News Breaking
Live
update

Breaking News

Iran Ancam Lumpuhkan Pangkalan Militer dan Aset AS Jika Diserang

Iran Ancam Lumpuhkan Pangkalan Militer dan Aset AS Jika Diserang



NEW YORK, tanjaxNews - Duta Besar Iran untuk PBB memperingatkan bahwa Iran akan menanggapi secara tegas dan proporsional setiap agresi militer, menekankan bahwa Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas konsekuensinya.

Iran memperingatkan bahwa jika serangan AS, semua pangkalan, fasilitas, dan aset Amerika di wilayah tersebut menjadi target yang sah.

Surat itu, bertanggal kemarin (19/2/2026) dan ditandatangani oleh Duta Besar PBB Iran, Amir Saeid Iravani.

"Republik Islam Iran telah berulang kali menyatakan di tingkat tertinggi bahwa pihaknya tidak menginginkan ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun," demikian bunyi surat yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan kepresidenan Dewan Keamanan PBB.

"Namun, jika Iran menjadi sasaran agresi militer, Iran akan merespons secara tegas dan proporsional dalam menjalankan haknya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa," tambahnya.

Misi tersebut memperingatkan bahwa semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di wilayah tersebut akan menjadi sasaran yang sah dalam konteks respons pertahanan Iran, menekankan bahwa Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas segala konsekuensi yang tidak terduga dan di luar kendali.

Surat itu mengutip unggahan media sosial Presiden AS Donald Trump pada 18 Februari yang digambarkan sebagai "ancaman publik eksplisit penggunaan kekuatan" terhadap Iran, merujuk pada potensi penggunaan fasilitas militer di Diego Garcia dan pangkalan RAF Fairford di Inggris.

Mendesak tindakan segera dari PBB, surat itu menyatakan: "Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal harus bertindak tanpa penundaan, sebelum terlambat."

Iran menggambarkan ancaman AS sebagai sinyal risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan tersebut dan akan menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Menegaskan kembali komitmennya terhadap diplomasi, misi Iran di PBB menyatakan komitmen penuh terhadap tujuan dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan terhadap solusi diplomatik dan telah terlibat secara konstruktif, dengan serius dan dengan itikad baik, dalam pembicaraan nuklir dengan Pemerintah Amerika Serikat.

Iran menyatakan, tidak akan memulai perang apa pun tetapi jika diserang, ia akan merespons dengan tegas dan proporsional di bawah Pasal 51 pertahanan diri.

Dalam skenario seperti itu, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di wilayah tersebut akan menjadi target yang sah.

Iran juga mewanri-wanti Gedung Putih bahwa Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas segala konsekuensi yang tidak dapat diprediksi dan tidak terkendali.

Kerusuhan

Pemerintah Iran kembali menyalahkan “teroris” atas pembunuhan ribuan orang selama protes nasional bulan lalu setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan para ahli hak asasi manusia memberikan tanggapan.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan pada hari Sabtu bahwa pemerintah telah merilis daftar 3.117 orang, yang ia sebut sebagai "korban operasi teroris baru-baru ini", termasuk sekitar 200 personel keamanan.

“Jika ada yang meragukan keakuratan data kami, mohon berikan bukti apa pun,” tulis diplomat tersebut, yang sebelumnya menyatakan bahwa 690 orang dalam daftar itu adalah “teroris” yang dipersenjatai dan didanai oleh AS dan Israel, di X.

Komentar Araghchi muncul beberapa jam setelah presiden AS mengatakan kepada wartawan bahwa 32.000 orang tewas selama protes, menambahkan bahwa "rakyat Iran telah hidup di neraka" di bawah pemerintahan teokratis.

Sementara itu, persiapan militer AS telah meningkat. Menurut laporan Washington Post, pemerintahan Trump tampaknya siap melancarkan serangan militer berkepanjangan terhadap Iran.

Presiden Trump mengatakan dia yakin 10 hingga 15 hari akan menjadi "waktu yang cukup" bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.

Iran menolak untuk membahas tuntutan yang lebih luas dari AS dan Israel agar negara itu membatasi program rudal balistiknya dan memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok militan sekutu di seluruh wilayah tersebut.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden Trump sedang mempertimbangkan serangan terbatas awal terhadap target militer dan pemerintah untuk memaksa Iran memenuhi tuntutannya terkait kesepakatan nuklir.

Serangan itu dirancang untuk menekan Teheran tetapi tidak akan sampai pada serangan skala penuh yang dapat memicu pembalasan besar-besaran, kata laporan itu. (Oce Satria, Aljazeera, VOI, Anadolu Ajensi)



Tags