๐๐๐น๐ฎ๐บ ๐๐ถ๐ฝ๐๐ฝ๐๐ธ ๐ผ๐น๐ฒ๐ต ๐ ๐๐๐๐ต²๐ป๐๐ฎ
Oleh HAMKA
PERKEMBANGAN dan kesuburan Islam, hidupnya dan tersebarnya keseluruh dunia, salah satu sebabnya yang sangat penting dan sangat terkesan, ialah pukulan-pukulan, hantaman-hantaman dari musuh2nya.
Melihat betapa besar hebatnya pukulan dan hantaman itu, kalau dia bukan satu agama yang benar, sudahlah lama Islam ini gulung tikar. Padahal niat mereka itu menghantamnya ialah agar agama ini memang gulung tikar.
Pada tahun 488 Hijriyah, atau 1095 Masehi keluarlah "fatwa". Paus Urbanus II ke seluruh Dunia Kristen di Eropa bahwasanya memerangi dan menghancurkan Kaum Muslimin, dan merebut Palestina dari tangan mereka adalah kewajiban yang suci dan luhur, dia adalah 'ibadat' paling mulia.
"Deus Vult"!, kehendak Allah! Demikianlah.
Dijadikanlah kalimat itu kata bersayap menggembleng semangat bangsa Eropa terutama raja-raja agar mengumpulkan segenap tenaga guna memerangi Islam.
Paus Urbanus II pun bersedia memberikan ampunan betapapun besarnya bagi barangsiapa yang menyediakan dirinya untuk berjoang ke medan peperangan itu, atau melaksanakan kehendak Allah itu. Maka pada tahun 490 Hijriyah, 1097/M. menyerbulah tentara Salib Pertama, ke negeri-negeri Islam, terutama menuju Tanah Suci Palestina. Dinamai Tentara Salib, sebab pada dada mereka dipampangkan lambang Salib. Tahun 1098 telah dapat mereka merebut Inthakiyah (Antiochie), 1099/M. (492) mereka telah dapat menyerbu dan merebut Kota Palestina sendiri, yang bagi mereka dianggap tanah suci, sebab di tanah itulah Nabi 'Isa dilahirkan dan oleh orang Yahudi dianggap tanah suci pula, karena ke sanalah Bani Israel hendak dibawa oleh Musa setelah mereka keluar dari Mesir dan bagi orang Islam Tanah Suci pula, sebab dari sanalah Nabi Muhammad s.a.w. Mi'raj kelangit menjemput syari'at sembahyang dan di sanalah mesjid ketiga, sesudah Al-Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, yang kaum Muslimin dianjurkan pergi berziarah.
Bukan main hebatnya Perang Salib yang menurut fatwa Paus Urbanus II itu, yang disebut atas kehendak Allah, "Deus Vult" bagaimana cara mereka mensucikan dan membersihkan peperangan "Kehendak Allah" itu. Di waktu itulah 70.000 kaum Muslimin yang tidak dapat melawan lagi disapu bersih, dibunuh, dicincang, sehingga kuda-kuda mereka berjalan diatas genangan darah dalam Al-Masjidil Aqsha.
Pendeta Robert, yang selain pendeta juga seorang sarjana sejarah menulis dalam catatannya tentang masuknya Kaum Salib ke Palestina itu demikian:
"๐๐ข๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช ๐ญ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐บ๐ข, ๐ฌ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ-๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ถ๐ต-๐ด๐ถ๐ฅ๐ถ๐ต ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ข๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ. ๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ, ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข, ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ-๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ2 ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ถ๐ต๐ข๐ด ๐ต๐ข๐ญ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ2 ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ.
๐๐ข๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ2 ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ด๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ2 ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ; ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ข๐ฌ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด! ๐๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ญ๐ช๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ซ๐ช๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ธ๐ข๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ-๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ. ๐๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ, ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฎ-๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ฐ๐ฉ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ฅ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ฑ๐ข๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ2 ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ต๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ข-๐ต๐ถ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด2 ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ-๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ-๐๐ฏ๐ต๐ช๐ฐ๐ค๐ฉ๐ช๐ฆ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฌ"
Goustave le Bonn menceriterakan dalam kitabnya "Kebudayaan Arab", bahwa akhirnya diambil keputusan menghabiskan sama sekali sejumlah 60.000 orang Islam, yang baru diselesaikan dalam masa satu minggu tidak kecuali laki2, perempuan, orang dewasa dan anak2.
Sampai delapan kali Angkatan Perang Salib itu datang memerangi Dunia Islam; Tetapi niyat menghancurkan Islam itulah pula yang membangkitkan kesadaran Ummat Islam, sehingga sesudah berpecah belah, mereka bisa menyusun kekuatan dan menebus kekalahan. Timbullah pahlawan2 Islam yang menebus kembali kekalahan dan mencapai kemenangan. Perang Saliblah yang menimbulkan pahlawan2 sebagai Sulthan Nuruddin Zanki dan Salahuddin Al-Ayubi.
Seketika Raja Inggeris Richard yang diberi gelar "Hati Singa" (Lion Heart) terpaksa mengakui kekalahannya dalam perdamaian dengan Salahuddin, sehingga Palestina terpaksa mereka serahkan kembali ke tangan kaum Muslimin, (th. 1192) setelah mereka kuasai 92 tahun lamanya, terjadilah satu sejarah Islam yang gemilang, yaitu tidak ada pembalasan sakit hati, tidak ada pembalasan dendam atas penyembelihan 70.000 Muslim, tidak ada pemusnahan. Kaum Salib yang masih ingin tinggal di Palestina diberi perlindungan dan mana yang ingin meninggalkan negeri itu, dipersilahkan berangkat.
Ahli-ahli sejarah mengakui bahwa maksud hendak menghancurkan Islam di pangkalannya itu tidaklah berhasil. Malahan bangsa-bangsa Barat dengan raja-rajanya itulah yang pulang dengan tangan hampa, bahkan ada yang tertawan, dan Palestina kembali ke tangan kaum Muslimin.
Menyerbunya bangsa Mongol dan Tartar merebak-merayau, menjarah dan memusnahkan negeri-negeri Islam dalam abad ketiga belas atau abad ketujuh Hijriyah adalah pula satu pemusnahan yang sangat dahsyat, yang menyebabkan bulu roma berdiri jika diingat.
Satu bangsa biadab pergi menaklukkan dunia, terutama Dunia Islam. Mana-mana negeri yang dimasuki dihancurkan, kotanya diruntuhkan, penduduknya dimusnahkan, kepala orang-orang yang telah dibunuh lalu dipotong dijadikan gunungan. Kota Baghdad sebagai pusat kedudukan Dinasti Khalifah2 Bani 'Abbas dihancurleburkan dan lebih dari satu setengah juta penduduk dibunuh, bahkan Khalifah sendiri pun dibunuh, kitab-kitab ilmu-pengetahuan dilemparkan ke dalam sungai Dajlah sehingga hitam airnya karena aliran tinta. (656/H.-1258/ฮ.).
Kota Baghdad dijadikan tumpukan puing, sehingga berpuluh tahun lamanya orang hanya melihat bekas runtuhan yang mengerikan dan seram.
Banyak orang menyangka bahwa dengan habisnya Khalifah di Baghdad itu riwayat Islam telah tamat. Dia tidak akan bangkit lagi. Bahkan dunia Kristen di masa itu sengaja mendekatฤฑ raja2 Mongol keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan itu agar mereka sudi memeluk agama Kristen, supaya dipadukan kekuatan untuk menghancurkan Islam.
Tetapi dengan jatuhnya Baghdad, bukanlah berarti bahwa Islam telah habis. Nafasnya masih ada. Mungkin dia terbentur terhenyak sejenak. namun dia akan bangkit kembali.
Siapa yang menyangka bahwa di Mesir akan timbul kekuatan baru. Raja Mamluk yang bernama Qathaz yang membendung kekuatan Mongol itu sehingga mereka dapat dikalahkan di Hiththin, sehingga dengan sebab kemenangan Qathaz dan dilanjutkan oleh Baibars, kembali kepercayaan kaum Muslimin kepada dirinya.
Dan siapa pula yang menyangka bahwa anak-anak kerurunan Raja2 Mongol yang mulanya hendak menghancurkan Islam itu telah direlan oleh Islam sendiri, sehingga mereka dapat mendirikan kerajaan Mongol Islam di anak benua India!
Di sana timbul Baber, Hamayun, Akhar, Jehangir. Aurangzeb dan lain2.
Sesudah lebih dari 700 tahun menduduki Semenanjung Iberia dan tanah subur yang terkenal dengan sebutan "Andalus", karena tenggelam dalam kemewahan, karena perpecahan sesama sendiri, tidaklah kaum Muslimin dapat bertahan lagi di negeri itu. Bangun kembali bangsa Spanyol karena persatuan kerajaan Aragon dengan Castilia karena perkawinan Raja Ferdinand dari negeri yang pertama dengan Raru Isabella dari negeri yang kedua, dapatlah diusir kerajaan Islam yang terakhir dari negeri itu, yaitu kerajaan Banil Ahmar di Granada pada tahun 1492.
Mulanya dijanjikan bahwa sisa bangsa Arab yang masih tinggal di negeri itu diberi kebebasan memeluk agamanya. Tetapi tujuh tahun dibelakang (1499/M) perjanjian itu tidak dipegang lagi oleh Raja Ferdinand. Sejak itulah. orang2 Islam itu dipaksa masuk Kristen. Gereja mendirikan Mahkamah Penyelidik kalau2 masih ada orang2 Islam itu yang masih saja memeluk agamanya yang lama. Kalau bukti itu masih didapati, mereka dibakar. Beribu-ribu banyaknya orang yang dibakar. Oleh karena melakukan pembakaran atas beribu orang, bahkan berjuta orang tidak dapat dilakukan sekaligus, dilakukanlah dengan berangsur-angsur.
Kardinal Toledo (Thulaithulah) yang menjadi Ketua dari Mahkamah Penyelidik memerintahkan menangkap sekalian orang Islam yang tidak juga masuk Kristen, lalu semuanya dipotong kepala; laki-laki, perempuan, orangtua dan kanak-kanak.
Bahkan Pendeta Dominican yang bernama Pelda itu memandang bahwa cara yang demikian tidak cukup. Lalu beliau perintahkan pula membunuh sekalian orang Islam itu, walaupun yang telah menyatakan diri masuk Kristen. Dengan alasan bahwa yang masuk Kristen itu sendiri masih dicurigai, apakah mereka betul-betul masuk, atau cuma pura-pura Oleh sebab itu, menurut pendapat beliau adalah lebih afdhal mereka itu dikirim lebih dahulu ke akhirat, supaya Tuhan segera memasukkan ke dalam neraka mana yang kekristenannya tidak jujur.
Pendapat Bapak Pendeta ini disokong keras oleh Gereja. Cuma pemerintah Spanyol, atau Kerajaan Spanyol di waktu itu merasa amat sukar menjalankan perintah dari gereja ini. Sebab terlalu banyak orang yang akan dibunuh. Oleh sebab itu maka pada tahun 1601, artinya sesudah lebih dari 100 tahun sesudah penghapusan kuasa Islam dengan resmi, pemerintah memutuskan mengusir seluruh orang Moor (Arab) dari Spanyol. Tetapi di tengah jalan banyaklah orang-orang terusir yang malang celaka itu yang dibunuh, sampai tiga perempat banyaknya. Yang diusir diwaktu itu adalah 140.000. Dua pertiga habis dibunuh, dirampok dan ditenggelamkan ke laut selama dalam perjalanan. Cuma seperempat yang sampai menjejak bumi Afrika.
Menurut keterangan Goustave le Bon dalam bukunya "Kebudayaan Arab", dalam tahun itu Spanyol kehilangan tidak kurang daripada satu juta rakyatnya orang Arab. Sedillot menaksir bahwa sejak berkuasanya Ferdinand pada tahun 1492 sampai pengusiran tahun 1601 itu tidak kurang dari tiga juta bangsa Arab yang dimusnahkan di Spanyol. Sedillot mengatakan penyembelihan pada malam San Botholemeo dibandingkan dengan pemusnahan orang Islam di Spanyol itu hanya sekelumit kecil saja. Namun ahli2 sejarah yang insaf mengakui bagaimana besarnya kerugian bangsa Spanyol karena perbuatan pemusnahan itu, yang mereka bunuh, mereka usir, mereka hancurkan ialah Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan sendiri; sampai 400 tahun dibelakang masih dirasakan bagaimana mundur dan muramnya Spanyol; bahkan sampai zaman kita sekarang ini masih terhitung negeri yang termundur diantara negara-negara di Eropa.
Tetapi timbullah pertanyaan sekali lagi; "Berhasilkah maksud mereka menghapus Islam dari muka bumi dengan perbuatan demikian?
Dan sekarang setelah lima abad berlalu, meskipun orang Islamnya telah dimusnahkan, tidaklah ada yang dapat dibanggakan oleh Spanyol kepada dunia, kecuali pusaka peninggalan dari bangsa yang mereka musnahkan itu. Tidak putus-puลฃusnya kaum turist dari seluruh dunia datang ke Spanyol, ke Tanah Andalusia, untuk melihat keajaiban peradaban Islam: "Mesjid Agung di Gordova dan Jembatan yang melintasi Wadil Alkabir, Istana Bani 'Ubbaad (Alqashr) yang 'disebut dalam bahasa mereka dengan "Alkasr" di Sevilla, Mahligai indah Alhambra di Granada, susunan kedai-kedai dan pasar di Malaga yang menyerupai pasar di Damaskus dan di Cairo Lama.
Kian lama kian terasalah oleh orang Spanyol bekas kemuliaan dan ketinggian budaya yang ditinggalkan oleh Islam dinegeri itu, sehingga akhirnya mereka tidak segan-segan lagi mempelajari kembali kebudayaan Islam, khusus yang dipusakakannya di Spanyol. Di tiap Universitas ada bahagian untuk Studi Islam. Di Ecorial di Madrid dikumpulkan kitab-kitab pusaka Islam tulisan tangan yang masih tersisa sedikit, dan dari pembakaran. Karena dizaman pemusanahan besar-besaran itu, pengaruh dari kesempitan faham pendeta2 beribu-ribu jilid kitab-kitab ilmiyah yang bermutu tinggi, pusaka perpustakaan Islam yang disimpan oleh pribadi2 muslim telah dikumpulkan ke tanah lapang di muka gereja-gereja, lalu dibakar habis. Mereka merasa bangga karena telah "berpahala" menghancurkan sumber ilmiah buah renungan kaum Muslimin dari berbagai cabang ilmu. Kemudian setelah dilihat di negara-negara tetangga orang mendirikan "library" yang besar-besar, sebagai di Liepzig, di Sarbonn, di Paris, di Cambridge dan lain-lain, semuanya diperkaya dengan "Perpustakaan Islam'', barulah orang Spanyol menyesali kefanatikan mereka dan barulah diusahakan kembali mencari dan mengumpulkan kitab-kitab Pusaka Islam yang masih tersisa, dikumpulkan di Escorial, yang kemudian jadi pokok utama dalam membangunkan orientalisme dalam kalangan sarjana-sarjana Spanyol.
Apakah Islam hancur karena penghancuran di Spanyol?
Untuk menjawab ini lebih baik kita salinkan saja perkataan Sir Thomas Arnold, sarjana orientalis Inggeris yang terkenal itu dalam buku beliau "Peaching of Islam" demikian bunyinya:
"Meskipun Imperium yang besar ini telah kucar kacir sendi-sendinya sesudah itu, dan telah runtuh kekuatan Islam dari segi politik, namun serbuannya dari segi rohani masih tetap berlangsung dan tidak pernah terputus. Dan setelah serbuan bangsa Mongol menghancurkan Baghdad pada tahun 1258 sampai kebesaran Daulat Abbasiyah tenggelam kedalam genangan darah, dan Ferdinand Raja Leon dan Castilia telah mengusir kaum Muslimin dari Cordova (1236/M), dan Granada, benteng terakhir Islam di Spanyol telah membayar opeti kepada Raja Kristen, namun di waktu itu pula tiang-tiang agama Islam telah kokoh berdiri di Jazirah Sumatra, dan sedang bersiap-siap akan mencapai kemajuan yang gilang gemilang dipulau-pulau Melayu yang lain. Dan di saat-saat Islam sedang merana karena kelamahan disegi politik, kita lihat dia mencapai kemenangan yang tiada taranya dalam menaklukkan dari segi rohani". Demikian Sir Thomas Arnold. (Oce)
Artikel ini ditulis oleh Buya Hamka sebagai penulis rutin di rubrik "Dari Hati ke Hati" di Majalah Panji Masyarakat Maret 1976
