Paulus dan Yesus Kristus dalam Teropong Oksidentalisme dan Kristologi
Oleh Buni Yani*)
Semua mahasiswa Jurusan Sastra Inggris, Prancis, Jerman dan bahasa-bahasa Barat lainnya bisa digolongkan sebagai oksidentalis, meskipun, misalnya, mereka hanya tertarik mempelajari bahasa saja. Di Fakultas Sastra, yang kini berubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya, di samping belajar bahasa negeri-negeri itu, mahasiswa juga mempelajari kebudayaan mereka.
Saya ingat di Fakultas Sastra dulu, mahasiswa harus mengambil mata kuliah wajib fakultas bernama Sejarah Pemikiran Modern (SPM). Mata kuliah ini, karena mempelajari pemikiran “modern”—dan kata modern identik dengan sesuatu yang berasal dari Barat—maka pemikiran yang dibahas dan konteks sosial-budaya yang dipelajari semuanya berasal Barat. Karena ini mata kuliah wajib fakultas, maka mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia dan Sastra Daerah (Jawa, Bali) juga wajib mengambilnya.
Di Jurusan Sastra Inggris, mahasiswa harus mengambil mata kuliah English Literature and Social Background (ELS) yang serinya kalau tidak salah sampai empat, atau dipelajari sampai empat semester. Dalam mata kuliah ini dosen membahas mengenai latar belakang sosial dan budaya Inggris yang menghasilkan karya sastra dalam bentuk prosa, puisi, dan drama.
Kosa kata Bahasa Inggris sendiri banyak sekali dipengaruhi oleh Bahasa Yunani berkat penyebaran agama Kristen yang salah satu kitabnya, Perjanjian Baru, ditulis dalam Bahasa Yunani Koine. Diperkirakan sekitar 40 ribu hingga 150 ribu kata Bahasa Inggris, atau sekitar lima persen darinya, berasal dari Bahasa Yunani.
Maka sebagai oksidentalis, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris mau tidak mau terpapar juga oleh Kristologi meskipun mereka tidak secara khusus mempelajari subyek ini. Kristologi harus dipelajari bila ingin benar-benar memahami budaya dan peradaban Barat. Kekristenan telah membentuk secara mendalam manusia Barat yang kita kenal dewasa ini.
Para rasul dan penulis Bible menggunakan Bahasa Yunani Koine untuk menyebarkan Kekristenan ke seluruh Kekaisaran Romawi. Ketika Bible diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris Kuno dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, banyak istilah keagamaan tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa lokal. Akibatnya, kata-kata Yunani tersebut langsung diserap, seringkali melalui Bahasa Latin sebagai perantara.
Seiring berkembangnya Kekristenan dan menjadi agama dominan di Eropa, kosa kata keagamaan ini menjadi bagian integral dari leksikon Bahasa Inggris. Banyak istilah mendasar dalam Kekristenan Inggris berasal langsung dari Bahasa Yunani. Contohnya: angel (malaikat) berasal dari kata Yunani angelos yang berarti "utusan", baptize (membaptis) berasal dari kata Yunani baptizo yang berarti "menyelamkan" atau "mencelupkan", Christ (Kristus) berasal dari kata Yunani Christos (Χριστός) yang berarti "yang diurapi", church (gereja) berasal dari kata Yunani kuriakon (milik Tuhan) atau ekklesia (perkumpulan orang yang dipanggil keluar), dan masih banyak lagi.
Di Indonesia, topik paling menarik dari bidang Oksidentalisme, khususnya Kristologi, adalah mengenai asal-muasal agama Kristen yang telah membentuk peradaban Barat modern. Pertanyaan paling penting adalah, yang juga diajukan oleh para ahli Perjanjian Baru di Barat, dari manakah datangnya agama Kristen?
Dalam bukunya Paul and Jesus: How the Apostle Transformed Christianity (2012), sejarawan agama James D Tabor berpendapat bahwa yang mendirikan agama Kristen adalah Paulus, bukan Yesus Kristus. Pendapat Tabor ini bukanlah sembarang pendapat. Dia dikenal sebagai sarjana yang sudah melahirkan banyak karya ilmiah bermutu.
Tabor adalah seorang sarjana Bible Amerika dan profesor emeritus Yudaisme Kuno dan Kekristenan Awal di Jurusan Studi Agama di University of North Carolina di Charlotte, tempat ia mengajar dari tahun 1989 sampai 2022 dan menjabat sebagai ketua jurusan dari tahun 2004 sampai 2014.
Sebelumnya ia bekerja di Ambassador College, University of Notre Dame, dan College of William and Mary. Tabor adalah pendiri dan direktur Original Bible Project, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk membuat terjemahan baru Bible dalam Bahasa Inggris. Ia menempuh pendidikan di Abilene Christian University, di mana ia memperoleh gelar BA dalam bahasa Yunani Koine dan Bible. Setelah memperoleh gelar MA dari Pepperdine University, ia mengajar bahasa Yunani dan Iberani di Ambassador College.
Tabor meraih gelar PhD di University of Chicago pada tahun 1981 dalam bidang Perjanjian Baru dan literatur Kristen Awal, dengan penekanan pada asal-usul Kekristenan dan Yudaisme kuno, termasuk Gulungan Laut Mati, Yohanes Pembaptis, Yesus, Yakobus yang Adil, dan Paulus Sang Rasul. Ia menulis sejumlah buku dan sering dimintai pendapat oleh media mengenai topik-topik tersebut.
Buku-buku yang telah ditulisnya adalah The Lost Mary: Rediscovering the Mother of Jesus (2025), Restoring Abrahamic Faith (2025), Paul and Jesus: How the Apostle Transformed Christianity (2012), The Jesus Discovery: The New Archaeological Find That Reveals the Birth of Christianity (2012), The Jesus Dynasty: A New Historical Investigation of Jesus, His Royal Family, and the Birth of Christianity (2006), Invitation to the Old Testament (2005), Why Waco?: Cults and the Battle for Religious Freedom in America (1995), A Noble Death: Suicide and Martyrdom Among Christians and Jews in Antiquity (1992), dan Things Unutterable: Paul's Ascent to Paradise in Its Graeco-Roman, Judaic and Early Christian Contexts (1986).
Dalam buku Paul and Jesus: How the Apostle Transformed Christianity, Tabor berpendapat bahwa Paulus mendirikan agama baru yang berbeda dengan ajaran agama Yahudi asli, ajaran Yesus serta para pengikut terdekatnya. Buku ini menggunakan surat-surat Paulus—dokumen Kristen paling awal—untuk merekonstruksi sejarah perselisihan tajam dan perebutan kekuasaan dalam agama Kristen yang baru lahir.
Tabor menyajikan beberapa argumen untuk mendukung tesisnya bahwa versi Kekristenan Paulus pada akhirnya menang atas "Kekristenan Yahudi" yang asli.
Pertama, pergeseran ajaran dari Yesus Sang Mesias menjadi Juru Selamat Universal. Pesan asli Yesus, menurut Tabor, awalnya berfokus pada kedatangan Kerajaan Allah di Bumi dalam kerangka ajaran Yahudi. Namun Paulus di lain pihak mengubah pesan ini menjadi doktrin keselamatan rohani yang berpusat pada Yesus sebagai juru selamat universal yang mati untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Yesus, lanjut Paulus, dibangkitkan untuk menjamin kehidupan abadi bagi semua yang percaya, sebuah konsep yang lebih sesuai dengan pemikiran Yunani-Romawi daripada eskatologi Yahudi.
Kedua, penghapusan hukum Taurat Yahudi. Gereja Yerusalem, yang dipimpin oleh Yakobus dan Petrus, berpendirian bahwa para pengikut, termasuk orang-orang non-Yahudi yang baru masuk Kristen, harus mematuhi hukum Taurat, termasuk sunat dan pelarangan terhadap beberapa makanan (seperti babi). Di lain pihak, Paulus memperbolehkan orang-orang non-Yahudi tidak mengikuti ajaran ini dengan alasan bahwa keselamatan datang melalui iman kepada Yesus saja. Ini membuat hukum Taurat menjadi tidak penting lagi.
Ketiga, persaingan otoritas. Buku ini menyoroti keretakan antara Paulus dan para rasul asli murid Yesus. Tabor merujuk pada pertobatan Paulus setelah mengaku secara sepihak melihat Yesus yang membuatnya percaya bahwa ia punya otoritas. Paulus merasa punya otoritas untuk menggantikan para rasul, padahal para rasul inilah yang mengenal Yesus secara pribadi. Paulus mengecilkan atau bahkan menghilangkan peran Yakobus dan Petrus dalam surat-suratnya.
Keempat, mengenai pengembangan kanon. Tabor berpendapat bahwa versi Kekristenan yang menjadi dominan sangat dipengaruhi oleh interpretasi Paulus. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru selanjutnya, seperti Kisah Para Rasul, ditulis dengan bias yang berfokus pada Paulus. Pengaruh Yakobus dan gereja Yerusalem secara sistematis dihilangkan dari catatan sejarah.
Tabor menyimpulkan bahwa Kekristenan modern pada intinya adalah Kekristenan versi Paulus. Dengan memisahkan ajaran tersebut dari akar Yahudi dan merumuskan ulang pesan Yesus untuk jemaat yang lebih luas, Paulus memastikan Kekristenan versinya akan menarik seluruh dunia Romawi. Terbukti kemudian agama Kristen yang dibawa Paulus menjadi keyakinan dominan seperti yang kita kenal dewasa ini.
Pertanyaannya, bagaimana cara kerja Tabor hingga sampai pada kesimpulan tersebut? Tabor mendasarkan tesisnya pada analisis kritis terhadap sumber-sumber utama Kekristenan awal, terutama dengan membandingkan surat-surat asli Paulus dengan kitab Kisah Para Rasul yang ditulis belakangan, serta dengan menempatkan gerakan tersebut dalam konteks Yahudi dan Helenistik yang lebih luas.
Bukti-bukti utama yang diajukan Tabor di antaranya adalah, pertama, analisis surat-surat Paulus yang otentik. Tabor mengandalkan tujuh surat Paulus yang secara luas diterima oleh para sarjana sebagai tulisan asli Paulus (misalnya, Galatia, Roma, 1 & 2 Korintus) sebagai sumber paling terpercaya mengenai pemikiran dan konflik Paulus.
Kesaksian pribadi Paulus tentang otoritas menjadi perhatian Tabor. Paulus menekankan bahwa Bible-nya berasal dari wahyu langsung dari Yesus Kristus yang telah bangkit, bukan dari para rasul di Yerusalem. Ini menunjukkan klaim sepihak yang merendahkan otoritas para murid asli yang mengenal Yesus secara fisik. Paulus sendiri tidak pernah berjumpa sekali pun dengan Yesus ketika masih hidup.
Konflik terbukanya dengan Petrus adalah sesuatu yang ganjil. Surat Galatia merinci perselisihan tersebut. Tabor menunjuk pada konfrontasi terbuka Paulus dengan Petrus di Antiokhia mengenai perlakuan terhadap orang-orang non-Yahudi yang bertobat (apakah mereka harus mengikuti hukum Yahudi atau tidak) sebagai bukti perpecahan doktrinal yang mendalam. Ini jelas bukan sekadar ketidaksepakatan kecil.
Pengenalan konsep mistik juga menjadi hal yang baru dalam Kekristenan versi Paulus. Paulus memperkenalkan ide-ide seperti "baptisan ke dalam Kristus" (baptisan mistik) dan perjamuan ritual makan "tubuh dan darah" Kristus, yang menurut Tabor, lebih dekat dengan budaya Yunani-Romawi daripada praktik Yahudi. Sulit membayangkan hal-hal ini diajarkan oleh Petrus dan Yakobus.
Bukti kedua adalah kontras penilaian Paulus dengan kitab Kisah Para Rasul. Tabor berpendapat bahwa kitab Kisah Para Rasul, yang ditulis beberapa dekade setelah surat-surat Paulus, sengaja menyamarkan atau meminimalkan konflik ini untuk menciptakan narasi persatuan. Di mana surat-surat Paulus mengungkapkan gereja yang penuh perselisihan dan faksi, Kisah Para Rasul menggambarkan Paulus menyatu dengan cepat ke dalam komunitas apostolik dan bekerja sama secara harmonis dengan Petrus dan Yakobus.
Singkatnya, Tabor secara kritis keluar dari pemahaman umum Kekristenan dalam memahami peran Paulus dan Yesus dalam sejarah Kekristenan awal.
Sarjana lain, yaitu Bart D Ehrman, seorang ahli kitab Perjanjian Baru, juga dari Amerika, berpendapat bahwa Paulus adalah tokoh kunci dalam pembentukan dan penyebaran agama Kristen awal. Berbeda dengan Tabor, Ehrman menolak pandangan bahwa Paulus adalah "pendiri" agama Kristen yang menciptakan ajaran baru. Ehrman menekankan peran Paulus sebagai penafsir utama dan penyebar Bible ke dunia non-Yahudi yang memodifikasi ajaran Yesus yang semula berfokus pada Yudaisme menjadi agama universal.
Ehrman memulai karir akademisnya sebagai seorang Kristen evangelis yang taat, belajar di Moody Bible Institute dan Wheaton College dengan tujuan untuk membuktikan kebenaran Bible. Namun, studi mendalamnya tentang manuskrip Yunani kuno di Princeton Theological Seminary, di mana ia menemukan banyak variasi dan perubahan teks dalam salinan Bible awal, menyebabkannya mengalami krisis iman dan akhirnya menjadi agnostik.
Melalui karirnya yang panjang di University of North Carolina di Chapel Hill, Ehrman telah menulis dan mengedit lebih dari 30 buku, enam di antaranya menjadi New York Times Bestsellers. Bagi Ehrman, Paulus bukanlah penemu ajaran yang sepenuhnya baru yang terpisah dari Yesus, melainkan seorang murid yang menafsirkan pewartaan Yesus dalam konteks dunia Yunani-Romawi.
Ehrman menyoroti perbedaan fokus antara ajaran Yesus dan Paulus. Ajaran Yesus diyakini lebih fokus pada Kerajaan Allah yang akan datang dan etika hidup, dan disampaikan kepada Bani Israil. Sebaliknya, Paulus lebih fokus pada iman kepada kematian dan kebangkitan Yesus sebagai penebus dosa—yaitu ajaran yang dibuat untuk khalayak yang lebih luas, termasuk non-Yahudi.
Pandangan-pandangan ini tersebar di beberapa buku karya Bart Ehrman. Pembahasan mengenai kehidupan dan teologi Paulus dapat ditemukan khususnya dalam buku Peter, Paul and Mary Magdalene: The Followers of Jesus in History and Legend (2006) dan The Triumph of Christianity: How a Forbidden Religion Swept the World (2018).
Paulus adalah tokoh sentral bagi Ehrman. Paulus disebut sebagai penyebar Kekristenan yang paling efektif kepada dunia non-Yahudi. Paulus adalah seorang Yahudi Helenistik yang terpelajar yang mengembangkan teologi keselamatan melalui iman pada kematian dan kebangkitan Yesus, sebuah penafsiran yang berbeda dari fokus Yesus sendiri pada Kerajaan Allah yang akan datang.
Pandangan ahli-ahli Bible seperti ditunjukkan oleh Tabor dan Ehrman sudah sangat biasa kita jumpai di negara-negara Barat. Bagaimanapun kontroversialnya pandangan mereka, tidak ada yang menganggapnya sebagai penistaan terhadap agama karena dikerjakan dengan metodologi ilmiah yang ketat. Sumbangan kesarjanaan mereka pada dunia akademik membuka mata pemeluk agama di dunia dalam mencari kebenaran sejati.
Indonesia tentu saja bisa belajar dari negara-negara Barat dalam soal-soal akademik. Oksidentalisme akan berkembang pesat di tanah air, sama seperti Orientalisme di Barat, bila tradisi keilmuan tumbuh subur. Iklim keilmuan yang buruk dalam 10 tahun Jokowi berkuasa, dan sekarang ijazahnya sedang diperkarakan, membawa kegelapan bagi apa saja yang berbau keilmuan.
Semoga minat pada Kristologi dan Oksidentalisme yang tampak begitu marak di media sosial, terutama dengan munculnya banyak debat dan diskusi antar iman akhir-akhir ini, adalah langkah awal menuju minat akademik yang lebih serius. Hanya dengan debat yang sehat dan dialog yang kritis bangsa ini bisa naik kelas menjadi bangsa yang berpikir.
Bila melihat banyaknya kampus yang membuka jurusan sastra Barat, maka seharusnya Oksidentalisme tidak kekurangan sarjana dan calon sarjana. Mereka adalah penerus cita-cita para pendiri bangsa untuk menjadikan bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk bangsa Barat.
Maka Oksidentalisme adalah alat untuk memahami Barat, baik dan buruknya, bukan untuk menjadikan diri kita merasa rendah diri, misalnya, karena terlalu mengagumi kemajuan Barat modern. Karena hanya bangsa yang memiliki warwah dan harga diri yang tinggilah yang akan bisa menyamai bangsa-bangsa lain di dunia.
* Buni Yani, peneliti media, budaya, dan politik Asia Tenggara
Source: FB
