Otentik versus Kosmetik Anies versus Gimmick
Oleh: Oce Satria
/Jurnalis
MARI kita bicara perihal ruang diskusi rakyat dengan politisi di masa kampanye pilpres ini. Ruang diskusi menjadi penting untuk menggali pikiran dan gagasan seorang tokoh. Pikiran dan gagasan yang otentik, tentunya.
Selama ini masyarakat hanya disuguhi politik kosmetik. Memilih pemimpin nasional melalui cara-cara politik kosmetik. Menggiring opini publik dengan survey-survey yang entah, atau menggerek popularitas yang bisa difabrikasi dan menipu.
Yang kita alami dan lihat selama pengalaman berdemokrasi lewat pemilu dengan kampanye sebagai alat mendapatkan calon pemilih, adalah pengalaman monoton. Membosankan. Nyaris semua bentuk kampanye adalah kampanye mengumpulkan massa yang didandani dengan kaos yang seragam.
Mengumpulkan massa memang bukan perkara gampang. Syukur-ayukur ada yang memang dengan sukarela, tapi lebih banyak karena diongkosi ke lokasi kampanye, ada dengan cara dibayar, dan bentuk-bentuk mobilisisasi model jadul, seperti menghadirkan biduan.
Lalu memajang sang calon dengan cara yang sangat kosmetis, sekadar polesan, joget-joget yang tak otentik sekadar menunjukkan bukti vitalitas. Lantas di tengah itu, massa dijejali dengan orasi-orasi yang membosankan; puja puji, obral janji.
Namun fenomena lama itu sekarang dipatahkan oleh Anies Baswedan dengan cara kampanye yang tak terpikirkan oleh politisi mana pun: Desak Anies. Ia mengubah cara pandang kita pada pola komunikasi massa dan juga politik. Tagline "Perubahan" yang ia usung setidaknya sudah ia mulai dengan cara berkampanye yang sama sekali berubah dari cara lama.
Apa yang dilakukan Anies barangkali seperti apa yang pernah dibicarakan
Rhenald Kasali tahun 2011 silam tentang perubahan. Kasali adalah seorang guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang aktif mendalami konsep daya saing dari Prof. Michael Porter – Havard University, sekaligus seorang pendiri Rumah Perubahan, sebuah wadah kewirausahaan sosial. Rhenald Kasali meluncurkan buku berjudul "Cracking Zone" sebagai serial buku tentang perubahan. Anies boleh jadi sebagai contoh crackers yang dimaksud Kasali.
Seperti juga yang diterobos oleh Anies saat ini. Ini adalah fenomena disrupsi alias gejala cara-cara baru yang menggantikan cara-cara lama. Anies melahirkan disrupsi dalam pengalaman berpolitik di Indonesia, mungkin juga hal baru di dunia.
Ia hadir di tengah ribuan orang yang antusias datang tanpa bayaran, tanpa bagi-bagi kaos, dan tanpa nasi kotak. Orang rebutan ingin ikut. Terbaru, di Semarang bahkan yang mendaftar melewati angka 8.500 orang, selebihnya tak bisa masuk lokasi.
Anies tak memilih kota, tak juga pilih-pilih pertanyaan, dan tak pilih-pilih orang. Penanya beragam, dari pelajar, mahasiswa, karyawan, asisten rumah tangga, konten kreator, artis, komedian, guru, profesor, petani, nelayan, aktivis LSM, sampai lansia. Semua ia ladeni dengan cool dan ia jawab dengan (suka atau tidak) jawabannya selalu brilian.
ia hadir di forum tanya dan jawab tanpa teks, random, dan tanpa diatur-atur. Penanya bebas bertanya dengan cara apapun, lembut atau keras. Ia layani. Ia menjawab dengan logis dan data yang bisa ditelusuri.
Siapa politisi atau capres yang sanggup menghadapi model tanya jawab maraton seperti itu? Tidak ada. Jika pun ada, mungkin harus siap mental menata emosi karena mendapat pertanyaan rakyat tanpa basa basi.
Kenapa Anies seberani itu?
Yang bisa kita amati adalah, Anies memang punya basis pengetahuan yang kuat, pengalaman di birokrasi, sebagai dosen dan rektor, latar belakang pendidikan yang cukup, pengalaman sebagai aktivis, dan kemampuan mempresentasikan gagasannya dengan kalimat yang lugas. Perkara orang menerima atau tak memercayai jawabannya, tergantung seberapa mau orang mengkonfirmasi jawaban-jawaban Anies dengan fakta yang bisa ditelusuri. Tapi setidaknya jawaban-jawaban yang disampaikan Anies menunjukkan ia punya basis pemikiran yang kuat dan inovatif, karena itu, punya bobot.
Fenomena Desak Anies ini setidaknya membuka cara berpikir kita, bahwa menyeleksi calon pemimpin yang paling ideal adalah dengan membongkar langsung "isi kepala"nya. Tanpa settingan. Keotentikan atau keaslian calon dapat dilihat dan diketahui.
Sudah saatnya meninggalkan dan menanggalkan cara-cara usang dengan politik simbolisasi. Tak zamannya lagi "menjual" tokoh dengan simbol simbol seperti: Muda, Tegas, Ikhlas, Cerdas, Ndeso, Merakyat dan semacamnya. Atau hanya mengandalkan gimmick. Bukan karena gimmick itu haram, namun jangan menjadi hal yang dominan. Mengetahui jalan pikirannya secara maraton jauh lebih sehat bagi pencerdasan masyarakat.
Masih ada sisa tiga hari lagi. Tak ada salahnya Prabowo dan Ganjar, atau Gibran dan Mahfud meniru dialog dengan rakyat ala Desak Anies. Tak apa-apa meniru. Supaya kita bisa tahu lebih jauh. Lihat Contoh pada yang Tersudah, Lihat Tuah pada yang Menang.
Salam Pemilu Ramai.
6-2-2024
