Reaksi Hamka Ditanya Ayahnya, Kenapa Tak Berani Kawin Lagi
tanjaxNews - Siti Raham adalah istri pertama dan setia, pendamping hidup ulama besar Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang dikenal seorang da'i, jurnalis, dan penulis. Siti Raham adalah sosok tegar, pemberi semangat, dan penopang ekonomi keluarga di balik karya-karya fenomenal Hamka, seperti Tafsir Al-Azhar dan novel-novelnya, serta mendampingi perjuangan suaminya saat dipenjara, membuktikan ketulusan dan kesalehannya yang mendalam.
Siti Raham mendampingi Hamka selama 52 tahun di berbagai tempat, di Makassar, di Medan, dan di Jakarta.
Ia sangat dikenal oleh karena;
1. Pembangkit Semangat: Ia selalu memberikan motivasi agar Hamka menyelesaikan karya-karya besarnya, bahkan saat keluarga menghadapi kesulitan ekonomi. Dalam keadaan ekonomi sulit Siti Raham berusaha tabah kendati sering menitikkan air mata saat mengambil kain-kain simpanannya dari almari. Melihat kondisi itu, Hamka terenyuh. Sempat ia menawarkan agar kain Bugisnya ikut dijual.
"Kain Angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja, karena Angku Haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai Angku Haji kelihatan sebagai fakir yang miskin," katanya.
2. Penopang Ekonomi: Saat kondisi sulit, Siti Raham menjual harta simpanannya (kalung, gelang, kain batik) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak, memastikan Hamka tetap fokus berdakwah. Hamka memang bukan pegawai atau pedagang. Penghasilannya semata-mata dari honorarium menulisnya. Karirnya melesat saat di Medan. Hamka diminta mengurusi majalah Pedoman Masyarakat. Majalah ini telah terbit sebelum Hamka berkecimpung. Sejak 1936, Hamka menggarap majalah itu.
3. Ibu yang Penyayang: Dikenal dengan perasaan halus dan murah hati, ia bahkan menyuruh tukang susu kelaparan untuk makan sebelum berkonsultasi dengan Hamka, menunjukkan kepeduliannya
4. Dukungan di Masa Sulit: Ia setia mendampingi Hamka saat dipenjara oleh Soekarno, tetap menjadi tulang punggung keluarga.
Pernikahan Buya Hamka dengan Siti Raham berlangsung pada tanggal 5 April 1929, di usia keduanya masih muda belia. Hamka saat itu berusia 21 tahun dan istri berumur 15 tahun.
Pernikahan tersebut melalui proses perjodohan atas inisiatif ayahnya, Syaikh Abdulkarim Amrullah, pada tahun 1928.
Hamka menyadari bahwa ternyata Siti Raham adalah takdir cinta sejatinya, sehingga tidak ada niat untuk menduakannya.
Padahal sebelumnya, seperti diungkap Hamka dalam biografinya Kenang-Kenangan Hidup jilid I, saat di Padang Panjang dan ketika berlayar dalam perjalanan menuju Makkah pada bulan Pebruari 1927, kemudian bermukim di sana sekian bulan lamannya, kembali pulang ke tanah air dan menetap di Medan, telah ada wanita lain yang pernah hadir di hatinya.
Adalah gadis bernama Kulsum, dara Cianjur berusia 17 tahun yang berangkat haji bersama kedua orangtuanya. Ia terpesona kepada Hamka karena dikenal rajin mengumandang adzan setiap masuk waktu shalat dan suaranya yang merdu ketika membaca Al-Quran di atas kapal Karimata yang membawa mereka ke tanah suci.
Kulsum bahkan memanggil Hamka dengan sebutan “Ajengan”. Ajengan adalah panggilan untuk orang terkemuka, terutama guru agama Islam.
Pada tahun 1928, ketika pulang dari Medan bersama Ahmad Rasyid Sutan Mansur dan baru sehari sampai di Maninjau, hari itu hari Jumat, setelah shalat Maghrib, adik ayahnya yang bernama Haji Yusuf Amrullah mengajaknya bicara empat mata di sudut surau.
“Malik, obatlah hati Buya-mu, beliau sudah mulai tua. Engkau telah dipertunangkan dengan anak perempuan Endah Sutan, namanya Siti Raham!”
Pikirannya melayang ke Kulsum. Terbayang pula Maryam, wanita Hijaz di rumah Syeikhnya di Makkah yang mendesaknya untuk menikah.
Buya Hamka yang awalnya memang tak ada perasaan sama sekali pada Siti Raham, tapi demi mengobati hati ayahndanya ia menerima pertunangan itu. Namun setelah hidup berumah tangga, Buya Hamka merasakan cinta sejatinya adalah Siti Raham, semakin lama mengenal wanita itu Buya Hamka semakin sadar, Siti Raham adalah wanita pilihan ayahnya yang sangat mengerti karakternya, wanita keibuan, penyayang dan selalu mengerti ataupun mendukung semua perjuangan Buya Hamka.
Penulis roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijk ini menemukan kedamaian dan ketentraman hidup bersama Siti Raham yang dalam pergaulan hidup berumah tangga sampai wafatnya panggilan romantis Siti Raham untuk Buya Hamka adalah "Angku Haji".
Terkait fakta bahwa Buya Hamka tidak mau berpoligami, ada percakapan bernada gurauan dari ayahnya, Haji Abdulkarim Amrullah yang dikenal dengan julukan "Haji Rasul" atau "Inyiak Dotor".
Buya Hamka menuturkan cuplikan dialog dengan ayahnya pada tahun 1943 di Tanah Abang, Jakarta, setelah sebelumnya ayah Buya Hamka ini dibuang ke Sukabumi oleh pemerintah Belanda karena dianggap mengganggu stabilitas misi kolonialnya di Minangkabau. Begini dialog ayah dan anak tersebut:
“Pada suatu hari, ketika kami duduk bercengkerama bersama-sama, beliau bersenda-gurau, seraya berkata: “Engkau sudah seperti batu terbenam ke bencah, tidak timbul lagi. Isteri hanya satu. Apalah agaknya “ramuan” yang dimakankan isterimu kepadamu, sehingga engkau tidak berani beristeri seorang lagi?”.
Dengan gaya berkelakar Buya Hamka menjawab secara serius: “Ini bukanlah soal ramuan atau soal pekasih (guna-guna). Soalnya ialah soal Abuya sendiri. Abuyalah dahulu yang mencarikan dan menetapkan dia menjadi isteriku. Rupanya Abuyalah yang memilih gadis yang ananda tidak sanggup menduakannya dengan yang lain.”
Kutipan dialog di atas diabadikan Buya Hamka dalam rubrik Dari Hati ke Hati di Majalah Panji Masyarakat edisi 95/1972 yang berjudul “Hj. Siti Raham: Dia adalah Obat Hati Ayahku.”
Buya Hamka mengenang pada saat dirinya akan ditahan oleh rezim Orde Lama dan ketika akan berpisah untuk selamanya dengan wanita tangguh yang telah melahirkan 12 orang anak ini:
“Di waktu aku ditangkap dan ditahan (27 Januari 1964), dia meratap: “Bawo den Angku Haji, jan den ditinggakan”. (Bawa saya serta Engku Haji, jangan saya ditinggalkan).”
“Bahkan lima menit sebelum Siti Raham menghembuskan nafasnya yang penghabisan, dipegangnya tanganku dengan tangannya yang mulai kaku: “Beri maaf saya Engku Haji….”.
Setelah merasakan bahwa saat ajalnya telah dekat, Siti Raham berucap: “Kalau saya meninggal lebih dahulu, apakah di akhirat kita kan bertemu kembali, Engku Haji?”.
Buya Hamka menjawab: “Aku akan berusaha supaya kita bertemu hendaknya di akhirat kelak!”.
“Mengapa begitu?”, tanyanya.
“Ada tersebut di dalam Sabda Nabi kita Muhammad ï·º bahwa jika seorang perempuan perempuan meninggal dunia, sedang suaminya ridha kepada kesetiaannya di kala hidupnya, itu akan masuk surga. Sebab itu, menurut hadits itu, Ummi akan masuk surga. Dan aku, kalau kau tinggalkan menyimpang dari jalan yang digariskan Tuhan, niscaya masuk neraka. Sebab itulah jika aku engkau tinggalkan akan selalu berusaha sampai panggilan datang pula, agar tetap dalam iman dan istiqamah, agar kita dapat bertemu kembali,” jelas Buya Hamka.
Siti Raham berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, 1 Januari 1972, pukul 8.45 pagi, di kamar 6 Paviliun Cenderawasih Rumah Sakit Umum Dr. Ciptomangunkusumo, Jakarta. (dari berbagai sumber)
