Nabi Muhammad Dituduh Menjiplak Bibel? Ini Fakta Historisnya
tanjaxNews - Salah satu bukti kebenaran al-Qur’an adalah mampu menyingkap hal-hal ghaib seperti sejarah-sejarah umat terdahulu yang tak terjangkau oleh pengalaman empiris masyarakat Arab saat itu.
Hal ini penting, sebab turunnya ayat ayat sejarah sebenarnya bermula dari orang-orang Yahudi dan Kristen selalu menyerang dan menguji Nabi Muhammad dengan pertanyaan,
"Kalau Muhammad Nabi seharusnya tau ini, tau itu "
Sehingga dilontarkanlah pertanyaan;
Muhammad apa itu Ruh ?
Gimana sejarah Ashabul Kahfi (The Seven Slepers) ?
siapa Zulkarnain ?
Sejarah Yesus, hukum-hukum Musa terdahulu serta berbagai rincian ajaran mereka yang tersembunyi dalam kitab-kitab mereka.
Dan hebatnya al-Quran mampu membungkam pertanyaan-pertanyaan yang terdokumentasi dalam kitab-kitab mereka, sehingga diantara mereka ada yang beriman.
Untuk menolak kenabian Nabi Muhammad, Orientalis hari ini membuat dua alasan utama:
Muhammad adalah orang berpengetahuan
1. Namun pengetahuan Muhammad bukan dari Tuhan, tapi karena dia bisa membaca
2. Karena bisa membaca maka dipastikan Muhammad mengetahui itu dari mencontek sumber-sumber terdahulu, seperti Taurat Yahudi dan Bibel Kristen.
Jika asumsi ini benar, maka ini membuktikan Muhammad bukan Nabi.
Namun jika asumsi orientalis ini salah, maka ini membuktikan Muhammad adalah Nabi.
Lalu Benarkah Nabi Muhammad dapat membaca ?
Orientalis, seperti Theodor Nöldeke menunjukkan beberapa hadits yang seolah-seolah Nabi Muhammad dapat membaca,
"hadits a" hadits b" hadits c"
kemudian Noldeke menguatkan argumennya dengan menafsirkan kata Ummi bukanlah "tidak dapat membaca". Melainkan “Ummat yang tidak memiliki Kitab”.
adapun makna Ummi “Tidak dapat membaca” Noldeke menuduh berasal dari ulama Islam belakangan yang berusaha menutupi kemampuan Muhammad.
Lalu apa makna Ummi yang benar ?
Ibn Manzhur, Ahli Bahasa Arab
معنى الأمي المنسوب إلى ما عليه جَبَلَتْه أمه؛ أي: لا يكتب فهو أمي؛ لأن الكتابة مكتسبة؛ فكأنه نسب إلى ما يولد عليه؛ أي: على ما ولدته أمه عليه
Makna ummi adalah orang yang dinisbatkan kepada keadaan sebagaimana ia dilahirkan oleh ibunya; yaitu tidak dapat menulis. Maka ia disebut ummi karena menulis adalah sesuatu yang diperoleh (hasil belajar), sehingga seakan-akan ia dinisbatkan kepada keadaan asal kelahirannya, yaitu keadaan ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”
Di antara kesaksian awal dalam menjelaskan makna kata “ummi” adalah perkataan sejarawan Ibnu Ishaq (wafat 151 H), penulis sirah Nabi:
كانت العرب أميين لا يدرسون كتابًا، ولا يعرفون من الرسل عهدًا
،“Orang-orang Arab adalah kaum ummi, mereka tidak mempelajari kitab dan tidak mengenal tradisi para rasul sebelumnya.”
Kesaksian Al-Qur’an
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan engkau tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab pun, dan engkau juga tidak menuliskannya dengan tangan kananmu; kalau tidak demikian, niscaya orang-orang yang batil akan tetap berada dalam keraguan.” (QS. Al-‘Ankabut: 48)
Al-Qur’an juga menguatkan hal ini dalam firman-Nya:
“Engkau tidak mengetahui apa itu kitab dan tidak pula apa itu iman.” (QS. Asy-Syura: 52)
Ketidakjujuran kalangan Orientalis dibantah oleh kesaksian Sejarawan Karen Armstrong:
“Tampaknya merupakan penyimpangan pandangan jika menolak tradisi Islam dalam menafsirkan kata ‘ummi’. Tidak ada satu pun indikasi dalam sumber-sumber awal bahwa Muhammad pernah membaca atau menulis. Muhammad mendiktekan ucapannya kepada orang lain, seperti Ali yang terdidik, ketika ia ingin mengirim sebuah surat. Merupakan suatu hal yang sulit dipercaya bahwa Muhammad sepanjang hidupnya menyembunyikan kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang lazim, dan akan sangat sulit mempertahankan ‘kebohongan’ semacam itu mengingat dekatnya kehidupan Muhammad dengan masyarakatnya» . Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet, New York: HarperCollins, 1993, hlm. 88.
Bukti yang terbantahkan adalah Rasulullah justru mengangkat (seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid, dan Muawiyah) yang menuliskan wahyu, menuliskan perjanjian, serta menuliskan surat-surat beliau kepada para raja dan pemimpin berbagai wilayah yang diutus kepadanya oleh Allah, juga kepada para gubernur, wakil, dan petugasnya. Dalam sejarah yang sahih tidak disebutkan bahwa beliau sendiri menulis wahyu atau secara pribadi menulis salah satu dari surat-suratnya.
Jadi ini membantah, ungkapan orientalis bahwa Nabi Muhammad bisa membaca.
—-
Next pertanyaan selanjutnya .
Oke andaikata kita benar kan bahwa Nabi dapat membaca.
Lantas apa Nabi membaca dari Taurat dan Bibel ?
pertanyaannya? Taurat apa yang dibaca ?
Bibel mana yang disimpan ?
Sebab saat itu tidak ada Taurat, Bibel, Talmud yang berbahasa Arab.
Bruce Metzger , profesor Perjanjian Baru dan kesusastraannya, dalam karya rujukannya The Bible in Translation menyatakan bahwa: “Kemungkinan besar terjemahan Arab paling awal dari Bibel baru muncul pada abad ke-8”
Dari orientalis J. M. Rodwell :
“Tidak ada bukti bahwa Muhammad telah menelaah kitab-kitab suci Kristen… perlu diketahui bahwa tidak ada jejak yang jelas tentang keberadaan terjemahan Arab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebelum masa Muhammad… terjemahan Arab tertua Perjanjian Lama yang sampai kepada kita adalah terjemahan dari rabi Saadia al-Fayyumi” .
Peneliti Kristen Mesir Albert Estero
“Mungkin terjemahan-terjemahan Arab Bibel muncul pada periode akhir pemerintahan Umayyah, yakni pada awal abad ke-8”
Hal ini juga disepakati oleh Encyclopedia of Christianity yang menyatakan bahwa “terjemahan-terjemahan Arab berasal dari periode Islam. "
Sementara itu, Encyclopaedia Catholica edisi 1913, ketika membahas terjemahan-terjemahan Arab Bibel, tidak menyebut adanya terjemahan sebelum abad ke-10. Disebutkan bahwa
“terdapat enam atau tujuh terjemahan bagian-bagian Perjanjian Lama dari Septuaginta Yunani, sebagian di antaranya berasal dari abad ke-10” .
Seperti dikatakan oleh Horn—salah satu tokoh penting dari kalangan Kristen konservatif—bahwa “terjemahan-terjemahan Arab Perjanjian Lama tidak melampaui abad ke-10” .
Hal ini diperkuat oleh pernyataan mufasir Yahudi Ibn Ezra (w. 1164 M)
Hal ini juga diakui oleh Paus Koptik Ortodoks saat ini, Tawadros II,:
أوّل ترجمة عربيّة ظهرت أواخر القرن الثامن الميلادي بعد الإسلام بأكثر من مائة عام، قام بها يوحنا أسقف إشبيلية في إسبانيا. كانت ترجمة محدودة لم تشمل كل الكتاب ولم يكن لها الانتشار الكافي
“Terjemahan Arab pertama muncul pada akhir abad ke-8 Masehi, lebih dari 100 tahun setelah Islam, yang dilakukan oleh Yohanes, Uskup Sevilla di Spanyol. Terjemahan itu terbatas, tidak mencakup seluruh kitab, dan tidak memiliki penyebaran yang luas
Tisdall, salah satu tokoh paling terkenal dalam teori “pengaruh” terhadap Al-Qur’an, yang dalam bukunya The Original Sources of the Qur’an menyatakan
"an Arabic version of the New Testament existed in Muhammad's time."
“Tampaknya tidak ada bukti yang memadai bahwa terdapat terjemahan Arab Perjanjian Baru pada masa Muhammad.”
Bibel dan taurat saja belum ada yang bahasa Arab. Bagaimana bisa Nabi dituduh menjiplak.
Baik, seandainya tidak ada Bibel berbahasa Arab.
Untuk membuktikan bahwa Rasulullah ﷺ mengetahui secara rinci isi kitab-kitab suci sebelumnya, diperlukan asumsi bahwa beliau memiliki pengetahuan ensiklopedis tentang kitab-kitab Ahlul Kitab, ajaran-ajaran mereka, sekte-sekte mereka, serta bahasa-bahasa mereka, Nabi Muhammad tak hanya sekadar mampu membaca tapi harus mampu berbahasa Syiria, Yunani dan Ibrani.
Tak hanya itu, juga Nabi harus memiliki sebuah perpustakaan raksasa yang memuat seluruh teks Talmud, Bibel-Bibel Kristen, beragam kitab liturgi, keputusan konsili-konsili gereja, hingga sebagian karya para Bapa Gereja Yunani, serta literatur dari berbagai gereja dan aliran-aliran Kristen.
Pertanyaannya,
Di mana Persputakaan Nabi itu ?
Sebab sekalipun buta huruf itu dinafikan, ia tetap tidak otomatis menjelaskan dari mana asal berita-berita Ahli Kitab dalam Al-Qur’an.
Tugas Anda membuktikan.
“Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu”
(Hud: 49).
-
Sumber: Ngopidiyyah
