News Breaking
Live
update

Breaking News

Barang-Barang Kecil Ini Wajib Standby di Kala Bencana Tiba

Barang-Barang Kecil Ini Wajib Standby di Kala Bencana Tiba



tanjaxNews - Tak ada yang tahu kapan bencana datang ia tak mengetuk pintu, tak memberi peringatan, dan tak peduli siapa yang siap atau tidak. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana menyebut ada tiga tahapan sebagai langkah antisipasi bencana. Ketiganya adalah langkah pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Tahapan ini perlu dipahami untuk terhindar dari dampak buruk bencana, utamanya guna menyelamatkan diri.

Langkah antisipasi pra bencana menjadi tahapan pertama dan yang wajib dilakukan saat ini. Sebelum bencana benar-benar datang, masyarakat harus memahami ilmu mitigasi bencana, salah satunya dengan menyiapkan tas siaga bencana.

Mengutip situs resmi BNPB, tas siaga bencana (TSB) merupakan tas tahan air (waterproof) yang dipersiapkan anggota keluarga untuk berjaga-jaga apabila terjadi suatu bencana atau kondisi darurat lain. Tas ini harus dibawa bersamaan ketika seseorang atau anggota keluarga lari menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Dalam satu malam, rumah yang kokoh bisa luluh lantak, jalan bisa terputus, dan jaringan komunikasi bisa mati total. 

Tapi yang seringkali menentukan antara selamat dan kehilangan segalanya, bukan seberapa besar bencana itu, melainkan seberapa siap kita menghadapinya. 

Itulah kenapa, para ahli kebencanaan di seluruh dunia menegaskan satu hal penting, setiap rumah wajib punya tas darurat.

Tas ini bukan sekadar tas berisi barang-barang acak. Ia adalah simbol kesiapsiagaan sekumpulan benda yang akan jadi penyelamat hidup di 72 jam pertama pascabencana, saat bantuan belum tiba dan semua serba tak pasti. 

Isinya sederhana, tapi berdampak besar, seperti senter, baterai cadangan, makanan kering, air minum, hingga dokumen penting. Semua barang ini harus mudah dijangkau, ringan dibawa, dan tahan lama.

Senter adalah alat pertama yang wajib ada. Saat listrik padam total dan malam berubah menjadi kegelapan pekat, cahaya kecil bisa jadi perbedaan antara panik dan tenang. 

Jangan lupa juga power bank atau charger portabel di dunia yang semuanya bergantung pada sinyal dan pesan, alat sekecil ini bisa jadi penyambung nyawa untuk meminta bantuan. 

Sedangkan untuk kebutuhan makan, simpan makanan awet seperti granola, kacang, atau biskuit kering. Tidak perlu mewah, yang penting bertahan lama tanpa perlu dimasak.

Namun, kebutuhan terpenting selalu kembali ke hal paling dasar, yakni air. Simpan air minum kemasan atau tablet penyaring air dalam jumlah cukup untuk 3 hari. Kekurangan air bukan hanya soal haus, tapi bisa menjadi ancaman kesehatan serius. 

Lengkapi juga dengan headlamp atau lampu kepala, agar kedua tangan tetap bebas saat mencari jalan atau membantu orang lain di tengah gelap. 

Dalam kondisi genting, kebersihan seringkali diabaikan, padahal justru di situlah penyakit mengintai. Maka, perlengkapan sanitasi seperti tisu basah, sabun, dan masker cadangan adalah hal kecil yang berdampak besar.

Saat udara dipenuhi debu, asap, atau bahkan bau beracun, masker N95 akan jadi pelindung terbaik. Tambahkan pula selimut darurat berbahan mylar, yang mampu menahan panas tubuh dan melindungi dari hujan atau angin. Siapkan juga obat, setidak satu strip paracetamol (mengatasi demam, pengurang nyeri), obat gatal, obat merah, perban dan plester,vitamin seperti Pharmaton Formula dan minyak kayu putih juga bagus.

Jangan lupa satu alat kecil tapi serbaguna, seperti multitool atau pisau lipat. Alat ini bisa membuka kaleng, memperbaiki peralatan, bahkan digunakan untuk pertahanan diri jika keadaan benar-benar darurat. Dalam situasi terburuk, benda paling sederhana seperti peluit bisa menjadi alat untuk memanggil pertolongan dari jauh, bahkan ketika suara manusia sudah tak sanggup lagi. Siapkan juga korek api mancis.

Lalu, ada hal-hal kecil yang sering dilupakan, tapi krusial saat bencana terjadi. Pembuka kaleng manual, radio engkol, dan lakban. Ya, lakban benda yang sering diremehkan, tapi bisa memperbaiki pakaian robek, menutup kebocoran tenda, atau melindungi luka sementara. 

Dan tentu saja, uang tunai dalam jumlah secukupnya. Dalam kondisi darurat, ATM bisa mati, transaksi digital tak berfungsi, dan uang tunai menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup di tengah kekacauan.

Yang paling vital dari semuanya adalah dokumen penting. Kartu identitas, surat tanah, ijazah, buku tabungan, hingga resep obat simpan salinannya di tempat tahan air atau laminasi. Barang-barang ini bukan hanya soal administrasi, tapi bukti kehidupan yang harus dijaga meski rumah sudah tak ada. 

Kita hidup di negeri cincin api tempat bencana bukan kemungkinan, tapi keniscayaan. Dari gempa, banjir, longsor, hingga kebakaran, semuanya pernah dan bisa terjadi lagi. Tapi kesiapan bukan tentang menunggu datangnya musibah, melainkan tentang menghormati hidup. Karena menyiapkan tas darurat bukan tanda takut pada bencana, tapi bukti bahwa kita menghargai kesempatan kedua yang mungkin datang setelahnya.

Dan kalau hari itu benar-benar tiba saat alarm ponsel berhenti berfungsi, listrik padam, dan dunia terasa sunyi mungkin bukan bantuan pertama yang menyelamatkanmu, tapi isi dari tas sederhana yang sudah kamu siapkan jauh hari sebelumnya. Tas kecil, tapi berisi harapan untuk bertahan.

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik. (*)

Sumber: Pecah Telur, detikcom

Tags