terbuka melalui Deklarasi Balfour perlahan mulai menggerakkan perpindahan etnik Yahudi dari Eropa menuju Palestina.

Bermula dari kelompok-kelompok kecil yang datang membeli tanah, lalu membangun komunitas dan tempat tinggal bersama.

Lalu sejarah mencatat: peristiwa demi peristiwa seperti mendorong arus itu semakin deras. 

Apa yang semula pilihan, perlahan berubah menjadi kebutuhan yang mendesak.

Titik klimaksnya ketika Jerman di bawah kendali Adolf Hitler menjadikan kebencian sebagai ideologi negara. Melalui Nazisme, antisemitisme tidak lagi sekadar sentimen sosial. Ia dilembagakan, disistematisasi, dan dijalankan secara masif.

Semula prasangka, berubah menjadi kebijakan. Semula penolakan, berubah menjadi perburuan.

Jutaan orang Yahudi diburu, diusir, dan dibantai. Dalam tragedi yang kemudian dikenal sebagai Holocaust.

Hingga migrasi bukan lagi pilihan, tapi menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Migrasi bertransformasi menjadi eksodus.

Ketika dorongan untuk bertahan hidup bertemu dengan ruang yang telah disiapkan sebelumnya, arus perpindahan menjadi sesuatu tak terbendung.

Eksodus itu membawa manusia yang kehilangan segala-galanya. Rumah, tanah, bahkan rasa aman atas hidupnya sendiri.

Mereka tidak lagi mencari tempat yang lebih baik.
Mereka mencari tempat untuk bertahan hidup.

Palestina yang sebelumnya menjadi tujuan migrasi, berubah menjadi harapan terakhir.

Namun, tanah itu tidak kosong. Ia telah dihuni. Memiliki kehidupan, sejarah, dan masyarakatnya sendiri.

Ketika arus eksodus bertemu dengan ruang yang telah terisi, maka yang terjadilah benturan.




Ketegangan meningkat. Konflik tak terhindarkan. Pecahlah perang yang mengubah segalanya.

Dalam pusaran itu, lahirlah peristiwa yang oleh bangsa Palestina disebut Nakba. Malapetaka.

Ratusan ribu warga Palestina meninggalkan rumahnya, terusir dari tanahnya, dan kehilangan ruang hidupnya.

Desa-desa kosong. Kota-kota berubah wajah. Dalam waktu yang sangat singkat, terjadi perpindahan besar-besaran. Terjadi eksodus kedua.

Jika ditarik dalam satu garis sebab–akibat:

Kebencian di Eropa
melahirkan eksodus Yahudi.

Eksodus Yahudi, ketika bertemu konflik di tanah yang telah berpenghuni, melahirkan eksodus Palestina.

Yang terusir, mencari tempat baru. Namun ketika tempat itu tidak kosong, pencarian itu dapat menciptakan pengusiran baru.

Kebencian seringkali tidak berhenti pada satu titik, dari satu kebencian, terus melahirkan kebencian yang lain.

Kebencian berpindah, berulang, dan menemukan sasarannya yang baru. Dalam perjalanannya,
ia sering kali mengubah korban menjadi pelaku berikutnya.

Kini, menjadi bagian dari penyebar kebencian cukup menggunakan jempol.

Wamai yakmal mitsqala dzaratin syarray yaroh. (Surah Az-Zalzalah: 8)

*All Amin

Tags