News Breaking
Live
update

Breaking News

Kisah Che Laut, Sosok Perempuan Istimewa dari Sejarah Melayu Sumatera Timur

Kisah Che Laut, Sosok Perempuan Istimewa dari Sejarah Melayu Sumatera Timur



Di tengah dunia kerajaan Melayu abad ke-19 yang didominasi laki-laki, seorang perempuan bernama Che Laut tampil dengan kemampuan yang tidak biasa. Ia menguasai sejumlah bahasa asing, memahami politik kerajaan-kerajaan di Sumatera, dan mendapat kepercayaan Sultan Deli untuk mendampingi seorang penjelajah Inggris dalam perjalanan penting.

Ada perempuan yang namanya abadi karena menjadi permaisuri. Ada pula yang dikenang sebagai pejuang di medan perang. Namun, sejarah menyimpan sosok perempuan lain yang tidak kalah menarik: mereka yang memainkan peran penting melalui kecerdasan, pengetahuan, dan kemampuan membaca keadaan.

Che Laut, yang juga dikenal dengan nama Cik Laut, adalah salah satu di antaranya.

Namanya muncul dalam catatan perjalanan John Anderson, seorang penjelajah dan utusan Inggris yang mengunjungi pesisir timur Sumatera pada 1823. Dalam catatan tersebut, Che Laut digambarkan sebagai perempuan berusia lanjut dengan kecerdasan dan pengetahuan yang mengesankan.

Ia bukan sekadar perempuan yang tinggal di lingkungan istana. Che Laut memiliki kemampuan bahasa dan pemahaman politik yang membuatnya dipercaya untuk mendampingi Anderson selama perjalanan ke berbagai wilayah di Sumatera.

Kisahnya memperlihatkan bahwa di balik kehidupan kerajaan Melayu yang kerap digambarkan berpusat pada raja, panglima, dan pejabat laki-laki, terdapat perempuan yang mampu menjalankan peran penting dalam urusan pemerintahan dan hubungan antarkerajaan.

Perempuan yang Memikat Perhatian Penjelajah Inggris

Untuk memahami sosok Che Laut, kita perlu kembali ke awal abad ke-19.

Saat itu, pesisir timur Sumatera merupakan kawasan penting bagi perdagangan regional. Pelabuhan-pelabuhan seperti Labuhan Deli menghubungkan kerajaan-kerajaan setempat dengan jaringan perdagangan di Penang, Malaka, dan Singapura.

Berbagai komoditas, mulai dari lada, hasil hutan, hingga barang impor dari luar negeri, bergerak melalui jalur perdagangan tersebut. Hubungan dengan para pedagang asing menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi dan politik kerajaan.

Pada Januari 1823, John Anderson tiba di Deli dalam sebuah perjalanan untuk mengenali keadaan wilayah pesisir timur Sumatera.

Anderson bukan pengunjung biasa. Ia memiliki tugas yang berkaitan dengan kepentingan Inggris di kawasan tersebut. Karena itu, perjalanannya juga mencakup pengamatan terhadap perdagangan, pemerintahan, masyarakat, dan hubungan politik antarkerajaan.

Di tengah perjalanan itulah nama Che Laut muncul.

Dalam bukunya yang terbit pada 1826, Mission to the East Coast of Sumatra in 1823, Anderson menuliskan kesan tentang perempuan tersebut. Catatannya menggambarkan Che Laut sebagai perempuan tua yang luar biasa dan memiliki kecerdasan menonjol.

Anderson juga menyebut kemampuan bahasanya yang luas. Che Laut diketahui menguasai bahasa Cina, Thai, Chuliah, Bengali, dan Aceh.

Kemampuan itu bukan perkara kecil pada zamannya.

Bahasa-bahasa tersebut berkaitan dengan masyarakat dan jaringan perdagangan yang berbeda. Penguasaan bahasa memungkinkan seseorang berkomunikasi melampaui batas kelompok, memahami informasi dari berbagai sumber, dan menjembatani perbedaan budaya.

Bagi seorang perempuan yang hidup di lingkungan Kesultanan Deli pada awal abad ke-19, kemampuan semacam itu menunjukkan pengalaman dan pengetahuan yang patut diperhitungkan.

Dipercaya Sultan Deli Mendampingi John Anderson

Salah satu bagian paling menarik dari kisah Che Laut adalah kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Sultan Deli.

Menurut catatan yang kemudian dirujuk sejarawan Anthony Reid, Sultan Deli menugaskan Che Laut untuk menemani John Anderson dalam perjalanannya mengunjungi berbagai wilayah di Sumatera.

Penugasan ini menarik karena Anderson datang dengan kepentingan yang berkaitan dengan dunia luar, sementara Che Laut memiliki pengetahuan mengenai masyarakat dan politik setempat.

Dalam perjalanan lintas wilayah, pemahaman terhadap bahasa dan kebiasaan masyarakat merupakan modal penting. Begitu pula kemampuan mengenali hubungan kekuasaan, kepentingan para penguasa, serta keadaan politik di suatu daerah.

Anderson menggambarkan Che Laut sebagai perempuan yang mengetahui seluk-beluk politik berbagai negeri di pesisir Sumatera.

Catatan tersebut memberikan gambaran bahwa pengetahuannya melampaui urusan domestik. Ia mengenal keadaan politik kawasan yang terdiri atas berbagai kerajaan dengan kepentingan masing-masing.

Karena itu, penugasan Che Laut tidak dapat dipandang sebagai hal sepele.

Meski demikian, perlu kehati-hatian dalam menyebutnya sebagai diplomat dalam pengertian modern. Sumber yang tersedia menunjukkan bahwa Sultan Deli mempercayainya untuk mendampingi seorang utusan Inggris dan bahwa ia memiliki pengetahuan politik yang luas. Namun, rincian mengenai kewenangan diplomatik formal, mandat perundingan, atau kesepakatan tertentu yang pernah ia hasilkan belum dapat dipastikan dari catatan tersebut.

Yang jelas, Che Laut berada pada posisi yang memungkinkannya berperan sebagai pendamping, penghubung, sekaligus sumber pengetahuan mengenai kawasan yang dikunjungi Anderson.

Bukan Hanya Urusan Politik, Ia Juga Mengenal Perdagangan

Ada sisi lain dari kehidupan Che Laut yang juga menarik perhatian.

Sejumlah tulisan sejarah tentang perdagangan Deli pada abad ke-19 menyebut seorang perempuan bernama Che Laut atau Cik Laut sebagai mata-mata yang bertugas memungut cukai.

Dalam konteks pemerintahan Melayu ketika itu, istilah mata-mata tidak serta-merta merujuk pada mata-mata rahasia seperti yang dikenal sekarang. Istilah tersebut berkaitan dengan fungsi petugas atau pengawas, bergantung pada konteks penggunaannya.

Di Labuhan Deli, perdagangan dan pelayaran berada di bawah pengelolaan syahbandar. Pejabat ini menangani kegiatan perdagangan, baik ekspor maupun impor.

Adapun pemungutan cukai atas barang yang keluar dan masuk pelabuhan menjadi bagian dari mekanisme pemasukan pemerintahan kesultanan.

Sejumlah tulisan mengenai perdagangan garam di Deli dan perkembangan pelabuhan Labuhan Deli mengidentifikasi Che Laut sebagai perempuan yang memegang tugas pemungutan cukai tersebut.

Informasi ini menambah dimensi penting dalam memahami perannya. Ia tidak hanya dikenal karena kemampuan bahasa dan pengetahuan politik, tetapi juga tercatat dalam urusan administrasi perdagangan.

Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: tugas pemungutan cukai dan penugasan mendampingi Anderson tidak otomatis membuktikan bahwa keduanya merupakan jabatan yang dijalankan secara bersamaan. Untuk memastikan hubungan antara kedua peran tersebut, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap sumber primer dan kronologi masing-masing catatan.

Terlepas dari itu, kemunculan namanya dalam dua konteks tersebut memperlihatkan bahwa Che Laut bukan sekadar tokoh yang hidup di pinggiran kehidupan politik Deli.

Mengapa Kemampuan Che Laut Begitu Istimewa?

Untuk memahami arti penting kemampuan Che Laut, kita perlu melihat keadaan Sumatera pada masa itu.

Pesisir timur Sumatera merupakan bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan berbagai masyarakat di Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya.

Pedagang dari beragam latar belakang berinteraksi di pelabuhan. Barang, informasi, dan kepentingan politik bergerak melintasi wilayah yang berbeda bahasa dan kebudayaan.

Dalam keadaan seperti itu, orang yang mampu memahami banyak bahasa sekaligus mengenali situasi politik memiliki keunggulan tersendiri.

Kemampuan Che Laut berbahasa Cina, Thai, Chuliah, Bengali, dan Aceh menjadi bagian paling menonjol dari catatan tentang dirinya.

Penyebutan bahasa-bahasa tersebut juga memperlihatkan luasnya cakrawala pergaulan yang dikenal oleh Anderson melalui sosok Che Laut.

Meski begitu, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ia menguasai seluruh bahasa tersebut dengan tingkat kefasihan yang sama. Catatan sejarah yang tersedia tidak memberikan pengukuran kemampuan bahasanya secara terperinci.

Kita juga belum mengetahui secara pasti bagaimana ia mempelajari bahasa-bahasa itu. Apakah melalui lingkungan perdagangan, perjalanan, hubungan dengan pendatang, atau pengalaman lain, semuanya masih membutuhkan bukti tambahan.

Justru di sinilah daya tarik kisahnya.

Dari catatan yang singkat, kita melihat bayangan seorang perempuan dengan pengetahuan luas. Akan tetapi, perjalanan hidup yang membentuk kecerdasannya masih menjadi bagian sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.

Siapa yang Menulis tentang Che Laut?

Nama Che Laut dapat ditelusuri melalui beberapa sumber yang memiliki kedudukan berbeda dalam penulisan sejarah.

Pertama, John Anderson.

Ia merupakan sumber primer paling penting untuk menelusuri gambaran Che Laut pada awal abad ke-19.

Dalam buku Mission to the East Coast of Sumatra in 1823 yang terbit pada 1826, Anderson mencatat pengalamannya selama perjalanan ke pesisir timur Sumatera. Catatan mengenai Che Laut menjadi bagian dari kesaksiannya tentang masyarakat dan keadaan politik di kawasan tersebut.

Anderson memiliki kelebihan karena menyaksikan keadaan pada masa yang sedang dibahas. Namun, seperti penulis perjalanan lain pada zamannya, catatannya tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan latar belakang, tujuan perjalanan, dan sudut pandangnya.

Kedua, Anthony Reid.

Sejarawan Anthony Reid membahas Che Laut dalam kajiannya mengenai sejarah Asia Tenggara, termasuk dalam karya Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680 yang dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680: Tanah di Bawah Angin.

Dalam pembahasan mengenai peran perempuan sebagai perantara dalam hubungan politik, Reid mengangkat kisah Che Laut dan merujuk catatan John Anderson.

Reid menyoroti kemampuan Che Laut dalam berbahasa serta pengetahuannya mengenai politik negeri-negeri di pesisir Sumatera. Kisah itu digunakan untuk memperlihatkan bahwa perempuan di dunia perdagangan dan politik Asia Tenggara dapat memainkan peran sebagai penghubung antara penguasa, masyarakat, dan orang asing.

Karya Reid membantu menempatkan kisah Che Laut dalam pembahasan yang lebih luas mengenai peran perempuan dalam sejarah kawasan.

Namun, karya tersebut memiliki cakupan waktu utama 1450–1680, sedangkan perjalanan Anderson berlangsung pada 1823. Karena itu, kisah Che Laut harus dipahami sebagai rujukan tambahan dalam pembahasan mengenai peran perempuan, bukan sebagai bukti bahwa peristiwa hidupnya berlangsung pada periode 1450–1680.

Ketiga, para peneliti sejarah perdagangan dan pelabuhan Deli.

Sejumlah tulisan akademik tentang perdagangan di Deli dan perpindahan pelabuhan dari Labuhan Deli ke Belawan turut menyebut Che Laut atau Cik Laut dalam konteks pemungutan cukai.

Tulisan Salt Trading in Deli: Relationship between Karo and Coastal Area in 19th Century menyebut Che Laut dalam konteks petugas pemungut cukai di Deli.

Tulisan-tulisan tersebut berguna untuk menelusuri sisi lain perannya dalam administrasi perdagangan.

Meski demikian, penelitian mengenai pelabuhan tidak selalu menjadikan Che Laut sebagai fokus utama. Karena itu, penyebutan namanya dalam tulisan-tulisan tersebut lebih tepat digunakan sebagai penguat informasi tentang tugasnya daripada sebagai biografi lengkap.

Dari sumber-sumber ini, John Anderson menjadi pintu masuk utama untuk mengenali sosoknya, Anthony Reid memberikan konteks sejarah yang lebih luas, sedangkan kajian perdagangan Deli membantu menjelaskan kemungkinan perannya dalam administrasi pelabuhan.

Perempuan yang Namanya Belum Banyak Dikenal

Kisah Che Laut mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang duduk di singgasana atau memimpin pasukan.

Ada pula sosok yang berpengaruh karena pengetahuan, kecakapan berkomunikasi, dan kemampuannya memahami keadaan di sekitarnya.

Che Laut hidup pada masa ketika perjalanan lintas wilayah membutuhkan pengetahuan tentang bahasa, masyarakat, dan hubungan kekuasaan. Ia tercatat memiliki kemampuan tersebut dan dipercaya oleh Sultan Deli untuk mendampingi John Anderson dalam perjalanannya.

Sayangnya, catatan yang tersedia belum cukup untuk menyusun biografi lengkap tentang dirinya. Kita belum mengetahui tanggal kelahirannya, latar belakang keluarganya, bagaimana ia memperoleh pengetahuan bahasa, atau bagaimana perjalanan hidupnya berakhir.

Kita juga belum memiliki bukti yang cukup untuk merekonstruksi secara terperinci percakapan, negosiasi, atau keputusan politik yang mungkin melibatkan dirinya.

Karena itu, kisah Che Laut masih menyisakan ruang luas bagi penelitian sejarah.

Penelusuran terhadap arsip kerajaan, catatan perjalanan Eropa, dokumen perdagangan, dan naskah Melayu mungkin dapat membuka lebih banyak informasi mengenai kehidupannya.

Satu hal yang telah terlihat dari catatan yang ada ialah bahwa Che Laut bukan sosok yang sepenuhnya luput dari sejarah. Namanya tersimpan dalam sumber yang mencatat keadaan Deli pada abad ke-19.

Di balik nama yang singkat itu, terdapat gambaran seorang perempuan yang memiliki pengetahuan luas dan dipercaya menjalankan tugas penting di lingkungan kesultanan.

Che Laut mungkin tidak meninggalkan monumen atau bangunan yang menyimpan namanya. Namun, catatan sejarah telah memberikan petunjuk bahwa kecerdasan dan peran perempuan dalam kehidupan politik Melayu jauh lebih beragam daripada yang sering kita bayangkan.

Dan mungkin, bagian paling menarik dari kisahnya justru terletak pada pertanyaan yang masih terbuka: berapa banyak perempuan lain pada masa itu yang memiliki kemampuan serupa, tetapi namanya belum berhasil ditemukan kembali oleh sejarah? (Oce)


Diolah dari berbagai sumber


Tags