Keliru Menyebut Hajar Seorang Budak, Ia adalah Putri Raja
DALAM banyak perdebatan lintas agama khususnya Islam - Kristen, posisi Nabi Ismail As sering jadi topik perdebatan. Di kalangan kekristenan, Ismail dianggap keturunan budak, di mana Ibunya, Hagar (Hajar) disebut sebagai budak dari Mesir. Lanjutannya, menurut kalangan Kristen, Nabi Muhammad SAW adalah keturunan budak, sementara Yesus lebih mulia. Benarkah Siti Hajar seorang budak? Bagaimana dengan silsilah Yesus? Mari kita sigi faktanya.
Dalam artikel Ngopidiyah (Fb) ia menulis; sebelum masuk ke pembahasan, ada satu pertanyaan mendasar: mengapa dalam Islam para nabi selalu dipahami lahir dari nasab yang mulia dan terjaga?
1. Nabi adalah sosok pilihan Allah untuk membawa risalah dan menjadi teladan manusia.
2. Karena itu, seorang nabi harus memiliki kehormatan dan kredibilitas moral yang tinggi agar risalahnya diterima manusia.
3. Sesuatu yang dipandang sebagai aib moral berat akan merusak kehormatan dan wibawa sosial seseorang.
4. Maka secara logis, kenabian tidak ditempatkan pada garis yang dipenuhi aib moral yang meruntuhkan kehormatan tersebut.
Silsilah Yesus
Namun ketika membuka silsilah Yesus dalam Gospel, muncul sejumlah persoalan.
Dalam Gospel Matius, Yesus disebut sebagai keturunan Daud:
“Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud…” (Matius 1:1)
Jalur Matius bergerak melalui:
Yehuda → Peres → … → Daud → Sulaiman → … → Yusuf suami Maria → Yesus.
Perhatikan nama Yehuda, Peres, Daud dan Sulaiman.
Pertama
bagaimana Sulaiman lahir menurut Bibel?
Dalam 2 Samuel 11–12 diceritakan bahwa Daud sedang bersantai di istana di atas gedung
Dari kejauhan ia melihat Batsyeba, istri Uria orang Het, salah satu prajuritnya. Daud kemudian memanggil dan berhubungan dengannya hingga Batsyeba hamil.
Untuk menutupi perbuatannya bejatnya, Daud memanggil Uria pulang dari medan perang agar orang mengira anak itu berasal dari suaminya. Namun Uria menolak pulang karena tidak ingin bersenang-senang sementara pasukan masih berperang.
Ketika rencana itu gagal, Daud mengirim pesan kepada jendralnya agar Uria ditempatkan di garis depan pertempuran hingga akhirnya terbunuh. Setelah Uria mati, Daud mengambil Batsyeba sebagai istrinya.
Nabi Natan kemudian datang menegur Daud dengan keras. Daud menyesali perbuatannya. Setelah itu, dari Batsyeba lahirlah Sulaiman, sosok yang kemudian menjadi jalur silsilah Yesus dalam Injil Matius.
Kesimpulan:
1. Yesus lahir dari nenek moyang pezina
2. Nabi Sulaiman hasil anak pezina.
3. Nabi Dawud diceritakan berperilaku jahat.
Masalah tidak berhenti di sana.
Dalam Matius 1:3 disebutkan:
“Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar.”
Padahal kisah kelahiran Peres dalam Kejadian 38 juga penuh persoalan.
Lantas bagaimana Peres lahir ?
Peres dari hasil perzinaan Yehuda dengan Tamar.
Ketika Yehuda berjalan-jalan dia melihat seseorang wanita dan tertarik pada wanita itu.
“Kejadian 38: (15) “disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.”
Singkatnya terjadi tawar menawar antara Yehuda dengan wanita itu, akhirnya disepakati, dengan harga domba dan sabuk.
Akhirnya mereka berdua bersetubuh.
Setelah itu mereka berdua berpisah.
Yehuda mencari lagi.
“Di manakah perempuan jalang itu…?” (Kejadian 38:21)
Berbulan bulan kemudian, Yehuda mendapat kabar kalau menantunya bernama Tamar Hamil.
Ketika Tamar diketahui hamil, Yehuda bahkan sempat berkata:
“Bawalah perempuan itu, supaya dibakar.” (Kejadian 38:24)
Namun akhirnya terungkap bahwa perempuan yang ia setubuhi bulan lalu adalah menantunya, Tamar. Dari situ Yahuda pun tidak jadi marah.
Dari hubungan inilah lahir Peres, leluhur Daud dan bagian dari silsilah Yesus dalam Injil Matius.
Karena itu muncul pertanyaan teologis yang serius: bagaimana mungkin sosok yang dianggap Tuhan dalam Kristen justru ditarik melalui garis yang dalam teksnya sendiri dipenuhi kisah persundalan, perebutan istri orang lain, dan hubungan yang problematik secara moral?
Muhammad SAW
Berbeda dengan itu, Islam justru menegaskan kesucian nasab para nabi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ما ولدنى من سفاح الجاهلية شيء، ما ولدنى إلا نكاح الإسلام
“Tidak ada satu pun dari perzinaan jahiliyah yang menurunkanku. Aku hanya dilahirkan dari pernikahan yang sah.”
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
خرجت من نكاح، ولم أخرج من سفاح من لدن آدم إلى أن ولدنى أبي وأمي
“Aku lahir dari pernikahan yang sah, bukan dari perzinaan, sejak Adam hingga aku dilahirkan oleh ayah dan ibuku.”
Karena itu, Islam memandang para nabi lahir dari garis yang terjaga kehormatannya, bukan dari jalur yang dipenuhi aib moral dan kisah-kisah yang meruntuhkan kemuliaan kenabian.
Siti Hajar adalah Putri Raja (Princess)
Hajar adalah putri Firaun merupakan salah satu pandangan sejarah dan tafsir yang dikaji oleh pakar filologi Universitas Airlangga, Profesor Menachem Ali.
Berikut adalah rincian pandangan tersebut:
Tafsiran Teks Kuno:
Dalam analisis teks seperti kitab Midrash (seperti Pirkei d'Rav Eliezer) dan tafsir Taurat karya rabi abad pertama Masehi, disebutkan bahwa Hajar adalah putri Firaun. Firaun memberikan putrinya kepada Nabi Ibrahim karena ia tidak ingin menikahkan sang putri dengan sembarang raja lain dan sangat menghormati Ibrahim.
Pandangan Menachem Ali: Menurut Menachem Ali, status Hajar bukanlah budak belian seperti cerita tutur yang beredar di masyarakat luas. Beliau meneliti manuskrip-manuskrip kuno (filologi Judeo-Arab) yang mengindikasikan status Hajar yang sebenarnya adalah putri Raja Mesir (Firaun) pada zaman Nabi Ibrahim.
Perbedaan dengan Narasi Umum:
Narasi ini berbeda dari pandangan umum yang sering beredar dalam cerita masyarakat, yang meyakini bahwa Hajar adalah seorang budak asal Mesir yang diberikan oleh Firaun kepada Siti Sarah.
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai temuan filologis tersebut, Anda dapat menelusuri kajian dan publikasi karya Menachem Ali melalui riset Jurnal Akademik KACA.
![]() |
| Instagram Manachem Ali |
Mengutip tulisan Prof Manachem Ali di akun Instagramnya, ia menulis perihal "Hagar Bat Phar'o/Hajar Putri Firaun".
Berdasarkan beberapa sumber tradisi dan tafsir keagamaan, Firaun Mesir memberikan Hagar (Hajar) sebagai pelayan atau hadiah untuk Sarah. Menurut beberapa literatur Midrash (tradisi rabinik), Hagar sebenarnya adalah putri kandung Firaun sendiri. Firaun menyerahkan putrinya kepada Sarah karena ia percaya putrinya akan lebih aman dan mulia menjadi pelayan di rumah orang yang saleh daripada hidup sebagai nyonya di tempat lain.
Sumber rabbinik kuno yang disebut Pirkei d'Rav Eliezer bab 26, bagaimanapun, adalah komentar midrashik dari Sefer Bereshit 16:1. Ini adalah komentar midrashik otoritatif dari Chumash sebagai תוֹרָה שֶׁבְּעַל פֶּה )torah she be'al peh), secara harfiah "Torah lisan."
Di sini, Rabbi Eliezer secara langsung menegaskan bahwa Hagar adalah seorang putri, lahir dari salah satu selir Firaun. Menurut tradisi midrashik, ketika Firaun mengambil Sarah sebagai istrinya - dalam perjanjian pernikahannya Firaun telah menuliskan untuknya semua harta benda, seperti domba, lembu, keledai, hamba laki-laki dan perempuan, bagal, dan unta (Kejadian 12:16). Namun, Firaun kemudian membawa Sarah dan mengembalikannya kepada Abraham, dan raja sendiri memberikan kepadanya begitu banyak perak, emas, dan banyak pakaian dari linen halus, ungu, dan Hagar, putrinya (Kejadian 13:1-2; 1QapGen., kol. xx, baris 30-32).
Faktanya, Hagar diberikan kepada Sarah sebagai hadiah dari Firaun, raja Mesir. Narasi ini telah didokumentasikan dalam manuskrip kuno dari paruh pertama abad pertama SM, yang ditemukan di Qumran, misalnya "Apokrifon Kejadian" (1Q20 [1QapGen ar]).
Mengutip dari tulisan Dr. Ina Salmah Febriani, M.A., Ustadzah di Cariustadz.id berjudul "Sayyidah Hajar al-Mishriyyah: Potret Perempuan Kuat di balik Risalah Dahsyat", disebutkan begini;
Buku-buku sejarah sering menyebutnya sebagai ‘budak’ Nabi Ibrahim as dan isterinya, Siti Sarah. Namun sebetulnya, Siti Hajar adalah puteri seorang Raja Memphis. Memphis, ibukota kerajaan Mesir Kuno yang terletak di sebelah barat Sungai Nil selatan Cairo (sekarang) sebelum anak-anak sungai nil. Demikian Fathi Fawzi Abdul Mu’thi dalam karyanya an-Nisa’ fi Hayat al-Anbiya’. Ayahanda Siti Hajar diserang oleh pasukan Hexos, pasukan yang berhasil melumpuhkan kerajaan hingga Siti Hajar pun ditangkap dan menjadi tawanan. Setelah Memphis porak poranda, Ibrahim as dan Siti Sarah datang ketika kondisi Palestina pun tengah paceklik. Disinilah kemudian Siti Hajar bertemu dengan isteri Nabi Ibrahim as, Siti Sarah yang hampir saja dilukai oleh raja zalim yang berkuasa di Mesir kala itu.
Interaksi Siti Sarah dan Siti Hajar semakin intens terlebih ketika Siti Hajar diminta untuk ikut hijrah ke Palestina. Hingga saatnya Siti Sarah mengidamkan buah hati namun tak kunjung ada, Nabi Ibrahim as diminta untuk mempersunting Siti Hajar hingga akhirnya Siti Hajar mengandung Nabi Ismail as.
(Oce)

