News Breaking
Live
update

Breaking News

Asal-Usul Mohamad Sobary: Budayawan dan Esais

Asal-Usul Mohamad Sobary: Budayawan dan Esais



tanjaxNews -- Nama Mohamad Sobary dikenal dalam dunia kebudayaan Indonesia sebagai penulis, esais, sastrawan, pengamat sosial, dan intelektual publik yang banyak mengangkat kehidupan rakyat kecil. Ia akrab disapa Kang Sobary.

Keistimewaan Sobary terletak pada kemampuannya membaca persoalan bangsa melalui pengalaman sehari-hari masyarakat, tradisi Jawa, spiritualitas, dan humor. Ia tidak hanya membicarakan kebudayaan sebagai kesenian atau warisan tradisi, tetapi juga sebagai cara manusia memahami kehidupan, menghadapi ketidakadilan, dan menjaga martabatnya.

Namanya juga dikenal melalui kiprahnya sebagai pemimpin umum Kantor Berita Nasional ANTARA, kolumnis media nasional, serta penulis sejumlah buku yang memadukan kritik sosial, sastra, dan perenungan keagamaan. 

Mohamad Sobary lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 7 Agustus 1952.

Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana. Pengalaman hidup pada masa kecilnya turut membentuk pandangannya tentang kemiskinan, agama, masyarakat, dan hubungan antarmanusia.

Perjalanan pendidikannya pun tidak selalu berjalan mulus. Ketika masih bersekolah, Sobary sempat berhenti belajar karena keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah, termasuk membeli seragam.

Pada awal 1967, ia pindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di SMP Negeri XII Wijaya, Jakarta Selatan. Untuk bertahan hidup, ia pernah melakukan berbagai pekerjaan sederhana, termasuk menyapu jalan dan mengantarkan roti.

Pengalaman tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat kecil di ibu kota. Kelak, pengalaman itu menjadi salah satu sumber kepekaan sosial dalam tulisan-tulisannya.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan bahwa pemikiran seorang intelektual tidak selalu terbentuk hanya dari ruang kelas dan buku. Pengalaman hidup sehari-hari juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang mendalam. 

Latar Belakang Pendidikan

Riwayat pendidikan Mohamad Sobary memperlihatkan perjalanan dari pendidikan pekerjaan sosial menuju kajian ilmu sosial dan kebudayaan.

Berikut tahapan pendidikan yang diketahui dari berbagai sumber biografi dan pemberitaan.

Setelah menyelesaikan SMP, Sobary melanjutkan pendidikan di Sekolah Pekerjaan Sosial Atas Negeri Jakarta.

Ia berhasil menempuh pendidikan tersebut dengan bantuan beasiswa dari Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Pendidikan pekerjaan sosial menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan intelektualnya. Bidang ini membekali seseorang dengan perspektif mengenai kehidupan masyarakat, persoalan kesejahteraan, dan hubungan sosial.

Universitas Indonesia

Sobary kemudian melanjutkan studi di Universitas Indonesia (UI), pada Jurusan Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Latar belakang akademik ini relevan dengan kecenderungannya menulis tentang kehidupan masyarakat, ketimpangan sosial, persoalan kebijakan publik, dan hubungan antara kebudayaan dengan kekuasaan.

Monash University, Australia

Ia juga menempuh pendidikan di Monash University.

Sejumlah profil biografi mencantumkan Monash University dalam riwayat pendidikannya, meskipun rincian program dan tahun kelulusannya tidak selalu dijelaskan.

Meraih gelar doktor di Universitas Indonesia

Pada Februari 2016, Sobary menyelesaikan pendidikan doktor di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UI.

Disertasinya berjudul Perlawanan Politik dan Puitik (Ekspresi Politik Petani Temanggung).

Penelitian tersebut membahas bagaimana petani tembakau di Temanggung mengekspresikan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah melalui berbagai bentuk aksi politik, simbol budaya, doa, kidung, tarian, dan ritual.

Disertasi ini memperlihatkan pendekatan khas Sobary: memahami tindakan sosial bukan hanya melalui peristiwa politik yang terlihat, melainkan juga melalui simbol, tradisi, dan makna yang hidup di tengah masyarakat.

Ia meraih predikat sangat memuaskan dalam ujian doktornya. 

Catatan penting: Sobary dikenal luas sebagai budayawan dan esais, tetapi ia juga memiliki landasan akademik ilmu sosial yang kuat. Kombinasi pengalaman lapangan, kajian sosial, dan kemampuan menulis sastra menjadi ciri perjalanan intelektualnya.

Perjalanan Karier: Dari Peneliti hingga Pemimpin ANTARA

Kiprah Mohamad Sobary tidak terbatas pada dunia penulisan. Ia juga pernah bekerja di lembaga sosial, lembaga penelitian, media massa, dan organisasi yang bergerak dalam pembaruan tata kelola pemerintahan.

Berikut beberapa bagian penting perjalanan kariernya.

Bekerja di lembaga sosial

Pada awal kariernya, Sobary bekerja di Christian Children's Fund pada 1978–1979.

Ia kemudian bergabung dengan Divisi Komunikasi Yayasan Indonesia Sejahtera dan bekerja di sana hingga 1993, menurut salah satu profil biografinya.

Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya sebelum dikenal luas sebagai intelektual publik.

Menjadi peneliti di LIPI

Sobary juga dikenal pernah menekuni penelitian kebudayaan dan agama di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Pengalaman penelitian tersebut membantu menjelaskan mengapa tulisan-tulisannya sering melampaui komentar sehari-hari. Ia berusaha memahami latar sosial, sistem nilai, dan cara masyarakat memberikan makna terhadap pengalaman hidupnya.

Memimpin Kantor Berita ANTARA

Salah satu jabatan penting dalam kariernya adalah sebagai pemimpin umum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA.

Ia memimpin lembaga tersebut pada awal 2000-an. Sumber biografi mencatat masa jabatannya dalam rentang yang sedikit berbeda, yakni 1999–2004 atau Maret 2000–Juli 2005. Karena perbedaan pencatatan itu, periode persis jabatannya perlu dirujuk pada arsip resmi ANTARA jika diperlukan untuk kepentingan biografi formal.

Pengalaman memimpin kantor berita nasional mempertemukan latar belakangnya sebagai penulis dan pengamat sosial dengan dunia jurnalistik serta pengelolaan media.

Direktur Eksekutif Kemitraan

Setelah berkiprah di ANTARA, Sobary menjabat Direktur Eksekutif Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, yang dikenal dengan nama Partnership for Governance Reform.

Ia menjalankan jabatan tersebut hingga Juli 2009 menurut profil biografinya.

Organisasi ini bergerak dalam isu pembaruan tata kelola pemerintahan. Kiprah Sobary di sana memperlihatkan bahwa perhatiannya terhadap kehidupan masyarakat juga bersentuhan dengan persoalan demokrasi, kebijakan publik, dan hubungan antara pemerintah dengan warga negara. 

Kolom Asal-Usul: Membaca Indonesia dari Kehidupan Sehari-hari

Salah satu kiprah Mohamad Sobary yang dikenal luas adalah aktivitasnya sebagai kolumnis dan penulis esai di media massa nasional.

Namanya lekat dengan rubrik Asal-Usul di harian Kompas Minggu.

Dalam tulisan-tulisannya, ia kerap membicarakan persoalan sosial, kebudayaan, agama, politik, dan watak masyarakat melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sobary tidak selalu memulai pembahasan dari teori besar atau istilah akademik yang rumit. Ia bisa mengangkat pengalaman sederhana, perilaku orang biasa, cerita rakyat, atau kebiasaan masyarakat, kemudian menghubungkannya dengan persoalan yang lebih luas.

Pendekatan semacam ini membuat esainya dapat dibaca sebagai perpaduan antara pengamatan sosial, refleksi kebudayaan, dan kritik terhadap kehidupan publik.

Ia juga menggunakan humor dan ironi untuk membicarakan persoalan serius. Dengan cara itu, kritik sosial tidak selalu hadir sebagai ceramah, melainkan sebagai cerita yang mengundang pembaca berpikir.

Dalam konteks kebudayaan Indonesia, gaya tersebut menjadi salah satu ciri khas Sobary sebagai esais.

Membela Martabat Rakyat Kecil melalui Sastra

Salah satu ciri penting pemikiran Mohamad Sobary adalah perhatiannya terhadap kehidupan masyarakat kecil.

Dalam karya-karyanya, masyarakat kelas bawah tidak semata-mata digambarkan sebagai kelompok yang mengalami kesulitan ekonomi. Mereka juga memiliki pengetahuan, humor, keyakinan, daya tahan, dan kemampuan untuk memahami kehidupan.

Pandangan ini menarik karena berbeda dari pendekatan yang hanya melihat rakyat kecil sebagai korban keadaan.

Dalam wawancara yang diterbitkan NU Online pada November 2025, Sobary menjelaskan bahwa ia menulis tentang kelas sosialnya sendiri. Ia juga menyoroti humor sebagai salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi tekanan kehidupan. 

Bagi Sobary, humor bukan sekadar alat untuk menghibur. Dalam kehidupan masyarakat, humor juga dapat menjadi cara menyampaikan kritik, menjaga harga diri, dan menghadapi situasi yang sulit.

Perspektif ini terlihat dalam beberapa karya sastranya.

Kang Sejo Melihat Tuhan

Buku Kang Sejo Melihat Tuhan, yang terbit pada 1993, merupakan salah satu karya Sobary yang paling dikenal.

Melalui tokoh Kang Sejo, Sobary mengeksplorasi spiritualitas orang biasa. Tokohnya tidak tampil sebagai ahli agama atau pemikir yang menguasai istilah teologis, tetapi sebagai manusia sederhana yang menjalani kehidupan dengan keyakinan dan pemahaman khasnya.

Kang Sejo menjadi sarana untuk memperlihatkan bahwa pengalaman religius dan pencarian makna hidup juga hadir dalam kehidupan rakyat biasa.

Dalam pembacaan atas karya ini, kesederhanaan bahasa dan pengalaman hidup sehari-hari justru menjadi jalan menuju pertanyaan yang mendalam tentang Tuhan, kemanusiaan, dan kehidupan.

Sufisme Jawa dan kritik sosial

Sobary juga dikenal memiliki ketertarikan pada sufisme Jawa dan hubungan antara spiritualitas dengan kehidupan sosial.

Perhatiannya terhadap tradisi tersebut tidak berhenti pada pembahasan ritual. Ia juga menelaah nilai-nilai seperti kesederhanaan, pengendalian diri, kebijaksanaan, dan cara manusia memperlakukan sesamanya.

Dalam tulisan dan wawancaranya, pengalaman spiritual kerap berhubungan dengan kritik terhadap perilaku sosial, termasuk kesombongan, ketidakadilan, dan kecenderungan manusia mengutamakan kepentingan sendiri.

Dengan demikian, spiritualitas dalam pemikiran Sobary tidak semata-mata merupakan urusan pribadi. Ia juga berkaitan dengan etika kehidupan bersama. 

Persahabatan Intelektual dengan Gus Dur

Nama Mohamad Sobary juga sering dikaitkan dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Hubungan intelektual keduanya menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Sobary. Ia mengenang dan membahas pemikiran Gus Dur, terutama mengenai kemanusiaan, keindonesiaan, demokrasi, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Sobary menulis buku Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur, yang diterbitkan pada 2010.

Buku tersebut menjadi salah satu bentuk dokumentasi pemikiran dan keteladanan Gus Dur sebagaimana dipahami Sobary.

Gus Dur sendiri dikenal sebagai tokoh yang menempatkan kemanusiaan dan penghormatan terhadap kelompok berbeda sebagai bagian penting dari kehidupan berbangsa. Perhatian Sobary terhadap pemikiran Gus Dur sejalan dengan minatnya yang lebih luas pada hubungan antara kebudayaan, etika, agama, dan demokrasi.

Namun, Sobary tidak hanya dikenal sebagai penulis tentang Gus Dur. Ia memiliki jalur pemikiran dan karya sendiri yang berkembang melalui penelitian sosial, sastra, esai, serta pengamatan terhadap kehidupan masyarakat. 

Karya-Karya Mohamad Sobary

Selain menulis kolom dan esai, Sobary menghasilkan sejumlah buku yang membahas sastra, kebudayaan, sosial-politik, spiritualitas, dan kehidupan berbangsa.

Berikut beberapa karya yang tercatat dalam sumber biografi dan katalog buku;

1993, Kang Sejo Melihat Tuhan, spiritualitas kehidupan rakyat kecil, dan persoalan sosial.

1999, Kisah Karna dan Dendam Kita, refleksi sosial-politik melalui kisah dan simbol.

2004, Singgasana dan Kutu Busuk, fiksi dan kritik sosial.

2007, Sang Musafir, fiksi dan drama.

2009, Kidung, novel

2010, Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur, pemikiran dan keteladanan Gus Dur

Daftar tersebut merupakan pilihan karya yang terdokumentasi, bukan keseluruhan bibliografi Sobary. 

Apa yang membuat karya-karyanya menarik?

Ada tiga kecenderungan yang dapat ditemukan dalam karya-karya tersebut.

Pertama, kehidupan rakyat kecil sebagai sumber pengetahuan.

Sobary memberikan ruang kepada pengalaman orang biasa untuk menjelaskan persoalan yang lebih besar. Ia menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri dalam memahami agama, kekuasaan, dan kehidupan.

Kedua, perpaduan sastra dan kritik sosial.

Cerita, tokoh rekaan, humor, dan ironi menjadi sarana untuk membicarakan persoalan masyarakat tanpa harus selalu menggunakan bahasa akademik.

Ketiga, hubungan antara spiritualitas dan etika sosial.

Ia menaruh perhatian pada bagaimana keyakinan dan tradisi dapat membentuk sikap manusia terhadap sesamanya.

Ketiga kecenderungan ini membantu menjelaskan mengapa Sobary dapat dikenal sekaligus sebagai budayawan, esais, sastrawan, dan pengamat sosial.

Disertasi tentang Perlawanan Puitik Petani Temanggung

Salah satu kiprah akademik Sobary yang menarik perhatian adalah penelitian tentang perlawanan petani tembakau di Temanggung.

Disertasi tersebut berjudul Perlawanan Politik dan Puitik (Ekspresi Politik Petani Temanggung) dan dipertahankan di FISIP UI pada Februari 2016.

Penelitian ini berangkat dari gerakan petani yang menentang kebijakan pemerintah terkait pengaturan tembakau. Sobary mengamati bahwa perlawanan mereka tidak hanya berlangsung melalui demonstrasi atau tuntutan politik, tetapi juga melalui ekspresi kebudayaan.

Doa, kidung, tarian, simbol, dan ritual menjadi bagian dari cara petani menyampaikan aspirasi serta membangun solidaritas.

Ia menggunakan pendekatan interpretatif untuk memahami makna di balik tindakan tersebut.

Dengan pendekatan itu, kebudayaan tidak diperlakukan sebagai hiasan dalam sebuah gerakan politik. Kebudayaan justru menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan tuntutan, membangun identitas, dan memperjuangkan keadilan.

Penelitian ini juga mengajukan gagasan bahwa perlawanan sosial dapat membuka ruang dialog mengenai kebijakan publik dan demokrasi.

Disertasi tersebut memperlihatkan pertemuan antara pengalaman Sobary sebagai penulis, kepekaannya terhadap masyarakat kecil, dan latar belakang akademiknya dalam ilmu kesejahteraan sosial. 

Pandangan tentang Kebudayaan dan Masa Depan Indonesia

Bagi Mohamad Sobary, kebudayaan memiliki hubungan erat dengan kualitas kehidupan berbangsa.

Dalam sebuah orasi budaya di kawasan Borobudur pada Mei 2010, ia menyampaikan pentingnya orientasi kultural untuk membantu bangsa Indonesia membangun kepekaan terhadap kebenaran, kemanusiaan, dan keadilan.

Ia juga menekankan pentingnya proses belajar yang terus-menerus dalam kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan, dalam pemikirannya, tidak hanya berhubungan dengan pertunjukan seni, karya sastra, atau pelestarian tradisi.

Kebudayaan juga menyangkut nilai yang mendasari perilaku manusia: bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan, memperlakukan orang lain, mempertanggungjawabkan tindakannya, dan membangun kehidupan bersama.

Dengan pengertian seperti itu, kritik kebudayaan dapat menjadi kritik terhadap cara sebuah masyarakat menjalankan kehidupan politik dan sosialnya. 

Mengapa Mohamad Sobary Penting dalam Peta Budaya Indonesia?

Untuk memahami posisi Mohamad Sobary, kita dapat melihat beberapa sisi kiprahnya secara bersamaan.

Sebagai penulis, ia memperkenalkan cara bertutur yang menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan pertanyaan sosial dan kemanusiaan.

Sebagai budayawan, ia membaca tradisi, spiritualitas, dan humor sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat.

Sebagai peneliti, ia menunjukkan bahwa tindakan sosial perlu dipahami melalui konteks dan makna yang hidup di dalam masyarakat.

Sebagai pengelola media, ia pernah memimpin kantor berita nasional dan berkiprah dalam organisasi pembaruan tata kelola pemerintahan.

Sebagai intelektual publik, ia terlibat dalam percakapan mengenai demokrasi, keadilan sosial, agama, dan masa depan Indonesia.

Kekuatan pendekatannya terletak pada upaya menghubungkan dunia pemikiran dengan pengalaman konkret manusia.

Ia tidak hanya bertanya bagaimana masyarakat seharusnya hidup menurut teori, tetapi juga bagaimana orang-orang biasa benar-benar menjalani kehidupan, menemukan makna, dan menghadapi persoalan yang mereka hadapi.

Mohamad Sobary merupakan sosok yang mempertemukan dunia sastra, penelitian sosial, jurnalistik, dan refleksi kebudayaan.

Perjalanan hidupnya dari Bantul menuju dunia akademik dan media nasional turut membentuk perhatian yang kuat terhadap kehidupan rakyat kecil. Sementara itu, karya-karya seperti Kang Sejo Melihat Tuhan dan Jejak Guru Bangsa: Mewarisi Kearifan Gus Dur memperlihatkan minatnya terhadap hubungan antara spiritualitas, kemanusiaan, dan kehidupan berbangsa.

Jika ada satu benang merah yang menghubungkan berbagai kiprahnya, benang merah itu adalah upaya memahami manusia melalui kebudayaan dan pengalaman hidupnya sendiri.

Bagi Sobary, rakyat kecil bukan sekadar objek yang perlu dibicarakan oleh kaum terpelajar. Mereka juga merupakan pemilik pengetahuan, kebijaksanaan, dan cara pandang yang layak didengar.

Dari sanalah ia membangun kritik sosialnya: bukan hanya dengan teori dan argumentasi, tetapi juga melalui cerita, humor, sastra, dan perenungan tentang kehidupan sehari-hari. (Oce)

Dinukil dari berbagai sumber

Tags