News Breaking
Live
update

Breaking News

Arabisme dan Muhammadanisme

Arabisme dan Muhammadanisme



KETIKA Rasulullah lahir, dalam catatan Steenbrink, kala itu ada lima gereja yang mengelilingi jazirah Arab. Gereja-gereja itu adalah : 

1. Gereja Bizantium, yakni gereja negara dari kekaisaran Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel. Pada saat itu, antara Konstantinopel dan Roma masih menyatu. Gereja Konstantinopel dipimpin para Imam Yunani sedangkan Gereja Roma dipimpin para Imam Latin. 

Alkitab gereja Bizantium menggunakan bahasa Yunani dan pandangan teologinya Trinitarian duofisit, yakni keyakinan bahwa ada dua hakikat dalam satu tubuh Yesus, yaitu hakikat ketuhanan dan hakikat kemanusiaan yang tidak bisa dipisahkan. Konsep Trinitas yang secara resmi disahkan dalam konsili Chalcedon (451 M). 

Pengikut kekristenan Bizantium dari kalangan bangsa Arab disebut Kristen Melkit (secara harfiah berarti seperti raja atau royal). Kelompok inilah yang pada tahun 614 M diusir dari Yerusalem oleh orang-orang Persia.
 
2. Gereja Nestorian menolak konsep trinitas rumusan Konsili Chalcedon. Nestorianisme berpendapat hakekat ketuhanan dan hakekat kemanusiaan dalam diri Yesus itu terpisah. Dengan cara pandang ini, Maria hanya melahirnya Yesus manusia bukan Yesus Tuhan, sehingga gelar yang tepat untuk Maria adalah Kristotokos (Bunda Kristus/Juru Selamat) bukan Teotokos (Bunda Tuhan) sebagaimana pandangan Katolik. 

Sebutan Isa anak Maryam lazim dikenal dalam gereja inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa Islam adalah perkembangan dari Nestorianisme. Pandangan Nestorius ini dianggap menyimpang, hingga akhirnya Nestorius dikeluarkan dari dewan Ephesus (431).

Perbedaan teologi ini menyebabkan Nestorianisme terus mendapatkan tekanan oleh gereja Bizantium, hingga akhirnya gereja ini berkembang di kalangan bangsa Persia yang memang majemuk secara keagamaan. 

Kitab suci dan peribadatan kaum Nestorian Nestorianisme tidak menggunakan Bahasa Persia melainkan Bahasa Aramaik yang diyakini sebagai bahasa tutur keseharian Yesus.  Bahasa ini dikenal juga sebagai Bahasa Suryani.

Kedekatan Bahasa dan juga persamaan persepsi tentang Maria dan sisi Yesus manusia ini mungkin yang menyebabkan Islam oleh beberapa kalangan merupakan pengembangan dari Nestorianisme, apalagi ada pertemuan paman Nabi dengan pendeta Bahira (Sergius) seorang penganut Nestorian, juga ada Waraqah bin Naufal, paman Khadijah r.a. yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai penganut Nestorian. 

3. Gereja Monofisit Suriah berpusat di wilayah Suriah Barat. Dalam pandangan kaum monofisit, hakikat kemanusiaan Yesus telah terserap kedalam hakikat keilahiannya, seperti setetes air dalam samudra luas. Karena, dalam diri Yesus Kristus, hanya ada satu hakikat saja, yakni hakikat ilahiah, sebagai Tuhan.

Gereja monofisit Suriah ini, kemudian dikenal dengan gereja Jacobite. Perbedaan lain dengan gereja Bizantium yang menerima konsili Chalcedon, gereja monofisit Suriah menggunakan Bahasa Aramaik sebagai Bahasa kitab suci dan liturgi. Jacob Baradeus, pendiri monofisit Suriah meninggal pada 578 M, atau ketika Muhammad berumur 8 tahun).

4. Gereja Koptik. Gereja Kristen ini tumbuh di kalangan patriark Alexandria di sekitar delta Nil. Sebagaimana diketahui bahwa Alexandria termasuk daerah basis Kristen mula-mula. Ia punya bahasa tutur sendiri, yakni bahasa Mesir kuno, yang dikenal dengan Bahasa Koptik yang juga menjadi bahasa alkitabnya, meski secara ada juga yang menggunakan dwibahasa Koptik - Yunani.

Tudingan bahwa gereja Koptik berpandangan monofisit menyebabkan Bizantium mengirimkan pasukan inquisitor untuk melakukan penghukuman. Para pemuka gereja Koptik mengalami penyiksaan yang luar biasa dan mereka yang meninggal dikenang sebagai martir.

Gereja Koptik sendiri menolak tuduhan itu, sebab dalam pandangannya dalam diri Yesus itu hanya satu kodrat (Physis) Ilahi-Manusiawi yang utuh dan bersatu dalam Yesus Kristus setelah inkarnasi, bukan dua kodrat terpisah (diofisitisme) atau hanya satu kodrat Ilahi (monofisitisme),

5. Kristen Abbesinia ini juga sering disebut Kristen Aksum atau Abbesinia dan berpusat di Abbesinia yang kini masuk wilayah Ethiopia. Kekristenan orang Ethiopia ini bermula dari persekutuan kekaisaran Abbesinia dengan Bizantium dalam menyerang Yaman.

Sebelum peristiwa poltik ini, Etiopia telah menerima pengaruh Kristen dari Mesir. Penguasa Yaman, Yusuf Dzu Nuwas yang tidak mau tunduk  pada Ethiopia memilih menggandeng Yahudi dan membunuh orang-orang Kristen di Najran dengan cara melemparkannya ke pasir untuk kemudian dibakar. 

Yaman akhirnya berhasil ditaklukkan Abbesinia. Menjelang kelahiran Nabi Muhammad, wilayah ini dipimpin oleh gubernur Abrahah yang tunduk pada kekaisaran Abbesinia sekaligus penganut gereja kristen Abbesinia yang beraliran monofisit. Gereja ini sudah mempunyai bahasa alkitab dan liturgi sendiri, yakni bahasa Gi’iz yang dipakai sejak abad ke 5 dan merupakan rumpun bahasa Ethiopik .

Dari uraian Steenbrink bisa disimpulkan kekristenan itu masih asing bagi dunia Arab, sebab dari kelima aliran gereja tersebut belum ada yang menancapkan struktur gerejanya di kawasan Arab.

Sebenarnya, upaya Kristenisasi Arab menurut Sir William Muir dalam The Life of Mahomet, sudah dimulain sejak abad kedua Masehi, akan tetapi selama lima abad upaya kristenisasi dari jalur Kristen Syiria dan Mesir, yang berhasil dikristenkan hanya terbatas pada bani Harits dari Najran, bani Hanifa dari Yamama dan beberapa bani Tayy di Taymr .

Jadi kesimpulan Steenbrink, sudah ada orang Arab yang beragama Kristen, akan tetapi belum ada Gereja Arab. Itu sebabnya, ketika Rasulullah Muhammad mendakwahkan Islam, pihak Kristen menyebut Rasulullah melakukan bidat dengan mendirikan Gereja Nasional Arab dengan alkitab yang berbahasa Arab, yang bukan terjemahan alkitab Kristen tapi wahyu langsung dari Tuhan. Karenanya, Islam dalam pandangan dunia Kristen bahkan sampai awal abad 20 masih disebut sebagai Arabisme atau Muhammadanisme. (*)


Sumber: Arif Wibowo, Facebook

Tags

Baca juga
artkel menarik lainnya.
Lainnya
Posting Lama